Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 17 Agustus 2018 | 14:18 WIB

Hadis Palsu terkait Pahala Wanita Hamil

Oleh : - | Kamis, 12 Juli 2018 | 08:00 WIB
Hadis Palsu terkait Pahala Wanita Hamil
(Foto: Istimewa)

TERDAPAT sebuah hadis yang menyatakan,

Bahwa Salamah, wanita yang merawat Ibrahim putra Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bertanya, "Ya Rasulullah, anda sering memberi kabar gembira dengan amal kepada para lelaki, tapi anda tidak memberi kabar gembira kepada para wanita?" Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi motivasi kepadanya,

"Tidakkah para wanita senang, ketika dia hamil dari suaminya, dan dia ridha, maka dia mendapat pahala seperti orang yang puasa dan tahajud ketika sedang jihad fi sabilillah. Ketika sedang kontraksi, maka ada janji yang sangat menyejukkan mata yang belum pernah diketahui penduduk langit dan bumi. Setelah dia melahirkan, lalu menyusui bayinya, maka setiap isapan ASI akan menghasilkan pahala. Jika dia bergadangan di malam hari maka dia akan mendapat pahala seperti membebaskan 70 budak fi sabilillah."

Hadis ini menyebutkan fadhilah yang luar biasa bagi wanita hamil. Hanya saja, hadis ini lemah, bahkan palsu. Karena dalam sanadnya ada perawi bernama Amr bin Said al-Khoulani. Kata ad-Dzahabi, al-Khoulani banyak membawakan hadis palsu. Ibnu Hibban menilainya sebagai hadis dusta, palsu (al-Majruhin, 2/34), demikian pula penilaian Ibnul Jauzi dalam al-Maudhuat (2/273).

Meskipun demikian, bukan berarti wanita hamil tidak memiliki keistimewaan. Setidaknya, wanita subur, merupakan wanita pilihan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Maqil bin Yasar radhiyallahu anhu,

Pernah ada orang yang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyampaikan keinginannya, "Saya mencintai seorang wanita cantik dan dari keluarga terhormat. Namun dia mandul. Bolehkah saya menikah dengannya?" Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam, "Jangan."

Orang ini datang kedua kalinya, menyampaikan keinginannya yang sama. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tetap melarangnya. Diapun datang untuk yang ketiga kalinya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tetap melarang dia menikah dengan wanita itu.

Hingga akhirnya, beliau bersabda, "Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena saya membanggakan banyaknya kalian pada seluruh umat." (HR. Abu Daud 2050, Nasai 3227 dan dishahihkan al-Albani)

Sebagai balas jasa seorang ibu yang telah melahirkan anaknya, Allah memberi ganti dalam bentuk perintah untuk anak agar taat dan menghormati ibunya. Allah berfirman, "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan" (QS. al-Ahqaf: 15)

[baca lanjutan: Berbanggalah bagi Para Wanita yang Hamil]

Komentar

Embed Widget

x