Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 18 Desember 2018 | 00:42 WIB

Miliki Saudara Miskin, Bolehkah Dizakati?

Kamis, 14 Juni 2018 | 17:00 WIB

Berita Terkait

Miliki Saudara Miskin, Bolehkah Dizakati?
(Foto: Ilustrasi)

KETENTUAN penyaluran zakat telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS At-Taubah: 60)

Ayat tersebut bersifat umum, tidak menjelaskan secara khusus apakah jika orang yang tidak mampu adalah saudara kita sendiri, apakah dia juga termasuk ke dalam katagori orang yang berhak menerima zakat? Mengenai hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Mereka berbeda pendapat, apakah saudara kandung seseorang termasuk orang yang berada dalam tanggungan hidupnya ataukah tidak? Namun pada intinya, mereka sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang menjadi tanggungan hidup kita.

Menurut jumhur ulama, yang termasuk ke dalam tanggungan hidup seseorang hanyalah anak, isteri dan orangtua. Jadi, zakat tidak boleh diberikan kepada mereka. Sedangkan saudara kandung baik kakak ataupun adik, tidak termasuk ke dalam katagori tersebut.

Karena itu, bila saudara kandung tersebut termasuk ke dalam golongan yang berhak menerima zakat seperti yang disebutkan dalam QS. At-Taubah: 60, maka zakat boleh diberikan kepadanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang orang yang memberikan zakat kepada keluarganya:

"Dia memperoleh dua pahala, yaitu pahala menyambung kekerabatan dan pahala sedekah (zakat)." (HR Bukhari)

Namun ada juga ulama yang berpendapat bahwa saudara kandung kita termasuk dalam tanggungan kita. Jadi kalau dia tidak mampu, maka kita tidak boleh memberikan zakat kepadanya, karena kitalah yang harus menanggung hidupnya seperti layaknya anak, isteri atau orangtua kita sendiri.

Meskipun dari sisi hukum, saya pribadi lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa saudara kandung berhak menerima zakat bila dia tidak mampu, tetapi dari sisi akhlak, saya berpandangan bahwa alangkah baiknya bila seandainya ada saudara kandung kita yang kebetulan tidak mampu, maka kita tidak hanya berpikiran untuk memberikan zakat kepadanya.

Alangkah baiknya bila kita berpikiran lebih jauh, yaitu bagaimana kita bisa selalu membantunya selama dia masih membutuhkan bantuan atau sampai dia dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhannya sendiri, tentunya sesuai kemampuan kita. Namun bila kita belum mampu seperti itu, maka saya yakin memberikan zakat dari penghasilan kita sudah cukup meringankan beban hidupnya. Wallaahu Alam. [Fatkhurozi]

Komentar

Embed Widget
x