Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Oktober 2018 | 10:49 WIB

Bagaimana Hukum Salat tidak Memakai Peci?

Jumat, 18 Mei 2018 | 17:00 WIB

Berita Terkait

Bagaimana Hukum Salat tidak Memakai Peci?
(Foto: Ilustrasi)

ADA tiga sikap berbeda yang diberikan masyarakat terkait peci. Dua berlebihan, dan satu pertengahan.

Pertama, mewajibkan memakai peci dalam salat. Bahkan dalam semua aktivitas harus memakai peci. Sehingga dia menganggap bahwa hanya dengan semata memakai peci, dia akan mendapatkan pahala.

Mungkin anda pernah mendengar ada orang yang tidak mau salat jadi makmum, jika imamnya tidak memakai peci. Karena dia menganggap, salatnya imam tidak sempurna.

Saya sendiri pernah mendengar, ada orang yang bercerita pengalaman mencari kerja. Salah satu yang dia sampaikan, di perusahaan A masih lumayan, dibebaskan memakai peci. Kalau di perusahaan lain, kurang bagus, tidak boleh memakai peci.

Peci dianggap sesuatu yang sangat istimewa baginya. Sampai harus dibela, meskipun dalam urusan murni duniawi. Yang mengkhawatirkan, sebagian kelompok ini sampai menyampaikan hadis palsu untuk memotivasi masyarakat memakai peci. Di antaranya hadis:

"Salat sunah atau salat wajib yang memakai imamah (penutup kepala) senilai 25 kali salat tanpa imamah. Jumatan dengan imamah senilai 70 kali jumatan tanpa imamah." (HR. ad-Dailami dalam Musnad Firdaus (2/108), dan dinilai oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai hadis palsu).

Kemudian hadis,

"Salat dengan memakai imamah senilai 10.000 pahala." (HR. Abban bin Abi Ayyasy, dan dinilai palsu oleh as-Sakhawi al-Maqasid al-Hasanah (423) dan as-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmuah (188).)

Dan beberapa hadis lainnya yang semakna.

Kedua, anti peci. Bagian dari modernisasi adalah tidak mengenakan tutup kepala dalam setiap kegiatan. Sampai ketika dia di acara-acara resmi, dia sama sekali tidak berkenan memakai tutup kepala.

Ketiga, mereka yang menilai bahwa peci adalah perkara adat, masuk dalam tradisi, namun dia menjadi perhiasan mukmin. Untuk itu, mereka tidak mengkaitkan keabsahan salat dengan keberadaan peci. Hanya saja, mengingat peci adalah perhiasan mukmin, maka memakai peci termasuk dalam anjuran yang disebutkan dalam ayat,

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid." (QS Al-Araf: 31)

Karena itu, memakai peci dalam salat maupun ketika acara resmi kaum muslimin, lebih afdhal dibandingkan tanpa mengenakan peci. Meskipun ini tidak ada kaitannya dengan keabsahan salat.

Dr. Muhammad Ali Farkus ketika membahas masalah peci mengatakan,

Sisi kelebihan peci tidaklah menunjukkan larangan salat dengan terbuka kepalanya tanpa penutup, baik sebagai imam, atau sendirian, atau sebagai makmum. Karena,

[1] Hukum boleh, tidak menunjukkan bahwa itu harus sama nilai

[2] Imamah atau peci atau tutup kepala lainnya, masuk dalam aturan adat, dan bukan aturan ibadah

[3] (Bagi lelaki) Kepala bukan termasuk aurat yang harus ditutupi.

Wallahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

Komentar

Embed Widget
x