Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 19 Oktober 2018 | 03:19 WIB

Dalil Tegas Zakat Fitri Harus dengan Bahan Makanan

Kamis, 14 Juni 2018 | 15:00 WIB

Berita Terkait

Dalil Tegas Zakat Fitri Harus dengan Bahan Makanan
(Foto: Ilustrasi)

DALIL dan alasan ulama yang melarang pembayaran zakat dengan mata uang:

Pertama, riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa zakat fitri harus dengan bahan makanan.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu; beliau mengatakan, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha kurma kering atau gandum kering ." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, sebagai makanan bagi orang miskin ." (HR Abu Daud; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu; beliau mengatakan, "Dahulu, kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha bahan makanan, satu sha gandum, satu sha kurma, satu sha keju, atau satu sha anggur kering." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu mengatakan, "Dahulu, di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha bahan makanan." Kemudian Abu Said mengatakan, "Dan makanan kami dulu adalah gandum, anggur kering (zabib), keju (aqith), dan kurma." (HR Al-Bukhari, no. 1439)

Abu Hurairah radhiallahu anhu mengatakan, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan (zakat fitri). Kemudian datanglah seseorang mencuri makanan, lalu aku berhasil menangkapnya ."(HR Al-Bukhari, no. 2311)

Kedua, alasan para ulama yang melarang pembayaran zakat fitri dengan mata uang.

1. Zakat fitri adalah ibadah yang telah ditetapkan ketentuannya.

Termasuk yang telah ditetapkan dalam masalah zakat fitri adalah jenis, takaran, waktu pelaksanaan, dan tata cara pelaksanaan. Seseorang tidak boleh mengeluarkan zakat fitri selain jenis yang telah ditetapkan, sebagaimana tidak sah membayar zakat di luar waktu yang ditetapkan.

Imam Al-Haramain Al-Juwaini Asy-Syafii mengatakan, "Bagi mazhab kami, sandaran yang dipahami bersama dalam masalah dalil, bahwa zakat termasuk bentuk ibadah kepada Allah. Pelaksanaan semua perkara yang merupakan bentuk ibadah itu mengikuti perintah Allah."

Kemudian beliau membuat permisalan, "Andaikan ada orang yang mengatakan kepada utusannya (wakilnya), Beli pakaian! sementara utusan ini tahu bahwa tujuan majikannya adalah berdagang, kemudian utusan ini melihat ada barang yang lebih manfaat bagi majikannya (daripada pakaian), maka sang utusan ini tidak berhak menyelisihi perintah majikannya.

Meskipun dia melihat hal itu lebih bermanfaat daripada perintah majikannya . (Jika dalam masalah semacam ini saja wajib ditunaikan sebagaimana amanah yang diberikan, pent.) maka perkara yang Allah wajibkan melalui perintah-Nya tentu lebih layak untuk diikuti."

Harta yang ada di tangan kita semuanya adalah harta Allah. Posisi manusia hanyalah sebagaimana wakil. Sementara, wakil tidak berhak untuk bertindak di luar batasan yang diperintahkan. Jika Allah memerintahkan kita untuk memberikan makanan kepada fakir miskin, namun kita selaku wakil justru memberikan selain makanan, maka sikap ini termasuk bentuk pelanggaran yang layak untuk mendapatkan hukuman.

Dalam masalah ibadah, termasuk zakat, selayaknya kita kembalikan sepenuhnya kepada aturan Allah. Jangan sekali-kali melibatkan campur tangan akal dalam masalah ibadah karena kewajiban kita adalah taat sepenuhnya.

Oleh karena itu, membayar zakat fitri dengan uang berarti menyelisihi ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana telah diketahui bersama, ibadah yang ditunaikan tanpa sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya adalah ibadah yang tertolak.

2. Di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu anhum sudah ada mata uang dinar dan dirham.

Akan tetapi, yang Nabi praktikkan bersama para sahabat adalah pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan, bukan menggunakan dinar atau dirham. Padahal beliau adalah orang yang paling memahami kebutuhan umatnya dan yang paling mengasihi fakir miskin. Bahkan, beliaulah paling berbelas kasih kepada seluruh umatnya.

Allah berfirman tentang beliau, yang artinya, "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat berbelas kasi lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS At-Taubah:128)

Siapakah yang lebih memahami cara untuk mewujudkan belas kasihan melebihi Nabi shallallahu alaihi wa sallam?

[Ustadz Ammi Nur Baits]

Komentar

Embed Widget
x