Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 16 November 2018 | 16:30 WIB

Mencari Indikator Keberagaman Intrinsik

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 31 Juli 2018 | 00:05 WIB

Berita Terkait

Mencari Indikator Keberagaman Intrinsik
(Foto: Ilustrasi)

BAHWA semua agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, saya sepakat, saya setuju. Namun apakah semua wujud keberagamaan benar-benar baik dan benar adalah pertanyaan yang perlu kajian detail dan mendalam. Ada keberagamaan yang memang murni berdasarkan nilai-nilai suci agama dan ada juga yang tidak.

Ada orang yang aktif membawa simbol agama dalam kesehariannya namun sikap dan perilakunya jauh dari nilai agama yang membawa ajaran kasih sayang. Bisakah kita menyebut orang semacam ini sebagai orang yang benar-benar beragama? Ada orang yang sepertinya giat beribadah namun ternyata rajin juga mengambil hak orang lain dan menyakiti orang lain. Layakkah disebut sebagai wakil potret manusia beragama?

Dalam psikologi agama disebutkan ada dua model kebaragamaan: keberagamaan intrinsik, yang menekankan betul pada aplikasi pesan utama agama; dan kedua adalah keberagamaan ekstrinsik, yang sangat peduli hanya pada simbol atau tampakan luar sementara hatinya kering dari nilai bijak agama. Dua hal ini sangat berbeda. Lalu indikator apa yang bisa digunakan sebagai ukuran?

Menarik apa yang dikatakan oleh Muhammad Al-Ghazali: "Saya melihat dalam pengalaman eksperimental saya bahwa perbedaan antara keberagamaan format dan keberagamaan esensi itu terletak pada kekerasaan hati dan kelembutannya."

Ada keberagamaan format, bentuk, tampakan luar (ekstrinsik) dan ada keberagamaan esensi, isi, murni (intrinsik). Orang yang beragama yang lembut hatinya, penuh kasih sayang dan menebarkan kedamaian serta kebahagiaan adalah orang yang keberagamaannya adalah intrinsik, berangkat dari hati yang bening dengan pemahaman yang benar. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x