Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 21 Oktober 2018 | 15:22 WIB

Kisah Pendeta Suci Bashisha dan Jebakan Iblis

Kamis, 6 September 2018 | 13:00 WIB

Berita Terkait

Kisah Pendeta Suci Bashisha dan Jebakan Iblis
(Foto: ilustrasi)

ALKISAH di zaman dahulu ada seorang pendeta yang bernama Bashisha. Ia dikenal sebagai ahli ibadah yang tekun dan tidak mengenal lelah. Seluruh waktunya ia curahkan untuk beribadah kepada Allah.

Memang hal ini dibenarkan oleh ajaran agamanya. Ia juga dikenal sebagai orang yang baik dan terpuji di masyarakatnya. Banyak sekali orang yang datang kepadanya untuk meminta petuah dan nasehat agar mereka terbebas dari kesusahan dan derita. Karena konon orang suci seperti Bashisha banyak mendapatkan karamah yang dapat digunakan untuk kebaikan bersama.

Namun Iblis adalah makhluk yang paling benci kepada orang yang melakukan ruku' dan sujud. Melihat hal itu hati Iblis mendidih panas. Segala upaya kemudian ia lakukan untuk menggoda sang pendeta, tapi sang pendeta tetap bertahan pada ketaatannya. Ia tetap melakukan ibadah siang dan malam.

Syahdan, pada suatu hari terdapat empat saudara yang tinggal tak jauh dari tempat tinggal Bashisha. Empat saudara itu terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan. Suatu hari ketiga laki-laki tersebut mendapat panggilan untuk mengikuti jihad fi sabilillah (berperang di jalan Allah). Dan ketiganya merasa terpanggil untuk berangkat ke medan laga. Namun timbul persoalan bagaimana dengan adik perempuan mereka satu-satunya itu yang harus mereka tinggalkan?

Akhirnya tiga laki-laki ini sepakat untuk menitipkan saudara perempuan satu-satunya tersebut kapada pendeta suci Bashisha. Kemudian mereka bertiga mendatangi Bashisha di rumahnya. Ketiganya lalu terlibat percakapan dengan sang pendeta.

"Wahai pendeta suci Bashisha, kami bertiga terpanggil untuk jihad fi sabilillah, tapi kami mempunyai satu saudara perempuan dan kami bermaksud menitipkannya kepada tuan pendeta," pinta mereka. "Maaf saya tidak mampu. Tolong titipkan saja kepada orang lain," jawab sang pendeta. "Kami telah mencari orang di seluruh wilayah ini yang patut dan aman untuk menjaga saudari kami ini, dan pilihan kami tidak lain adalah tuan pendeta, maka mohon jangan di tolak permintaan kami ini."

Awalnya pendeta Bashisha amat berat menerima permohonan ini, tetapi dikarenakan iba dan rasa baik hatinya, dengan niat menolong orang lain, maka amanat itu pun diterima semampunya.

"Kalau begitu, permohonan kalian saya terima, dan wanita itu akan saya tempatkan dalam kuil kecil, disamping kuil saya. Mudah-mudahan terpelihara, karena tidak ada orang yang dapat masuk kuil itu tanpa seizin saya," jelas pendeta. Mendengar permohonan mereka dikabulkan, senanglah hati ketiga pemuda tersebut. Dan dengan penuh kepercayaan akan jaminan rasa aman, mereka pun bergegas pulang untuk membawa sang adik menghadap pendeta Bashisha.

Awalnya, Bashisha memang tidak mempunyai perasaan apa-apa kecuali keikhlasan untuk menolong saja. Ia pun tetap menjalankan rutinitas ibadahnya dengan tekun sambil menjaga wanita itu. Bashisha senantiasa manjaga dan mangawasi wanita itu dari dalam rumahnya. Sementara si perermpuan ditempatkan di kuil kecil yang letaknya berdekatan dengan kuilnya.

Iblis mulai mencium keadaan ini dan seolah mempunyai semangat kembali untuk menjebak Bashisha. Iblis mulai melancarkan aksinya. Akan tetapi segala bujuk dan rayunya tersebut untuk sementara dapat ditangkis oleh Bashisha dengan penolakan superaktif, sehinggah Iblis tambah jengkel dan kewalahan.

Tetapi memang telah menjadi sifat Iblis pantang menyerah, karena mereka adalah jenis makhluk yang cukup lihai melakukan serangan dari berbagai arah dengan menggunakan beribu jurus. Kali ini mereka datang dengan membujuk pendeta bukan dengan cara mengajak lagsung, akan tetapi dengan bujukan halus yang seolah menunjukan kepada pendeta tentang rasa tanggungjawab yang besar setelah di beri amanah. Iblis terus-menerus membisikan mantra-mantra bujuk rayunya ke dalam dada pendeta.

Iblis : "Bukankah pendeta ini orang yang diberikan amanat, masa sudah sekian hari belum melihat wanita itu?"

Pendeta : "Ah, dia kan wanita? saya tidak boleh melihatnya."

Iblis : "Melihat yang dimaksud bukan dengan syahwat, tetapi melihat keadaan gadis tersebut. Masa dititipi kok mengabaikan begitu saja?"

Pendeta : "Benar, saya harus bertanggungjawab. Saya harus melihat keadaannya, layak atau tidakkah tempat itu untuk dia?"

Iblis : "Memang orang yang memegang amanah harus tahu keadaan sesuatu yang diamanatkan kepadanya. Ia tinggal di posisi mana? Bagaimana tempat tidurnya layak atau tidakkah buatnya, dan lain-lain he... he..."

Bujukan Iblis mulai memenuhi rongga dada sang pendeta, dan tanpa sadar Bashisha mulai meninggalkan kuilnya dan pergi untuk melihat kuil kecil, di mana terdapat wanita yang dititipkan oleh para saudaranya kepada pendeta itu.

Dag dig dug.... hati pendeta pun berdegub kencang, manakala semakin mendekati kuil kecil itu. Setelah sampai di depan kuil, Sang pendeta kemudian mengetuk pintu. Tok...tok...tok... suara pintu diketuk oleh sang pendeta. Pintu lalu di buka oleh sang wanita yang ada di dalam. ketika pintu terbuka, kedua pasang mata tanpa sadar saling bertabrakan.

Aneh, sejak peristiwa itu terjadi pendeta Bashisha menjadi sulit untuk melupakan wajah sang wanita. Memang saat itu ia dengan cepat meninggalkan kuil kecil tersebut, dengan maksud untuk menghindari bertatapan lama dengan wanita itu.

Namun Iblis memang makhluk yang super licik, Ia kemudian menghembuskan terus-menerus di kepala Bashisha tentang kecantikan dan kemolekan gadis yang baru saja dilihatnya. Angan-angan pendeta Bashisha melambung tinggi, Sehingga setiap malam ia menjadi sulit memejamkan mata. Dia sulit tidur bukan karena berdoa atau berzikir kapada allah SWT, namun dikarenakan membayangkan wajah sang gadis yang cantik dan tidak dapat dia lupakan.

"Ha...ha....ha..., Iblis mulai berteriak gembira, karena merasa mulai ada celah untuk menggoda pendeta yang dahulu sangat taat beribadah. Lantas Iblis pun berbisik kembali ke hati Bashisha, "Hai pendeta, bukankah engkau orang yang diamanati untuk menjaga wanita itu. Tentunya engkau harus dapat menghiburnya, ajaklah dia bercakap-cakap, jika perlu engkau harus tahu apa selera makanannya agar engkau dapat menyajikan yang terbaik untuknya, ingat Bashisha.., ini Amanat he...he..."

Dengan mudah bujukan halus itu diterima kembali oleh Bashisha. Bahkan pedeta merasa tidak dibujuk, tapi solah merasa diingatkan akan tanggungjawab dan amanat yang dipikulnya. Lalu setelah melihat usahanya tidak sia-sia, Iblis terus menyusun tahap-tahap bujukan selanjutnya.

Pendeta jadi semakin sering bertemu dengan wanita itu. karena sering bertemu dan bercakap-cakap, Pandangan mata itu pun turun ke hati, dan lantas ..... ke farji. Hawa nafsu telah benar-benar merasuki kedua umat manusia tersebut, sampai pada akhirnya keduanya berbuat zina. Wanita itu pun lalu mengandung dan melahirkan anak.

Apakah sampai disini saja? Ternyata tidak. Iblis akan terus menjerumuskan manusia sampai kesucian manusia itu betul-betul hancur. Kemudian Iblis yang telah menguasai diri Bashisha memberi gambaran dan perasaan takut pada Bashisha bahwa apabila perbuatannya itu diketahui orang dan jika ketiga pemuda itu datang mengambil saudara perempuanya, wanita itu kini telah melahirkan seorang bayi. Perasaan takut ini terus merongrong sang pendeta.

Sang pendeta menjadi bingung, Sehingga dengan mudah Iblis memasukan pikiran jahatnya. Pendeta Bashisha dibujuk untuk mengambil jalan pintas, " Bunuh saja wanita itu!" Demikian perintah Iblis kapadanya. Bahkan Iblis telah menyiapkan argumen untuknya apabila ketiga pemuda tersebut menanyakan saudaranya. "Katakan saja kepada mereka bahwa Wanita itu telah mati. Bukankah kau orang yang dapat dipercaya? pasti mereka akan mempercayainya!"

Tanpa pikir panjang sang pendeta melaksanakan apa yang telah direncanakan Iblis tersebut. Dia pun membunuh perempuan itu beserta bayinya. Lantas mayatnya dikubur dalan satu lubang yang ditutup dengan batu. Untuk sesaat pendeta tersebut merasa lega.

Dugaan sang pendeta ternyata benar. Setelah jihad fi sabilillah usai. Ketiga pemuda tersebut menghadap pendeta untuk mengambil amanat yang dititipkan padanya. Namun dengan berpura-pura menangis sedih, pendeta menjawab bahwa perempuan yang dititipkan itu telah mati menghadap Allah SWT. Ketiga pemuda itu percaya saja dengan cerita sang pendeta. Mereka pun ikut menangis sejadi-jadinya, dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Ketiga pemuda itu pulang dengan perasaan sangat sedih. Karena dirundung kesedihan, dalam perjalanan pulang ketiga pemuda tersebut tidak bercakap-cakap satu sama lain. Mereka semua terdiam dan larut dalam perasaan sedih dan bersalah yang amat sangat.

Sesampainya di rumah, ketiga pemuda itu tidur di tempat yang berlainan, tapi masih dalam satu rumah. Mereka masih saling membisu. Belum ada percakapan dan komunikasi antara mereka. Tiba-tiba salah seorang dari mereka terbangun dari tidur, Karena dia bermimpi bahwa saudara perempuan mereka mati karena dibunuh oleh sang pendeta dan dikuburkan di lubang yang berada di dekat kuil.

Dia lalu menceritakan mimpinya kepada salah satu saudaranya. Namun aneh, saudaranya juga mengalami mimpi yang sama. Keanehan kembali terjadi ketika kedua saudara tersebut bercerita pada saudaranya yang lain. Ternyata dia pun mengalami mimpi yang sama, yaitu adiknya dibunuh oleh sang pendeta dan jasadnya dikubur di dekat kuil.

Ketiga pemuda tersebut sepakat untuk kembali ke rumah pendeta dan langsung menuju ke lubang yang dicurigai sesuai petunjuk mimpi mereka. Dan ketika batu yang menjadi tutup lubang tersebut mereka buka bersama. Terlihat jasad wanita itu beserta bayinya sudah dalam keadaan tidak bernyawa dan mengenaskan, isyarat mimpi mereka ternyata benar.

Karena dibakar oleh kemarahan dan dendam mereka pun lalu mencari sang pendeta. Bashisha yang kedoknya telah terbongkar menjadi bingung dan berusaha kabur. Dalam puncak kebingungan dan kondisi terdesak ini sebetulnya Bashisha ingin bertaubat dan mengakhiri perbuatan dosanya. Dia pun berusaha kembali beribadah dan mohon ampunan.

Namun dasar Iblis, ia adalah makhluk yang licik yang mempunyai beribu jurus dan cara. Ia terus saja merongrong doa dan ibadah Bashisha yang tidak lagi khusyuk. Dalam kondisi terdesak seperti itu, Iblis dengan mudah membisikkan sesuatu ke hati Bashisha yang bingung.

Iblis : "Maukah engkau aku selamatkan?"

Bashisha :"Mau, dan imbalan apa saja aku bersedia menebusnya."

Iblis : "Apakah engkau mau bersujud dan menyembahku?"

Bashisha :"Mau, asal aku selamat!!"

Bashisha pun menuruti semua perintah Iblis yang meminta untuk menyembahnya. Bashisha yang dulu menyembah Allah, jadilah kini sebagai seorang penyembah Thagut.

Melihat kondisi Bashisha yang tak berdaya itu, Iblis dengan bangga berteriak, "Ha..ha..ha.., disinilah keistimewaanku yang luar biasa. Penyembah Allah yang setia itu bisa berubah dan dia kini menjadi tuduk dan sujud sebagai penyembahku..!!"

Kisah tersebut menunjukan bagaimana liciknya Iblis dalam menggoda orang yang dianggap suci melalui beberapa tahapan yang memang sudah dipersiapkan. Iblis pun berhasil membujuk seorang pendeta yang semula sangat taat pada Allah kemudian berbalik melakukan serentetan tindak kejahatan yang dilarang Allah. Hingga akhirnya dia meninggalkan Allah sebagai sesembahannya dan berpaling kepada Iblis.[ ]

Sumber: Kejujuran Iblis Kepada Rasulullah SAW. Oleh: DRA. Hj. Durrah Baradja, SH., M.Hum. Hal. 67-79

Komentar

Embed Widget
x