Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 07:48 WIB

Islam Keras, Islam Lembek dan Islam Moderat (1)

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 16 Mei 2018 | 00:05 WIB

Berita Terkait

Islam Keras, Islam Lembek dan Islam Moderat (1)
(Foto: Ilustrasi)

ORANG awam mendefinisikan tiga istilah tersebut dalam judul itu dengan cara yang sederhana. Mereka yang senengannya pasang muka "mencureng" alias garang tanpa senyum dan kata-katanya keras penuh larangan dan ancaman biasanya digolongkan pada aliran Islam keras.

Mereka yang senengannya "memaklumi" segala peristiwa/prilaku negatif yang terjadi dengan cara diam dan mendiamkan biasanya digolongkan aliran Islam lembek. Sementara di antara keduanya adalah termasuk Islam moderat, tegas dan lembut pada waktu dan tempat yang pas.

Orang yang meneliti lebih jauh mulai menghubungkan dengan indikator-indikator yang menunjukkan identitas aliran. Kelompok Islam keras biasanya digambarkan dengan berjenggot, celana cingkrang, bercadar, akrab dengan bahasa bid'ah dan takfir, pengkafiran orang tak sealiran. Apakah ini benar? Kalau salah, lantas mengapa gambaran teroris di otak banyak orang muncul seperti identitas seperti di atas? Jangan-jangan ini adalah efek kuasa media yang mencitrakan seperti itu.

Secara fair, tidak semua orang berjenggot, bercelana cingkrang dan bercadar adalah beraliran keras. Sebagaimana tidak semua yang tak berjenggot, tak bercelana cingkrang dan tak bercadar adalah mengikuti aliran lembek dan moderat. Keras, lembek dan moderat itu ada pada cara berpikir, berkata dan berbuat.

Setiap pikiran yang mengklain hanya dirinya atau kelompok dirinya yang benar dan masuk surga pastilah berpotensi memandang sinis orang dan kelompok lain. Dalam batas yang kuat, lahirlah kekerasan. Setiap kata yang menghardik dan menyudutkan orang atau kelompok lain berpotensi untuk menciptakan konflik yang dalam bentuknya yang paling ekstrem adalah perang, perang urat saraf dan perang urat badan. Setiap perbuatan yang tak berhiaskan senyum tulus penuh cinta berpotensi untuk melahirkan keterpecahbelahan ummat yang ujungnya juga kekerasan.

Singkat kata, yang berjenggot, bercelana cingkrang dan bercadar pasti bukan aliran keras jika tetap menjaga kerukunan dan toleransi, tetap tersenyum dan merangkul orang yang tak sealiran. Yang tak berjenggot, tak bercelana cingkrang dan tak bercadar adalah pasti aliran keras jika tak mau rukun dan toleransi, tak mau senyum dan merangkul orang yang berbeda.

Adakah orang-orang yang berani menyebut Rasulullah dan para sahabatnya teroris walau berjenggot? Jawabannya "tidak." Mengapa? Karena senyuman dan cinta menjadi dasar dakwah beliau semua. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x