Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 20:25 WIB

Menjawab Syubhat Makam Rasul dalam Masjid Nabawi

Selasa, 12 Juni 2018 | 09:00 WIB

Berita Terkait

Menjawab Syubhat Makam Rasul dalam Masjid Nabawi
(Foto: Istimewa)

SEBAGIAN orang menyampaikan syubhat mengenai masjid Nabawi (di kota Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Madinah). Jika memang shalat di masjid yang ada kubur terlarang, lantas bagaimana dengan keadaan masjid Nabawi itu sendiri? Bukankah di dalamnya ada kubur Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah mengatakan bahwa syubhat ini adalah talbis, yaitu ingin menyamarkan manusia. (Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan, Al Muntaqo).

Cukup, syubhat di atas dijawab dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin berikut ini:

1. Masjid Nabawi tidaklah dibangun di atas kubur. Bahkan yang benar, masjid Nabawi dibangun di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam hidup.

2. Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah di kubur di masjid sehingga bisa disebut dengan orang sholeh yang di kubur di masjid. Yang benar, beliau dikubur di rumah beliau.

3. Pelebaran masjid Nabawi hingga sampai pada rumah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan rumah Aisyah bukanlah hal yang disepakati oleh para sahabat radhiyallahu anhum. Perluasan itu terjadi ketika sebagian besar sahabat telah meninggal dunia dan hanya tersisa sebagian kecil dari mereka.

Perluasan tersebut terjadi sekitar tahun 94 H, di mana hal itu tidak disetujui dan disepakati oleh para sahabat. Bahkan ada sebagian mereka yang mengingkari perluasan tersebut, di antaranya adalah seorang tabiin, yaitu Said bin Al Musayyib. Beliau sangat tidak ridho dengan hal itu.

4. Kubur Rasul shallallahu alaihi wa sallam tidaklah di masjid, walaupun sampai dilebarkan. Karena kubur beliau di ruangan tersendiri, terpisah jelas dari masjid. Masjid Nabawi tidaklah dibangun dengan kubur beliau. Oleh karena itu, kubur beliau dijaga dan ditutupi dengan tiga dinding.

Dinding tersebut akan memalingkan orang yang shalat di sana menjauh dari kiblat karena bentuknya segitiga dan tiang yang satu berada di sebelah utara (arah berlawanan dari kiblat). Hal ini membuat seseorang yang shalat di sana akan bergeser dari arah kiblat. (Al Qoulul Mufid, 1: 398-399)

Semoga Allah beri hidayah demi hidayah. Wallahu waliyyut taufiq. [Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

Embed Widget
x