Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 18:02 WIB

Ikhlas Menuntun Kita ke Surga

Kamis, 28 Juni 2018 | 09:00 WIB

Berita Terkait

Ikhlas Menuntun Kita ke Surga
(Foto: Ilustrasi)

Allah taala telah menjelaskan kepada manusia akan keagungan diri-Nya dan kefakiran mereka kepada Allah. Allah pun telah menetapkan akan tujuan penciptaan mereka, yaitu peribadahan dan penghambaan. Namun Dia menetapkan bahwa Dia tidak butuh untuk dipersekutukan, dengan sesuatu apapun.

Tidak jin, manusia, atau malaikat sekalipun. Dan memang Dia tidak layak untuk dipersekutukan. Maka setiap amal yang ditujukan kepada-Nya, namun juga berharap dari selain-Nya akan menjadi sia sia. Ibarat jasad tanpa ruh, seperti itulah nilai suatu amalan tanpa keikhlasan. Dia ada, namun mati, membusuk, dan tidak berharga.

Lalu apa pula yang diharapkan dari selain-Nya, sedang segala sesuatu adalah milik Nya?! Kebodohan macam apa dalam pengharapan kepada manusia, sedang surga milik Sang Pencipta? Apa jua manfaat pujian, kekaguman, dan penghargaan dari mereka yang tidak memiliki apa-apa?

Namun dalam kenyataannya, jarang kita temukan orang-orang yang ikhlas dalam beramal. Kejahilan terhadap Sang Pencipta, menjadikan kebanyakan orang lebih berharap kepada manusia daripada balasan dari Allah ta'ala. Dan ternyata memang, pada praktiknya pentingnya keikhlasan tidak menjadikan dia mudah untuk diterapkan. Bukan hanya bagi orang awam seperti kita, namun para ulama dahulu pun merasakannya.

Seperti Sufyan At Tsauri rahimahullah yang berkata, "Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku melebihi masalah niatku, karena ia mudah berbolak-balik". Atau Yusuf bin Husain rahimahullah yang mengatakan, "sesuatu yang paling susah bagiku di dunia ini adalah keikhlasan, berapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkannya dari hatiku, namun seakan akan dia tumbuh kembali dengan corak yang lain".

Meskipun begitu halnya, bukan berarti ikhlas tidak bisa diusahakan. Bermujahadah, menggerakan semua daya dan upaya untuk mendapatkannya tetap menjadi keharusan. Bukankah pahala itu sesuai dengan kesusahan dalam beramal? Yang karenanya semakin susah pahala semakin besar? Dan begitulah nilai keikhlasan. Ia sungguh menentukan, hingga diterimanya suatu amalan pun tergantung dengan keberadaannya. Bahkan suatu amal kecil bisa menjadi besar dengannya. Dan sebaliknya, amalan besar bisa menjadi kecil dengan ketiadaannya.

Bukankah disebutkan seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan? Sedang siapa di antara kita yang tidak sanggup melakukannya. Namun lihatlah tiga golongan pertama penghuni neraka. Justru mereka adalah orang-orang yang beramal besar; seorang berilmu, pejuang, dan dermawan!! Disinilah niat menjadi pembeda.

Maka, hal pertama yang harus dilakukan adalah senantiasa menghadirkan kebesaran Allah taala. Bahwa Dialah satu satunya Zat yang maha kuasa dan maha mengetahui. Tidak ada yang dapat menolak manfaat jika Dia hendak memberi manfaat. Pun tidak ada yang dapat memberi mudharat jika dia berkehendak.

Hal selanjutnya adalah meminta kepada Allah agar diberikan keikhlasan. Karena sesungguhnya semua kebaikan seorang hamba merupakan taufik dari Allah taala. Manusia tidaklah memiliki daya dan upaya untuk beramal kecuali jika disertai dengan taufik dari Allah taala. Yang karenanya mengandalkan kemampuan diri dan hanya bersandar kepada usaha tanpa meminta bantuan dari Sang Pencipta merupakan sebuah keteledoran. Dan sungguh benar apa yang dikatakan Ibnul Qoyyim rahimahullah, bahwa kehinaan adalah ketika Allah meninggalkan seorang hamba dengan dirinya sendiri.

Keikhlasan juga perlu untuk dipelajari. Tentang makna, hakekat, serta hal-hal yang dapat menodai keikhlasan, untuk kemudian berusaha mempraktikannya. Karena bagaimana seseorang akan bisa ikhlas jika tidak tau makna keikhlasan? Ah, seandainya saja ada sekelompok dari para ulama yang tidak mengajari manusia kecuali keikhlasan.

Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah senantiasa mengingat besarnya pahala keikhlasan. Serta akibat dari amalan yang tidak disertai dengan keikhlasan. Bahwa ikhlas merupakan satu satunya jalan menuju surga. Ikhlas juga merupakan pintu keselamatan dari godaan setan. Sebaliknya, tanpa keikhlasan suatu amal tidak akan diterima, dan tanpanya juga seorang hamba akan terjerumus ke dalam neraka.

Juga selalu mengevaluasi diri dan bersungguh-sungguh. Baik sebelum, ketika, dan setelah beramal. Sebelum memulai, berhentilah sejenak, tanyakan kepada jiwa kita, apa yang kita ingingkan dengan amalan ini? Jika yang diinginkannya adalah ridha Allah, atau pahala dari Allah taala, maka hendaklah seseorang meneruskan amalannya. Namun sebaliknya, jika ternyata yang diinginkan hal lain selain Allah taala, maka hendaknya seseorang tidak melanjutkan amalannya sampai meluruskan niatnya. Ketika sedang beramalpun tetaplah melihat hati kita, jangan sampai berubah niatnya, jika kemudian muncul niat lain selain Allah, maka segera palingkan kepada Allah taala. Begitu juga setelah beramal. Jangan sampai muncul keinginan untuk diketahui oleh manusia, hingga kemudian menceritakan amalannya sambil berharap pujian dari mereka.

Memperbanyak ketaatan juga merupakan salah satu cara menghasilkan ikhlas. Karena setan akan selalu berusaha agar seorang hamba meninggalkan ketaatan atau berusaha merusak amalan yang dilakukan oleh seorang hamba. Jika kemudian setan melihat seorang hamba senantiasa berada dalam ketaatan, dan tidak menghiraukan ajakan setan, bahkan setiap kali setan membisiki seorang hamba namun justru hamba tadi bertambah ketaatan dan keikhlasannya, setan pun akan putus asa dan berhenti dari menggoda hamba tadi, agar tidak menambah pahalanya. Namun jika seorang hamba terkadang taat namun terkadang juga berbuat maksiat dengan menyambut ajaran setan, maka setan akan semakin bersemangat menggoda hamba tadi, begitu kata Hasan Al Bashri.

Kemudian juga seorang hamba hendaklah tidak bangga dengan amalannya. Tidak takjub dengan dirinya sendiri. Karena sesungguhnya ketika seseorang merasa takjub dengan dirinya sendiri, ketika itu dia sedang menyekutukan Allah dengan dirinya sendiri. Seakan akan dia telah berjasa kepada Allah dengan amalannya. Padahal, hakekatnya justru sebaliknya. Seorang bisa beramal merupakan taufik dari Allah taala. Ujub kepada diri sendiri sebagaimana halnya syirik dapat menghapus amalan, sebagaimana yang disampaikan Imam Nawawi Rahimahullah.

Dan hal terakhir hendaknya seorang hamba selalu bergaul dan berkumpul dengan orang orang yang ikhlas. Dengan harapan bisa berqudwah dan mengikuti mereka dalam keikhlasan. Dan bukankah seseorang akan berada dalam agama teman dekatnya? Hingga jika kita ingin melihat agama seseorang cukup dengan melihat agama teman dekatnya, Sebagaimana wasiat sang baginda Shallallahu Alaih Wasallam?. Maka pilihlah kawan yang baik, maka kita pun akan menjadi baik dengan Izin Allah taala.

Mudah-mudahan Allah taala memberikan rahmat dan taufik-Nya kepada kita semua agar senantiasa diberikan keikhlasan dalam beramal. Karena sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan keikhlasan.[muslimorid]

Catatan kaki

1 Perkataan Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam Mukhtasor Minhajul Qosidin.

2 Perkataan Abdullah bin Hamzah rahimahullah.

3 HR. Ahmad (8212)

Komentar

Embed Widget
x