Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 16 November 2018 | 16:53 WIB

Pilih Mana, Pintu Beramal atau Pintu Berdebat?

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 21 September 2018 | 00:04 WIB

Berita Terkait

Pilih Mana, Pintu Beramal atau Pintu Berdebat?
(Foto: ilustrasi)

BAHWA diskusi atau perdebatan untuk menemukan solusi itu penting adalah sesuatu yang bisa kita sepakati. Namun jika porsi diskusi dan perdebatan itu melampaui ukuran normal, yakni jauh lebih banyak dari porsi beramal maka bukan tidak mungkin bahwa hasil akhirnya adalah sengketa, pertengkaran dan kebencian.

Menjadi merisaukan bagi kebanyakan para pengamat bijak saat melihat bahwa sengketa, perdebatan dan kebencian karena perdebatan itu dianggap oleh masyarakat umum sebagai tontonan yang mengasyikkan, menjadi perbincangan publik yang menguras perhatian dan tenaga. Perhatian pada kebaikan dan tenaga untuk berbuat kemaslahatan menjadi ternafikan, kalah populer, kalah viral, dengan urusan sengketa dan kebencian itu.

Lihatlah isi media kita, baik media massa atau media sosial yang ada. Konten perdebatan menjadi yang paling populer bukan? Ceramah di youtube yang isinya lurus mengajak kebaikan tak begitu banyak yang melihat dan menyukai.

Tapi lihatlah jika isinya menyalah-nyalahkan orang, menantang dan menghina kelompok lain maka bisa dipastikan menjadi trending alias viral. Maka teringatlah saya pada dawuh ulama legendaris Syekh Ma'ruf al-Karakhi dalam kitab Hilyatul Awliya' juz 8 hal. 361: "Kalau Allah menghendaki kejelekan pada seorang hamba maka Allah tutupkan baginya pintu amal dan dibukakan baginya pintu debat."

Bagi yang kurang paham bahasa Indonesia, berikut terjemahan bahasa Inggrisnya, "When Allah chooses evil for a person He closes the door to good deeds and opens the door of debate/ argumentation"

Bagi yang masih belum paham, berikut terjemahan bahasa Maduranya: "Manabi Allah kasokan adaddiyagi kataksaan ka sttong kabhula, maka Allah notop labhang kalakowan sa ajengah orng jhenika ban mokka'agi labhang acatordebat."

Kini, cobalah kata "seorang hamba" kita ganti dengan "sebuah lembaga" atau "sebuah bangsa," maka kita akan bisa membaca arah lembaga dan bangsa kita ini dengan membandingkan lebih banyak mana antara berdebat dan berbuat. Mari kita berbuat dengan tulus, insyaAllah selalu ada jalan menuju kemajuan dan kebaikan. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x