Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 21 Oktober 2018 | 15:38 WIB

Batalkah Makmum Jika Suara Imam Terlalu Pelan?

Rabu, 27 Juni 2018 | 08:00 WIB

Berita Terkait

Batalkah Makmum Jika Suara Imam Terlalu Pelan?
(Foto: Ilustrasi)

JIKA pada salat jemaah, suara imam terlalu pelan, bahkan tidak terdengar suara sama sekali, apakah salat jemaahnya batal? Bagaimana jika ada sebagian makmum yang membatalkan diri?

Terdapat kaidah yang menyatakan,

"Siapa yang salatnya sah, maka salat berjemaah dengannya juga sah."

Para ulama menyebutkan bahwa keras dan pelannya bacaan imam, baik dalam takbir maupun tasmi Itidal, hukumnya anjuran. Bukan wajib, bukan pula rukun. Sehingga imam yang pelan suaranya, atau bahkan sama sekali tidak terdengar makmum, salatnya tetap sah. Demikian pula makmum, salatnya sah.

Dalil bahwa imam dianjurkan mengeraskan suaranya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

"Imam itu ditunjuk untuk diikuti. Apabila dia bertakbir maka ikutlah bertakbir, apabila beliau rukuk, ikutlah rukuk" (HR. Bukhari 733 & Muslim 948).

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bergerak takbir setelah imam takbir, menunjukkan bahwa makmum mendengar suara komando imam. Sehingga dianjurkan bagi imam untuk mengeraskan bacaan takbirnya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

Dianjurkan untuk mengeraskan bacaan tasmi (ucapan:: samiallahu liman hamidah), sebagaimana dianjurkan untuk mengeraskan takbir. Karena tasmi adalah bacaan yang disyariatkan untuk dibaca ketika berpindah dari satu rukun, sehingga dianjurkan untuk dikeraskan oleh imam, sebagaimana takbir. (al-Mughni, 1/583)

Keterangan lain disampaikan oleh Musthofa ar-Ruhaibani,

Dianjurkan untuk mengeraskan bacaan takbir, agar memungkinkan bagi makmum untuk mengikuti imam dalam salat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

"Jika imam selesai takbir maka bertakbirlah." Demikian pula dianjurkan untuk mengeraskan tasmi yaitu bacaan samiallahu liman hamidah, dan mengeraskan salam pertama, agar bisa diikuti oleh makmum. (Mathalib Ulin Nuha, 1/420).

Wallahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

Komentar

Embed Widget
x