Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 16 November 2018 | 16:22 WIB

5 Makna di Balik Ungkapan Puasa itu Untuk-Ku (3)

Kamis, 31 Mei 2018 | 11:00 WIB

Berita Terkait

5 Makna di Balik Ungkapan Puasa itu Untuk-Ku (3)
(Foto: Ilustrasi)

APA gerangan hikmah lembut yang tersembunyi di balik ungkapan "Puasa adalah untuk-Ku"? Ada apa dengan puasa? Ada beberapa jawaban yang diungkapkan oleh para ulama. Setiap jawaban memiliki sisi hikmah dan kelembutannya sendiri. Berikut adalah beberapa di antaranya:

Al-Imam Badruddn al-Hanafi rahimahullah mengatakan: "Ada yang memberikan jawaban bahwasanya ungkapan tersebut (Puasa itu untuk-Ku, Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya) adalah untuk menjelaskan betapa besar dan banyaknya pahala bagi orang yang berpuasa. Karena besarnya pemberian adalah bukti akan kebesaran yang memberi." [Umdatul Qri Syarh Shahh al-Bukhri: 22/61]

Makna tersebut diperkuat oleh hadits Abu Hurairah radhiallhuahu berikut ini:

"Setiap amalan anak Adam pahalanya digandakan. Satu kebaikan akan digandakan pahalanya 10 kali lipat sampai 700 kali lipat, kecuali puasa (pahalanya tidak berbatas-pent), ia adalah untuk-Ku semata, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjaran. Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat dan menahan diri dari makanannya karena Aku." [Shahh Muslim: 1151]

Ketika menjelaskan makna ungkapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam "kecuali puasa, Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya", al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat: 795-H) mengatakan: "(Ungkapan tersebut) menunjukkan bahwa tidak ada yang mengetahui berapa besar dilipatgandakannya pahala puasa kecuali hanya Allah saja. Karena puasa adalah jenis sabar yang paling utama." [Jamiul Ulm wal Hikam: 2/316]

Kelima: Karena puasa adalah momentum untuk mentadabburi Kemahasempurnaan sifat-Nya

Seluruh perbuatan Allah, kehendak dan syariat-Nya, berikut segenap ciptaan-Nya, adalah cerminan dan manifestasi sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang Mahaagung lagi Mahasempurna. Allah memuliakan orang-orang berilmu karena Dia memiliki nama al-Alm yang Mahamengetahui. Surga adalah perwujudan sifat Rahmat-Nya, sebagaimana neraka adalah konsekuensi dari kesempurnaan sifat Adil-Nya.

Allah menyerukan hamba-hamba-Nya untuk bersabar karena kesabaran yang Mahasempurna adalah sifat-Nya. Allah memerintahkan kita untuk menolong sesama karena Dia adalah an-Nashir yang Mahapenolong.

Tidak makan, tidak minum, dan tidak membutuhkan pasangan, adalah di antara sifat-sifat Allh yang Mahasempurna. Dan puasa seolah mengingatkan kita akan Kemahasempurnaan sifat-sifat Allh tersebut. Hanya Dia yang memiliki sifat-sifat tersebut, maka hanya Dia pula yang layak untuk disembah dan diibadahi.

Inilah yang diisyaratkan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat: 597-H) dalam kitabnya Kasyful Musykil min Hadts ash-Shahhain: 3/167. [Abu Ziyan Halim/ponpesabuhurairah]

Komentar

Embed Widget
x