Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 19 November 2018 | 20:21 WIB

Tips Mengatasi Kehilangan Cinta Kekasih(2)

Jumat, 6 Juli 2018 | 13:00 WIB

Berita Terkait

Tips Mengatasi Kehilangan Cinta Kekasih(2)
(Foto: ilustrasi)

Meluruskan Pemahaman dan Sikap

MASALAH hilangnya perasaan dari pasutri terhadap pasangannya bisa jadi disebabkan oleh kesalahan mereka dalam memandang makna hak yang telah Allah berikan kepada diri mereka masing-masing sehingga berakibat diselewengkannya hak-hak tersebut. Untuk memahami masalah ini, marilah kita diskusikan sejenak firman Allah berikut:

. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maruf. (QS. al-Baqoroh [2]: 228)

Perhatikanlah ayat di atas baik-baik, lalu tanyakan pada diri anda, apakah ayat tersebut hanya mengakui hak-hak suami atas istrinya saja sehingga ia boleh menuntutnya dengan cara bagaimanapun dari para istri mereka? Bila para suami mau jujur maka tentu mereka akan menjawab: "Tidak! Sekali-kali tidak!"

Atau apakah ayat tersebut hanya peringatan bagi para suami akan kemuliaan hak-hak istrinya di atas segalanya yang istri boleh menuntutnya dengan cara bagaimanapun? Begitu juga kalau para istri mau jujur tentu ia juga akan menjawab: "Tidak benar! Pemahaman seperti itu salah!"

Kita harus memahami bahwa ayat di atas berisi ketetapan dan pengakuan serta pengukuhan hak-hak pasutri yang sama antara keduanya, tiada bedanya. Selain itu, Allah azza wajalla hendak menjelaskan bagaimana seharusnya para pasutri menunaikan kewajibannya dan menuntut hak-haknya. Dan yang pasti, Allah subhanahu wataala hanya menghendaki keserasian antara keduanya.

Alloh menghendaki apabila seorang suami menuntut istri untuk menunaikan kewajibannya maka ia pun harus memberikan hak istrinya. Demikian juga, apabila istri meminta hak-haknya dari suaminya maka sesungguhnya pada saat yang sama ia juga harus memberikan hak-hak suaminya. Dalam hal menuntut hak dan menunaikan kewajiban ini Allah subhanahu wataala tetap membatasi dengan bingkai bil-maruf, yaitu dengan cara sebaik-baiknya, dengan saling menjaga perasaan dan tetap di atas dasar kasih sayang.

Lalu bagaimana para suami tanpa melihat kondisi istriapakah telah terpenuhi hak-haknya ataukah belumkemudian ia berlenggang begitu saja setelah hasrat mereka terpenuhi? Bagaimana pula para istri mempergauli suaminya laksana seorang ratu yang semaunya meminta ini dan itu dari para punggawanya? Ke manakah gerangan hilangnya perasaan mereka setelah mengetahui bahwa hak-hak mereka sama? Di mana bingkai maruf yang Alloh tetapkan? Kemana perasaan dan kasih sayang itu pergi? [bersambung]

Komentar

Embed Widget
x