Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 23:17 WIB

Tentang Melakukan Sebab agar Datang Akibat

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 2 November 2018 | 00:03 WIB

Berita Terkait

Tentang Melakukan Sebab agar Datang Akibat
(Foto: Ilustrasi)

PAGI ini mari kita mengaji kepada Imam al-Ghazali yang legendaris dengan kitab Ihya'ulumiddinnya itu. Kali ini kita tengok kitab lainnya yang berjudul "Arba'in fii Ushuuliddiin" halaman 246.

Beliau menulis: "Banyak orang bodoh menyangka bahwa tawakkal itu adalah meninggalkan usaha, meninggalkan berobat, dan pasrah begitu saja pada hal-hal yang membahayakan dirinya. Yang begitu itu haram dan terlarang dalam syara'. Syara' sangat memuji tawakkal dan menganjurkannya. Bagaimana mungkin pujian atau anjuran itu bisa digapai dengan hal terlarang?"

Para sufi yang terus berjalan menuju Allah memberi peringatan agar berhati-hati betul dengan amaliah yang berkaitan dengan hati ini. Menurut mereka, wajiblah bagi kita dalam berbuat untuk melakukan sebab demi datangnya akibat dengan sebuah catatan pokok bahwa kita tidak "menuhankan" sebab itu, menggantungkan diri pada sebab itu.

Saat sakit, carilah dokter terbaik. Tapi janganlah mengatakan tanpa dokter itu saya tidak akan sembuh. Saat butuh biaya hidup, bekerjalah atau carilah kerja. Namun jangan berkata bahwa tanpa pekerjaaan itu maka kita tak akan hidup.

Saat ingin terpilih menjadi "sesuatu," berusahalah dengan berbagai cara yang dibolehkan. Namun jangan sampai menuhankan cara itu. Pada akhirnya, semua akibat atau hasil akhir itu 100% tergantung pada Allah. Tidak semua sebab itu melahirkan akibat yang diduga. Kadang Allah memberikan "kejutan" yang tak diduga.

Seorang anak lulusan SMA yang gagal masuk perguruan tinggi favorit itu menangis. Impiannya menjadi pengusaha terasa gagal saat fakultas ekonomi menolaknya menjadi mahasiswa. Nilai testnya tak memenuhi syarat. Akhirnya dia melamar menjadi petugas kebersihan di suatu perusahaan. Tugas tambahannya adalah "james bon" (jaga mesjid dan kebon) perusahaan. Apakah kesedihan atas kegagalannya berlanjut?

Direktur utama perusahaan begitu kaget dengan lantunan adzan anak ini, tak pernah didengar adzan seperti ini sebelumnya di perusahaan itu. Singkat cerita, anak tadi diajari menyetir mobil, naik pangkat menjadi pengantar barang. Lalu naik pangkat menjadi supir pribadi sang direktur. Lalu naik pangkat lagi menjadi menantu sang direktur. Kini, anak ini menjadi salah satu manager di perusahaan itu. Kisah nyata ini terjadi di Malang.

Ingin menjadi menantu direktur utama? Mendaftarlah menjadi petugas kebersihan dan "james bon." Hahaaa, salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x