Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 17 November 2018 | 10:36 WIB

Luar Biasa, Cara Ali Minta Maaf kepada Rakyat

Rabu, 29 Agustus 2018 | 10:00 WIB

Berita Terkait

Luar Biasa, Cara Ali Minta Maaf kepada Rakyat
(Foto: ilustrasi)

PEREMPUAN paruh baya itu seketika lega. Beban segentong air yang sedari tadi memberati langkahnya sampai ke rumah, seketika sirna. Seorang lelaki yang tak dia kenal baru saja menawarkan diri mengangkatnya.

Begitu sampai di rumah, anak-anak perempuan itu menyambut di pintu rumah. Mereka ikut senang ada lelaki yang berbaik hati menolong ibu mereka.

"Sepertinya di rumah ini tidak ada yang dapat membantu Anda membawakan air. Di mana bapak dari anak-anak ini?" Lelaki itu bertanya sambil meletakkan gentong air di salah satu sudut rumah.

"Suami saya seorang prajurit yang gugur ketika dikirim oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ke wilayah perbatasan. Kini, hanya saya seorang diri yang menemani anak-anak," kata sang ibu lirih.

"Tidak lagi bu," kata laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya. Ia pamit, pergi dengan membawa pikiran tentang anak-anak yatim itu dan ibunya yang hampir tak berdaya. Karena pikirannya itu, ia sulit tidur pada malam itu. Ketika matahari mulai terbit, ia mempersiapkan sekeranjang makanan yang berisi sejumlan potong daging, tepung dan kurma. Setelah semuanya siap, ia pergi kembali ke rumah anak-anak yatim itu. Setelah mengetuk pintu, ibu itu datang membukakan pintu rumahnya.

"Siapa Anda?" tanya sang ibu.

"Saya orang yang membawakan gentong air Anda kemarin. Saya ke sini membawa beberapa makanan untuk anak-anak Anda."

"Semoga Tuhan mengasihi Anda dan memberikan kita semua berkah sebagaimana yang diberikan kepada Amirul Mukminin," kata perempuan itu sambil mempersilahkan laki-lak itu masuk.

Di dalam rumah, lelaki itu menawarkan bantuan lain. "Saya ingin sekali berbuat baik. Izinkanlah saya membuat roti dari adonan tepung atau membantu menemani anak-anak ini."

"Terima kasih banyak atas perhatian Anda. Karena saya dapat membuat adonan roti dan memasak, Anda cukup menemani anak-anak hingga saya selesai memasak."

Perempuan itu ke dapur memulai membuat adonan. Sedangkan laki-laki itu memanggang beberapa potong daging untuk dijadikan makanan bagi anak-anak.

"Nak, maafkanlah Ali jika ia telah melalaikan kewajibannya dalam memperhatikanmu," kata laki-laki itu kepada tiap anak yang ia suapi dengan tangannya.

Adonan roti siap dibakar. Sang ibu memanggil laki-laki itu, "Tolong nyalakan api di tungku."

Laki-laki itu menuju ke tungku menyalakan api. Ketika api mulai membesar, ia dekatkan wajahnya ke api yang menyala itu dan berkata, "Rasakan panasnya api. Beginilah ganjaran bagi siapa saja yang melalaikan kewajibannya dalam memperhatikan janda dan anak yatim."

Secara kebetulan masuklah seorang perempuan dari tetangga sebelah. Ketika memperhatikan wajah laki-laki yang sibuk membantu di dapur, perempuan itu berkata pada sang ibu, "Ya Tuhan, apakah Anda tidak mengenal siapa laki-laki yang sedang membantu Anda? Dia adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib."

Seakan tak percaya, ibu itu mendekati laki-laki itu pelan, menangis dan berkata dengan rasa malu, "Betapa malunya dan terkutuknya saya. Saya mohon maafkanlah kami."

"Tidak," kata Amirul Mukminin, "sayalah yang seharusnya memohon maaf karena telah melalaikan kewajiban saya terhadap kalian." [islamindonesia]

Komentar

Embed Widget
x