Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 23 September 2018 | 17:06 WIB

Mudik Dalam Perspektif Islam

Sabtu, 9 Juni 2018 | 05:00 WIB

Berita Terkait

Mudik Dalam Perspektif Islam
(Foto: inilahcom/ilustrasi)

WAKTU berlalu begitu cepat, tak terasa Ramadan telah sampai di penghujung pertemuan. Sepuluh hari terakhir menjadi momen yang selain menyibukkan diri untuk beriktikaf (mendekatkan diri pada Allah) dengan berdiam diri di mesjid. Juga, menjadi momen sibuk orang-orang untuk melakukan perjalan pulang ke kampung halaman.

Hampir seluruh umat muslim bahkan nonmuslim, yang memiliki kesempatan untuk mudik maka pasti akan melakukan tradisi pulang kampung ini. Lalu, adakah anjuran mudik dalam Islam? Dan bagaimana pandangan bermudik dalam perspektif Islam.

Memang, tradisi mudik tidak ada kaitannya secara langsung dalam ajaran Islam, apalagi mengingat tidak ada satu pun perintah Allah dan Rasul untuk melakukan mudik khususnya selama Ramadan.

Namun yang perlu kita ketahui adalah, mudik menjadi tradisi dan merupakan sebuah kearifan yang telah mendarah daging pada masyarakat kita. Masyarakat menjadikan libur Idul Fitri yang cukup panjang untuk kembali ke kampung halaman, bertemu kedua orang tua, keluarga, sanak family, dan teman kerabat. Hal ini tentu berdampak baik, karena dapat mempererat tali silahturahmi, berbagi suka dan duka, juga bisa untuk saling memberikan semangat dan motivasi untuk mengisi hari-hari di kehidupan baru di bulan Syawal mendatang.

Dalam Alquran dan sunah Rasulullah juga disebutkan agar anak selalu berbuat baik kepada orangtuanya. Berbuat baik kepada orangtua, bisa dalam bentuk apapun, tidak hanya materi, sekadar mendoakan, memberikan perhatian dan kasih sayang, menjaga nama baik orangtua, dan juga bisa dengan melakukan kunjungan jika anak hidup berjauhan dari orangtua. Nah, dengan mudik hal ini bisa dilakukan.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu lah kembalimu." (QS Luqman: 14).

"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS Al Isra`: 23).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, lalu Allah berwasiat agar berbuat baik kepada ibu-ibumu, kemudian Allah berwasiat kepada bapak-bapakmu, dan kemudian Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu. (HR Ibnu Majah).

Mudik juga mengajarkan kita untuk bersilahturahmi, dan dalam Islam menjalin silahturahmi sangat dianjurkan. Dan dapat kita jumpai banyak sekali nash baik dari Alquran maupun Sunah yang memganjurkan kita untuk memperkuat silahturahmi yang memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam.

Allah berfirman: "Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturrahmi. (QS An Nisa: 1).

Dari Anas bin Malik Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi. (HR Muslim).

Dalam hadis lainnya dijelaskan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam: "Maukah kamu aku beri tahu tentang derajat yang lebih utama dari derajat salat, puasa, dan sedekah!" Para sahabat menjawab: "Mau!" kemudian Rasulullah bersabda: "Mendamaikan antara dua orang yang berselisih, karena perselisihan antara dua manusia itulah yang membawa kehancuran." (HR Abu Daud dan Termizi).

Ya, walaupun mudik tidak ada secara langsung dianjurkan dalam Islam, tak ada salahnya kita laksanakan bila ada kesempatan dan kemampuan. Tidak melulu menunggu waktu Idul Fitri, menjalin silahturahmi bisa lakukan kapan saja. Dan jangan lupa untuk melengkapi ibadah kita selama perjalanan mudik. Insyaa Allah perjalanan kita mendapatkan berkah dan selalu dalam lindunganNya. [Chairunnisa Dhiee]

Komentar

Embed Widget
x