Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 23:02 WIB

Aku Malu Memandang-Mu Ya Rob

Senin, 22 Oktober 2018 | 06:00 WIB

Berita Terkait

Aku Malu Memandang-Mu Ya Rob
(Foto: ilustrasi)

MEMPERHATIKAN (al-lahz) dapat dimaknai melihat secara sepintas lalu, memandang dengan cara mencuri-curi, sehingga yang dipandang tidak merasa bahwa dia sedang dipandang.

Mencuri-curi pandang ini memiliki tiga sebab, pengagungan dan keagungan yang dipandang sehingga yang memandang mencuri-curi pandangan ke arahnya serta tidak memandang dengan pandangan yang tajam sebagai sikap pengagungan kepadanya. Hal ini seperti yang dilakukan para sahabat terhadap Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallaam.

Mereka tidak pernah memandang dengan pandangan yang tajam terhadap beliau sebagai penghormatan dan pengagungan terhadap beliau. Ada sebab lain yang membuat orang yang memandang tidak berani memandang secara langsung kepada yang dipandang, yaitu takut terhadap pengaruh yang dipandang. Hal ini disebabkan oleh cinta, rasa malu, atau merasa lemah untuk memandang secara langsung. Inilah sebab umum dalam masalah ini.

Begitulah keadaan umum orang yang memperhatikan rububiyah Allah Ta'ala dengan hatinya, kesempurnaan Allah, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, kemurahan, kebaikan, serta karunia-Nya, maka hatinya akan mencuri pandang kepada Allah dan ia mempunyai ubudiyah (peribadatan) secara khusus.

Memperhatikan terbagi menjadi tiga derajat, antara lain memperhatikan karunia yang sudah ditetapkan sejak semula sehingga meninggalkan sikap meminta-minta dengan menampakkan kerendahan diri sesuai dengan hak rububiyah.

Memperhatikan bisa dengan mata dan bisa dengan hati, tapi yang dimaksudkan adalah yang kedua, yaitu memperhatikan dengan hati. Jadi, yang dimaksud dengan memperhatikan karunia yang sudah ditetapkan sejak semula ialah memperhatikan pemberian Allah Ta'ala yang sudah ditetapkan dalam takdir sebelum dikeluarkan ke dunia, sebagaimana firman-Nya:

Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka) (QS Al-Anbiya, 21:101)

Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi Rasul, (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang. (QS As-Saffat, 37: 171-173)

Masalah ini dapat dimaknai bahwa jika hamba melihat ketetapan yang telah ditakdirkan Allah sejak semula, yang berarti ketetapan itu pasti akan sampai kepadanya, maka hatinya menjadi tenang, jiwanya menjadi tentram, dan dia tahu bahwa musibah yang menimpa dirinya bukan suatu kesalahan takdir dan jika musibah tidak menimpanya maka memang bukan takdirnya.

Jika dia meyakini hal ini, dia akan merasakan manisnya iman kepada qadha dan qadar, lalu dia tidak akan menuntut kepada Allah SWT. Sebab, apa yang sudah ditetapkan di dalam qadar pasti akan sampai kepadanya.

[Ditulis ulang dari karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah]

Komentar

Embed Widget
x