Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Juli 2018 | 10:44 WIB
 

Mutiara Lokal tak Kalah Menarik dari 'Interlokal'

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 2 Juli 2018 | 00:04 WIB
Mutiara Lokal tak Kalah Menarik dari 'Interlokal'
(Foto: ilustrasi)

TAK usah bingung mendefinisikan istilah lokal dan interlokal. Aslinya yang dimaksud adalah mutiara domestik dan mutiara dari luar daerah (internasional). Lokal dan interlokal itu istilah sambungan telekomunikasi yang kemudian senantiasa saya ingat sebagai sesuatu yang lucu karena istilah itu pernah digunakan seorang MC pengajian di pelosok desa untuk menjelaskan saya sebagai penceramah. MC itu dengan lugu tanpa dosa berkata: "Penceramah kita malam ini bukan pencermah lokal, tapi sudah tingkat interlokal." Jamaahpun tepuk tangan. Saya hanya tertawa saja.

Begitulah suasana desa. Ada banyak hal yang bisa membuat orang kota tersenyum. Salah satu alasan orang-orang itu mudik pada masa lebaran adalah karena ingin tersenyum bersama orang desa. Di desa, walaupun tingkatan lokal, kita temukan tak hanya hal lucu, namun juga hal bijak. Terkenal dengan istilah kearifan lokal atau local wisdom. Teorinya banyak dibuat dan diurai orang kota, namun prakteknya banyak dilakukan orang desa. Orang kota tersinggung? Jangan. Nanti dianggap tidak bijak dan tidak pro local wisdom.

Salah satu mutiara lokal yang saya dengar hari ini adalah: "Ajjha' adandan e adha'na orng buta, ajjha' nandhang e pnggira oreng kopok." Arti harfiyahnya: "Jangan bersolek di depan orang buta, jangan bernyanyi di samping orang tuli." Ketika saya tanya maksudnya, ternyata dalam sekali pesan moralnya.

Ada banyak orang yang memberikan sesuatu yang tak bisa dinikmati oleh orang yang diberi. Berikanlah sesuatu yang bermanfaat bagi yang menerima. Bukan masalah harga, tapi masalah guna. Memberi kulkas pada orang pojok desa yang belum punya aliran listrik tidaklah punya guna, setakbergunanya memberi sisir pada orang tak berambut dan memberi sikat gigi pada orang yang sudah tak bergigi.

Di desa, bahasa senyuman dan isyarat anggukan kepala dan kedipan mata sungguh lebih terkesan "cerdas" ketimbang mengungkapan bahasa ilmiah yang tak dipahami mereka. Maka Nabi bersabda: "Berkata-katalah dengan manusia seukur kemampuan nalar mereka." Kalau tidak, yakinlah bahwa omongan kita bagai panggilan orang buta pada orang tuli. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget

x