Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 18 Desember 2018 | 22:13 WIB

Kontroversi Hukum Mengazankan Bayi Baru Lahir

Minggu, 26 Agustus 2018 | 07:00 WIB

Berita Terkait

Kontroversi Hukum Mengazankan Bayi Baru Lahir
(Foto: ilustrasi)

MASALAH azan di telinga bayi ini adalah masalah khilafiyah, ada sebagian yang memandangnya mustahab dan sunah, dimana sebenarnya cukup banyak ulama yang berpendapat sunahnya azan di telinga bayi. Karena urusan sahih tidaknya hadis adalah masalah yang masih diperdebatkan di antara para ahli hadis sendiri.

Namun tidak bisa dipungkiri ada juga tidak mau mengazani bayi yang baru lahir, dengan beberapa alasan. Yang paling masuk akal karena dianggapnya tidak ada hadis sahih bisa dijadikan dasar. Sekilas pandangan ini bisa diterima, walaupun kalau kita kaji lebih dalam, sebenarnya pendapat ini masih kurang lengkap dan terburu-buru mengambil kesimpulan. Setidaknya para ulama masih berbeda pendapat atas hukumnya. Selain itu ada alasan yang tidak bisa diterima syariah, yaitu pandangan yang sampai kepada vonis bahwa mengazani bayi itu haram dan bidah, dengan alasan bahwa adzan itu hanya untuk memanggil orang salat.

Kenapa pandangan yang seperti itu tidak bisa diterima syariah? Karena ternyata sebagian ulama, khususnya para ulama dalam mazhab Asy-Syafiiyah memandang bahwa selain berfungsi untuk memanggil orang-orang untuk salat berjemaah, azan juga boleh dikumandangkan dalam konteks di luar salat. Dr. Wahbah Az-Zuhaily, ulama ahli fiqih kontemporer abad 20 menuliskan dalam kitabnya Al-Fiqhul Islami Wa Adillathu bahwa selain digunakan untuk salat, azan juga dikumandangkan pada beberapa even kejadian lainnya. Dan salah satunya adalah untuk mengazan bayi yang baru lahir.

Bukankah Hadis Azan Bayi Itu Tidak Sahih?

Kalau kita belajar syariat Islam lewat kaidah yang benar, khususnya lewat ilmu fiqih dan ilmu ushul fiqih, sekadar ada klaim bahwa sebuah hadis itu tidak sahih, sebenarnya tidak cukup untuk menarik kesimpulan bahwa sebuah perbuatan itu bidah. Mengapa? Banyak orang kurang mengerti bahwa sahih tidaknya suatu hadis itu sendiri cuma hasil 'rekayasa' manusia biasa. Kesahihan suatu hadis itu bukan wahyu, sama sekali bukan datang dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau tidak pernah menetapkan suatu hadis itu sahih atau tidak sahih. Malaikat Jibril pun tidak memberikan informasi tentang sahih tidaknya suatu hadis.

Lalu kalau bukan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, siapa yang boleh dan berhak menentukan kesahihan suatu hadis? Jawabnya adalah para ahli hadis, yang dalam hal ini sering disebut sebagai muhaddits. Mereka adalah manusia biasa yang ketika memfatwakan suatu hadis, sama sekali tidak menggunakan wahyu melainkan semata-mata menggunakan akal. Jadi sahih tidaknya suatu hadis semata-mata merupakan hasil ijtihad akal semata. Dan salah satu buktinya ternyata kesahihan suatu hadis agak jarang disepakati oleh para muhaddits. Yang paling sering terjadi adalah suatu hadis disahihkan oleh satu muhaddits, sementara ada sekian muhaddits lain tidak mensahihkan. Begitu juga sebaliknya, satu hadis dianggap daif oleh satu muhaddits, sementara di tempat lain ada puluhan muhaddits mensahihkannya.

Maka sebagai orang awam yang baru berkenalan dengan agama Islam, wajib hukumnya mengetahui dasar-dasar ilmu hadis, agar jangan sampai malah jadi penyesat umat Islam dengan pemahaman yang dangkal dan menampakkan kekosongan ilmu agama.

Ulama Syariah Sangat Mengerti Hadis

Kalau kita mau tahu siapakah ulama hadis yang paling tinggi derajat keilmuannya, ternyata bukan Bukhari atau Muslim. Melainkan para ulama empat mazhab, yaitu Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi'i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah. Kenapa mereka lebih tinggi derajat keilmuannya dari Bukhari dan Muslim? Jawabnya karena ilmu yang mereka miliki bukan sebatas mengetahui apakah suatu hadis itu sahih atau tidak. Tetapi lebih jauh dari itu, mereka juga menyusun kaidah dan ketentuan, kapan suatu hadis bisa diterapkan untuk satu kasus dan kapan tidak bisa diterapkan. Dan tolok ukurnya bukan semata kesahihan, tetapi ada lusinan pertimbangan lainnya. Maka para fuqaha dan mujtahid itu lebih tinggi dan lebih luas ilmunya dari sekedar menjadi ulama muhaddits biasa.

Hadis-hadis Tentang Azan di Telinga Bayi

Setidaknya ada tiga hadis yang menjadi dasar masyru'iyah dalam melantunkan azan untuk bayi yang baru lahir.

1. Hadis Pertama

Abu Rafi meriwayatkan: Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengazani telinga Al-Hasan ketika dilahirkan oleh Fatimah. (HR. Abu Daud, At-Tirmizy dan Al-Hakim) Secara status hadis, Al-Imam At-Tirmizy menegaskan bahwa yang beliau riwayatkan itu adalah hadis hasan sahih. Demikian juga Al-Imam Al-Hakim menyebutkan kesahihan hadis ini juga. Al-Imam An-Nawawi juga termasuk mensahihkan hadis ini sebagaimana tertuang di dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab.

2. Hadis Kedua

Orang yang mendapatkan kelahiran bayi, lalu dia mengazankan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, tidak akan celaka oleh Ummu Shibyan. (HR. Abu Yala Al-Mushili)

Ummu shibyan adalah sebutan untuk sejenis jin yang mengganggu anak kecil. Hadis inilah yang dijadikan titik perbedaan pendapat. Sebagian ulama hadis menerima hadis ini meski ada kelemahan. Al-Imam Al-Baihaqi sendiri memang mengatakan bahwa dalam rangkaian perawinya ada kelemahan. Namun beliau justru menggunakan hadis yang ada kelemahan ini sebagai penguat atau syawahid dari hadis sahih lainnya.

Walhasil sebenarnya kalau pun hadis ini dianggap daif dan tidak bisa dijadikan dasar pengambilan hukum, tentu tidak mengapa. Sebab masih ada hadis lain yang sahih dan disepakati ulama kesahihannya. Posisi hadis yang lemah ini sekedar menjadi syawahid saja. Sedangkan Al-Albani bukan hanya mendaifkan tetapi malah bilang bahwa hadis ini palsu (maudhu'), di dalam kitab Silsilah Ahadits Adh-Dha'ifah maupun dalam kitab Al-Irwa' Al-Ghalil. Dan hanya berdasarkan kepalsuan hadis ini, hukum azan di telinga bayi pun juga dianggap bidah dan terlarang.

3. Hadis Ketiga

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melantunkan azan di telinga Al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan, dan melantunkan iqamah di telinga kirinya. (HR. Al-Baihaqi) Inti dari masalah ini, ternyata para ulama ahli hadis sendiri berbeda pendapat tentang status kesahihan masing-masing hadis. Dan mereka juga berbeda pendapat tentang apakah bisa digunakan sebagai dasar hukum atau tidak.

Pendapat yang Mendukung Azan di Telinga Bayi

1. Ulama Mazhab Empat. Umumnya para ulama di dalam mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah menyunahkan azan untuk bayi yang baru lahir, yaitu pada telinga kanan dan iqamat dikumandangkan pada telinga kirinya. Selain mazhab Asy-Syafiiyah, umumnya ulama tidak menyunahkannya, meski mereka juga tidak mengatakannya sebagai bidah. Mazhab Al-Hanafiyah menuliskan masalah azan kepada bayi ini dalam kitab-kitab fiqih mereka, tanpa menekankannya. Namun mazhab Al-Malikiyah memkaruhkan secara resmi dan mengatakan bahwa azan pada bayi ini hukumnya bidah. Walau pun ada sebagian ulama dari kalangan Al-Malikiyah yang membolehkan juga.

2. Pendapat Umar bin Abdul Aziz. Diriwayatkan daam kitab Mushannaf Abdurrazzaq bahwa Umar bin Abdul Aziz apabila mendapatkan kelahiran anaknya, beliau mengazaninya pada telinga kanan dan mengiqamatinya pada telinga kiri.

3. Pendapat Ibnu Qudamah. Ibnu Qudamah sebagai salah satu ikon ulama mazhab Al-Hanabilah menuliskan tentang masalah ini di dalam kitab fiqihnya yang fenomenal, Al-Mughni. Sebagian ahli ilmu berpendapat hukumnya mustahab (disukai) bagi seorang ayah untuk mengumandangkan azan di telinga anaknya ketika baru dilahirkan.

4. Pendapat Ibnul Qayyim. Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menuliskan dalam kitabnya, Tuhfatul maudud bi ahkamil maulud, bahwa azan pada telinga bayi dilakukan dengan alasan agar kalimat yang pertama kali didengar oleh seorang anak manusia adalah kalimat yang membesarkan Allah Ta'ala, juga tentang syahadatain, dimana ketika seseorang masuk Islam atau meninggal dunia, juga ditalqinkan dengan dua kalimat syahadat.

5. Pendapat Syeikh Abdullah bin Baz. Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ketika ditanya tentang mengazani bayi pada telinga kanan dan mengiqamati pada telinga kiri, beliau menjawab sebagaimana tertuang dalam situsnya: Ini perbuatan masyru' (disyariatkan) menurut pendapat semua ahli ilmu dan memang ada dasar hadisnya, meskipun dalam sanadnya ada perdebatan. Tetapi bila seorang mukmin melakukannya maka hal itu baik, karena merupakan bagian dari pintu sunah dan pintu tathawwu'at.

Pendapat Yang Tidak Membolehkan

Umumnya semua pendapat yang tidak membenarkan azan di telinga bayi kalau kita runut kembali kepada satu tokoh, yaitu Nashiruddin Al-Albani, sebagaimana yang tertunang dalam kitab Silsilah dan Irwa' di atas. Sejatinya beliau bukan ulama syariah (fiqih) dan sebenarnya ilmu hadisnya agak sedikit diperdebatkan di kalangan guru besar hadis masa kini. Tentu saja selalu ada murid-muridnya yang selalu membela gurunya dan kebetulan beliau rajin menulis buku.

Kebetulan pula oleh para murid dan pembelanya, tulisan-tulisannya banyak diupload di internet dan memenuhi mesin pencari Google. Sehingga kalau ada orang awam yang tidak mengerti syariah mencari dengan Google, tulisan-tulisan yang membela pendapat Al-Albani terasa lebih dominan. Di luar masalah perbedaan pendapat antara yang mendukung azan dan tidak mendukung, ada satu hal yang perlu kita perhatikan, yaitu hati-hati belajar agama Islam lewat internet atau Google.

Internet itu teknologi buatan manusia, fungsinya memang luar biasa karena bisa menyatukan begitu banyak manusia di dunia ini lewat alam maya. Dan Google sendiri adalah sebuah 'keajaiban' di dalam dunia modern ini. Karena apapun yang tertuang di internet, Google bisa mencarinya. Termasuk salah satunya informasi tentang agama Islam. Banyak orang bisa memanfaatkan mesin pencari yang satu ini untuk mendapat ilmu agama.

Tetapi harus pula disadari bahwa Google itu bukan ahli fiqih dan bukan ahli hadis. Google cuma robot yang bisa mencari data di jagat alam maya, tanpa bisa memilah mana data sampah dan mana data yang valid. Kalau ada sejuta orang menulis di internet bahwa babi itu halal, dan cuma ada sepuluh orang menulis bahwa babi itu haram, maka berdasarkan mesin pencari Google, hukum babi itu jadi halal. Kenapa? Karena hasilnya lebih banyak yang bilang halal dari pada yang bilang haram.

Google tidak bisa membedakan mana tulisan para ulama yang ahli di bidang ilmu syariah, dan mana tulisan orang yang awam dengan agama. Dalam beberapa sisi, 'demokrasi' ala Google ini agak menyesatkan juga. Maka kita tidak boleh menyerahkan agama kita secara pasrah bongkokan kepada Mbah Google. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

Komentar

Embed Widget
x