Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 13:18 WIB

5 Makna di Balik Ungkapan Puasa itu Untuk-Ku (1)

Kamis, 31 Mei 2018 | 09:00 WIB

Berita Terkait

5 Makna di Balik Ungkapan Puasa itu Untuk-Ku (1)
(Foto: Ilustrasi)

SAHABAT, mari sejenak ber-tafakkur tentang keagungan ibadah puasa. Ketika Allah subhanahuwataala berfirman dalam sebuah hadits rabbni (hadits qudsi): "Seluruh amalan anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh, ibadah puasa itu untuk-Ku. Akulah yang langsung akan memberikan imbalannya. Puasa adalah perisai." [Shahh al-Bukhri: 1904]

Apa yang terlintas dalam hati kecil Anda saat membaca ungkapan "puasa adalah untuk-Ku"? Sementara literatur ilmiah periwayatan hadits tidak pernah merekam adanya ungkapan-ungkapan seperti ini; "Shalat itu untuk-Ku" atau "Ibadah haji itu adalah untuk-Ku", atau "Ibadah zakat adalah untuk-Ku", atau kalimat-kalimat semisal yang menggambarkan keistimewaan ibadah tersebut dibanding ibadah lainnya. Namun tidak demikian halnya dengan puasa. Lantas, apa gerangan hikmah lembut yang tersembunyi di balik ungkapan spesial tersebut? Ada apa dengan puasa?

Ada beberapa jawaban yang diungkapkan oleh para ulama. Setiap jawaban memiliki sisi hikmah dan kelembutannya sendiri. Berikut adalah beberapa di antaranya:

Pertama: Karena puasa mengharuskan kemurnian hati.

Al-Imam Badruddn al-Hanafi rahimahullah (wafat: 855-H) mengatakan: "Itu karena ibadah puasa merupakan amalan rahasia yang tidak disusupi oleh riya." [Umdatul Qri Syarh Shahh al-Bukhri: 22/61]

Al-Imam Ibnul Utsaimn rahimahullah (wafat: 1421-H) menjelaskan: "Puasa adalah rahasia antara seorang insan dengan Rabb-nya. Seorang insan yang berpuasa, tidak diketahui apakah dia benar-benar berpuasa ataukah tidak, isi hatinya juga tidak diketahui (sangat gampang bagi dia untuk membatalkan puasa tanpa harus kehilangan anggapan di mata orang lain bahwa dia masih berpuasa-pent). Sehingga orang yang benar-benar berpuasa sudah pasti orang yang paling besar keikhlasan dan ketulusannya. Maka Allah pun mengistimewakannya dibanding ibadah-ibadah yang lain." [lih. Syarh Riydh ash-Shlihn: 5/266-267]

"Seluruh amalan anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh, ibadah puasa itu untuk-Ku. Akulah yang langsung akan memberikan imbalannya. Puasa adalah perisai."

Al-Imam Badruddn al-Hanafi rahimahullh (wafat: 855-H) mengatakan: "Segenap ibadah sejatinya adalah hak Allah, lantas kenapa hanya puasa yang diistimewakan ungkapan penyandarannya untuk Allah? Jawabnya; karena tuhan-tuhan selain Allah tidak pernah diibadahi melalui ibadah puasa. Orang-orang kafir tidak pernah mengagungkan tuhan-tuhan mereka pada waktu-waktu tertentu dengan berpuasa." [Umdatul Qari Syarh Shahh al-Bukhari: 22/61]

[baca lanjutan: 5 Makna di Balik Ungkapan "Puasa itu Untuk-Ku" (2)]

Komentar

Embed Widget
x