Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 16:16 WIB

Sunah Rasul: Menjilati Jari Sesudah Makan

Sabtu, 16 Juni 2018 | 12:00 WIB

Berita Terkait

Sunah Rasul: Menjilati Jari Sesudah Makan
(Foto: Istimewa)

DARI Ibnu 'Abbas radhiyallahu Ta'ala 'anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian makan makanan jangan dia usap tangannya sampai dia menjilat tangannya tersebut. Atau dia menjilatkan tangannya tersebut." (HR. Bukhari no 5035 versi Fathul Bari no 5456. Imam Muslim no 3787, versi Syarh Shahih Muslim no 2031)

Kata Ibnu Hajar diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadis ini menjelaskan tentang salah satu adab daripada adab dalam memakan; seorang yang makan hendaknya dia membersihkan makanan. Dan ini adab Islam yang sangat indah agar kita dijauhkan dari sikap tabdzir dan sikap kufur kepada nikmat.

Bayangkan kalau makanan yang lezat belum habis kemudian kita cuci piringnya atau kita cuci tangan kita sehingga mengalirlah makanan tersebut bersama kotoran-kotoran. Ini merupakan bentuk dari tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Oleh karenanya, Islam mengajarkan kita untuk bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dalam hal makanan, kita berusaha menghabiskan makanan tersebut. Seorang makan sesuai dengan keperluannya.

Dan tatkala dia ambil makanan tersebut, maka dihabiskan, jangan sampai ada yang dibuang sehingga dia menjilat sisa-sisa makanan yang ada, baik yang ada di tangannya ataupun yang ada di piringnya. Maksud Nabi di sini bukanlah tatkala sedang makan dijilat-jilat tangannya kemudian dia makan lagi apalagi tatkala sedang makan berjemaah, tidak.

Maksudnya adalah di akhir tatkala selesai makan, selesai makan dibersihkan. Karena dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan: "Kalian tidak tahu di bagian mana makanan tersebut yang ada keberkahannya." (HR Muslim no 3792, versi Syarh Shahih Muslim no 2033 dari sahabat Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu)

Tatkala makanan banyak dihadapan kita, Allah meletakkan barakah di sebagian makanan tersebut. Kita tidak tahu dimana barakah tersebut, apakah di awal makanan kita, di tengah makanan atau di akhir makanan kita. Dan kalau pas kita mendapati keberkahan makanan tersebut maka ini akan berpengaruh dengan ibadah kita;

Keberkahan membuat kita sehat. Keberkahan membuat kita semangat untuk beribadah. Ini Allah berikan keberkahan kepada makanan tersebut. Maka seseorang berusaha untuk menghabiskan makanannya sehingga dia bisa pasti mendapatkan keberkahan makanan tersebut. Karena diajarkan bagi kita untuk menjilat-jilat tangan kita yang masih bersisa-sisa makanan.

Demikian juga kata Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam: "Atau dia jilatkan kepada orang lain."

Maksudnya yaitu seperti: Antara suami dan istri. Di antara bentuk rasa cinta suami dan istri, istri terkadang menjilat tangan suaminya atau suami menjilat tangan istrinya. Dan ini di antara perkara yang disunahkan, tidak jadi masalah kalau mereka sedang makan, mereka saling suap menyuapi atau saling menjilati jari di antara mereka.

Atau antara ayah dengan anak. Ini tidak mengapa dan diajarkan dalam Islam. Oleh karenanya, jangan dengarkan perkataan sebagian orang yang merendahkan adab Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dalam masalah ini. Mereka mengatakan "Apa itu Islam, kok adabnya buruk? Sampai menjilat-jilat jari, ini adalah perkara yang menjijikkan." Ini tidak benar.

Maksud Nabi bukan kita menjilat-jilat jari kita tatkala sedang makan bersama di tengah makan, akan tetapi maksudnya adalah setelah di akhir makan. Untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada sedikit makanan pun yang kita buang, tapi semuanya kita makan.

Dan kita ingat, masih banyak orang-orang miskin yang kesulitan mendapatkan makan dan kelaparan. Apakah kita kemudian makan kemudian ada sisanya lalu kita buang? Seandainya sisa-sisa tersebut kita habiskan menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Demikianlah apa yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini. [Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA]

Komentar

Embed Widget
x