Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 19 Oktober 2018 | 07:30 WIB

Tafsir Bencana

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 1 Oktober 2018 | 12:49 WIB

Berita Terkait

Tafsir Bencana
(Foto: istimewa)

TADI pagi saya menyampaikan kuliah subuh tentang Tafsir Bencana di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Beberapa ayat dan hadits kita kaji maknanya untuk mencari tahu titik kuat dan lemahnya beragam pendapat ulama dalam membaca bencana.

Di negeri kita, setiap bencana memiliki kecenderungan besar untuk dibaca sebagai adzab, siksa atau hukuman Tuhan bagi masyarakat pendosa. Di tahun politik seperti kini, setiap bencana dihubungkan dengan Pilpres dan kondisi sosial politik lainnya. Bacalah media sosial, begitu ramainya model pembacaan bencana seperti yang saya sebutkan di atas.

Ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan bencana. Memang ada yang langsung menyebutnya sebagai adzab sebagaimana adzab yang ditimpakan pada umat pembangkang pada masa lalu. Mereka menyebut bahwa ada 'alaqah (hubungan) antara bencana dengan kemaksiatan penduduk.

Pandangan seperti ini bukan tanpa kritik. Pertama, lalu bagaimana dengan wilayah dan negara lain yang lebih terang benderang kemungkaran dan kemaksiatan di dalamnya. Mengapa tidak wilayah itu yang mengalami gempa dan bencana? Kedua, ayat tentang kaum masa lalu itu adalah di masa dakwah awal yang ditantang dan di tolak. Kini, masa dan model penyebaran Islam tidaklah seperti zaman dulu yang jelas memusuhi nabi dan syariatnya.

Maka muncul beberapa ulama lainnya yang menafsirkan bencana dengan tafsir yang lebih saintifik dengan menyebut gempa dan bencana sebagai dzahirah kawniyyah (fenomena alam) biasa. Bencana bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan alam. Tentang ini, sungguh membutuhkan banyak lembaran untuk membahas hal ini. Lalu, tak ada kaitan sama sekalikah antara bencana dengan perilaku keseharian manusia?

Muncul pandangan yang menurut hemat saya menengahi semuanya, yaitu bahwa bencana atau gempa itu adalah balasan siksa bagi pendosa, ujian bagi orang yang shalih dan pelajaran bagi orang yang selamat. Pandangan seperti ini sungguh fair. Ada banyak orang alim dan shalih yang menjadi korban bencana dan gempa di Lombok dan Palu. Mereka bukan pendosa. Bagi mereka, musibah ini adalah ujian, termasuk untuk keluarganya.

Lebih dari itu semua, bukan diakui semacam ini yang paling dibutuhkan. Yang paling diharap adalah doa dan bantuan kita. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x