Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 13 Desember 2018 | 08:36 WIB

Tips Menyikapi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

Selasa, 9 Oktober 2018 | 16:00 WIB

Berita Terkait

Tips Menyikapi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
(Foto: Inilahcom)

ADA yang bertanya, apa yang harus kita lakukan manakala harga-harga naik? Ustaz menjawab sebagai berikut: mudah mengeluh ketika sedang sulit merupakan salah satu karakter manusia.

Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan memiliki sifat halu, apabila dia sedang mengalami kesulitan, dia mudah berkeluh kesah, dan jika sedang mendapatkan kenikmatan, dia bersikap pelit. (QS. Al-Maarij: 19 21)

Ada beberapa keterangan yang bisa kita petik sebagai ketika terjadi kenaikan harga barang,

Pertama, sabarlah. Fenomena kenaikan harga barang bahkan pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Disebutkan dalam riwayat bahwa di zaman sahabat pernah terjadi kenaikan harga. Mereka pun mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyampaikan masalahnya. Mereka mengatakan,

"Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang."

Mendengar pengaduan itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab,

"Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta." (HR. Ahmad 12591, Abu Daud 3451, Turmudzi 1314, Ibnu Majah 2200, dan dishahihkan Al-Albani).

Kedua, yakinlah bahwa kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorang. Bagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun, masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki mereka.

Allah menyatakan,

"Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS. As-Syura: 27)

Ibnu Katsir mengatakan,

"Maksud ayat, Allah memberi rezeki mereka sesuai dengan apa yang Allah pilihkan, yang mengandung maslahat bagi mereka. Dan Allah Maha Tahu hal itu, sehingga Allah memberikan kekayaan kepada orang yang layak untuk kaya, dan Allah menjadikan miskin sebagian orang yang layak untuk miskin." (Tafsir Alquran al-Adzim, 7/206)

Terkait dengan hal ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya agar jangan sampai mereka merasa rezekinya terlambat atau jatah rezekinya serat. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram." (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)

Satu catatan yang penting dipahami, hadis ini bukan untuk memotivasi agar anda tidak bekerja atau meninggalkan aktivitas mencari rezeki. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan demikian, tujuannya agar manusia tidak terlalu ambisius dengan dunia, sampai harus melanggar yang dilarang syariat. Kemudian ketika terjadi musibah, manusia tidak sedih yang berlebihan, apalagi harus stres.

Jaga salat, semahal apapun harga pangan, Allah menjamin rezeki anda,

Allah berfirman, "Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga salat. Aku tidak meminta rizki darimu, Aku yang akan memberikan rezeki kepadamu. Akibat baik untuk orang yang bertaqwa." (QS. Thaha: 132)

Setelah itu, banyak-banyaklah beristighfar dan mengucap innalillahi wa ina ilaihi rajiuun. Berdoalah semoga kita diberi pemimpin yang peduli kepada rakat, bukan yang hanya bisa menjadikan nasib rakyat sebagai pemanis bibir. Yakinlah, bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Allahu alam. []

Komentar

Embed Widget
x