Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 25 Mei 2018 | 00:38 WIB
 

Tak Ada Roh Gentayangan dalam Islam

Oleh : - | Selasa, 15 Mei 2018 | 07:00 WIB
Tak Ada Roh Gentayangan dalam Islam
(Foto: Ilustrasi)

ADAKAH yang bertanya, benarkah bahwa arwah akan gentayangan dan tidak tenang karena sewaktu hidupnya belum melunasi utang-utangnya?

Pertanyaan itu dijawab Ustaz Ammi Nur Baits sebagai berikut. Dalam Islam, tidak dikenal istilah roh gentayangan atau roh kembali ke alam dunia, mendatangi rumahnya, apalagi hidup lagi dalam rupa yang lain, sebagaimana yang diajarkan dalam keyakinan reinkarnasi.

Islam mengajarkan bahwa roh orang yang telah meninggal berada di alam lain, yaitu alam kubur, yang itu sama sekali di luar alam dunia.

Berikut beberapa dalil yang sangat tegas menunjukkan bahwa roh tidak balik ke dunia,

Pertama, firman Allah, membantah cita-cita orang kafir ketika mati, "(Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS. Al-Mukminun: 99 100)

Ayat ini bercerita tentang keadaan orang kafir ketika di ambang kematian. Bagaimana harapan mereka dan permohonan mereka untuk dikembalikan ke dunia. Agar mereka bisa memperbaiki amalnya, sehingga bisa mendapat kebahagiaan ketika di akhirat. Namun ini hanyalah harapan kosong, yang tak akan pernah terwujud. Karena sebentar lagi mereka akan menghadapi alam kubur. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/493).

Kedua, hadis harapan orang yang mati syahid agar mereka dikembalikan lagi, sehingga bisa berperang di jalan Allah, untuk mendapatkan syahid. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, beliau menceritakan,

Suatu hari, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertemu denganku.

"Wahai Jabir, mengapa engkau sedih?" tanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

"Ya Rasulullah, ayahku mati syahid. Sementara beliau meninggalkan beberapa anak dan utang." jawab Jabir.

"Maukah kuceritakan nikmat besar yang Allah berikan kepada ayahmu?" tawar Nabi.

"Tentu, ya Rasulullah." jawab Jabir.

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Allah tidak pernah berbicara dengan seorangpun kecuali di balik tabir. Sementara itu, Allah menghidupkan ayahmu, dan berbicara dengannya secara berhadap-hadapan. Allah berfirman, "Wahai hamba-Ku, mintalah sesuatu kepada-Ku, pasti Aku beri."

"Ya Allah, hidupkanlah aku kembali (di dunia), agar aku bisa berperang di jalan-Mu untuk kedua kalinya." jawab hamba.

Allah berfirman, "Telah menjadi ketetapan-Ku sebelumnya, bahwa mereka tidak akan dikembalikan ke dunia." (HR. Turmudzi 3010, Ibnu Hibban 7022 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Penampakan orang yang telah meninggal

Bertemu dengan orang yang telah meninggal ada dua keadaan:

Bertemu di alam mimpi. Terdapat beberapa dalil dan keterangan ulama bahwa hal ini mungkin saja terjadi. Orang yang masih hidup bisa bertemu dengan orang yang meninggal dunia dalam dunia mimpi.

Bertemu di alam nyata. Ini tidak mungkin dan mustahil terjadi. Andaipun ada orang yang melihat sosok rupa orang yang telah meninggal, sejatinya itu adalah jin yang menampakkan diri dengan rupa jenazah.

Tidak tenang karena utang

Terdapat dalil yang menegaskan bahwa mayat merasa sangat tidak tenang, ketika dia memiliki utang, hingga utang itu dilunasi.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya, sampai (utang itu) dilunasi." (HR. Turmudzi 1078, Ibnu Majah 2413, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam hadis lain, dari Jabir bin Abdillah, beliau menceritakan,

Ada seseorang yang meninggal. Kami memandikannya, memberinya minyak wangi, dan mengkafaninya. Kemudian kami bawa ke hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, agar beliau mensalatinya.

"Mohon anda mensalatinya." pinta kami. Beliaupun melangkah satu langkah.

"Apakah dia punya utang?" tanya Nabi. "Ada, dua dinar." jawab kami.

Tiba-tiba beliau kembali. Hingga Abu Qatadah siap menanggung utangnya.

"Dua dinar tanggunganku." Kata Abu Qotadah.

"Menjadi tanggungan orang yang berutang dan mayat telah lepas tangan?" tanya Nabi. "Ya, siap." Jawab Jabir.

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersedia mensalati jenazahnya.

Keesokan harinya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Qatadah, "Bagaimana dengan dua dinar?"

"Dia baru meninggal kemarin." kata Abu Qatadah.

Besoknya, Abu Qatadah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, "Telah saya lunasi." kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sekarang, kulit mayat sudah menjadi dingin." (HR. Ahmad 14536, Hakim 2346, dan dishahihkan Ad-dzahabi dan Syuaib al-Arnauth).

Syaikh Athiyah Muhammad Sali mengatakan, "Berdasarkan hadis ini, ulama mengatakan, "Orang yang berutang baru terbebas tanggung jawabnya secara sempurna ketika utang itu dilunasi. Bukan ketika ada orang yang menjamin. Abu Qatadah menanggung utang itu kemarin lusa. Namun baru beliau lunasi setelah dua hari berlalu. Dan sekaranglah kulit mayat menjadi dingin dari panasnya utang."

Di mana mayat mengalami kepanasan karena utang yang belum dibayar? Tentu saja di alam kuburnya, bukan di alam nyata. Allahu alam. [islamweb]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x