Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Juli 2018 | 10:50 WIB
 

Bolehkah Jual Beli Produk Cina Kafir?

Oleh : - | Rabu, 11 Juli 2018 | 12:00 WIB
Bolehkah Jual Beli Produk Cina Kafir?
(Foto: Istimewa)

PADA asalnya, semua barang yang halal manfaat, halal diperjual belikan. Terlepas siapapun yang memproduksi. Termasuk orang kafir.

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diutus, penggunaan mata uang emas dan perak telah lama berlaku di jazirah arab. Mata uang emas dan perak yang beredar dan digunakan pada saat itu ada yang dicetak oleh imperium Romawi dan Persia, ada pula dalam bentuk emas dan perak mentah (24 karat) yang tidak dicetak. Hanya dua uang ini yang beredar dan berlaku pada masa Nabi dan masa Khulafa ar-rasyidin. Sementara fulus (uang yang terbuat dari selain emas dan perak, dan umumnya tembaga) hanya berlaku untuk membeli barang yang harganya murah.

Demikian pula dalam produk yang lain. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenakan pakaian dari luar negeri islam, seperti jubah dari Yaman, yang waktu itu mayoritas penduduknya beragama nasrani.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan, "Sungguh aku pernah melihat, baju yang paling bagus yang dipakai Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah baju dari Yaman." (HR. Thabrani dalam al-Mujam al-Kabir, 12884).

Cerita lain disampaikan Aisyah radhiyallahu anha, "Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dikafani dengan 3 lembar kain putih Sahuliyah." (HR. Bukhari 1273 & Muslim 2225)

Disebut kain Sahuliyah karena didatangkan dari Sahul, nama suatu daerah di Yaman. Ini menunjukkan, interaksi kaum muslimim dalam menggunakan produk buatan negara non muslim, sudah menjadi hal yang biasa sejak awal islam. Selama produk itu halal dimanfaatkan, maka halal untuk diperdagangkan.

[baca lanjutan: Hukum Jual Beli Produk Cina Kualitas Rendah]

Komentar

Embed Widget

x