Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 18 Desember 2018 | 22:04 WIB

Para Sahabat Rasulullah tidak Bermazhab

Senin, 14 Mei 2018 | 13:00 WIB

Berita Terkait

Para Sahabat Rasulullah tidak Bermazhab
(Foto: Ilustrasi)

BEBERAPA muslim belakangan atau memang sejak lama banyak yang menolak untuk mengikuti mazhab dan bahkan memaksa orang lain untuk pula tidak bermazhab.

Salah satu alasannya karena memang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang hidup di generasi terbaik umat Islam ini tidak bermazhab dan memang tidak ada mazhab. Memang iya, para sahabat Rasulullah tidak bermazhab.

Akan tetapi tidak sesimpel itu untuk kita akhirnya menolak mazhab fikh dengan alasan yang sangat rapuh seperti itu. Coba teliti lagi apa fungsi dan manfaat mazhab fikih itu sendiri. Kenapa bermazhab?

Mazhab fikih itu ada sebagai jalan untuk kita memahami alquran dan sunah Rasulullah. Dia ibarat peta yang menuntun kita agar tidak tersesat dalam memahami teks-teks syariah. Sebagai tangga yang menyampaikan kita kepada pemahaman alquran dan sunah yang memang tinggi, yang tidak mungkin kita mencapainya dengan badan sendiri.

Semua itu karena memang memahami alquran dan sunah itu tidak semudah dan tidak sesimpel yang dibayangkan. Bukan hanya karena paham bahasa Arab lalu bisa menggali hukum dari 2 sumber utama tersebut. Kalau memang memahami kedua sumber mulia itu hanya dengan bermodal bahasa Arab, tentu semua orang di negara-negara berbahasa Arab itu menjadi mujtahid semua. Tapi nyatanya tidak.

Selain bahasa Arab, masih banyak ilmu-ilmu yang harus dikuasai sampai akhirnya bisa menduduki bangku mujtahid yang mana layak untuk menggali hukum dari alquran dan sunah. Karena itulah kita membutuhkan tangga sebagai wasilah mencapai tujuan; yakni alquran dan sunah.

Kata ulama ushul; "lil-Wasail hukumul-maqashid", yang artinya "wasilah itu hukumnya sama dengan hukum tujuannya". Merujuk kepada alquran dan sunah itu wajib, akan tetapi sulit untuk mencapai itu kecuali ada petanya dan tangganya. Maka mendapatkan tangga itu menjadi wajib, karena tujuannya itu wajib. Dengan kesadaran diri atas ketidak mampuan dan kehati-hatian dalam beragama akan jatuh pada kekeliruan, maka bermazhab itu menjadi sebuah keharusan.

Kalau menolak bermazhab dan kembali langsung kepada alquran dan sunah, akan tetapi masih memahami makna teks alquran dari Quran terjemah yang dikeluarkan Departemen Agama atau penerbit lain; itu namanya bukan kembali ke alquran, itu namanya mengikuti Departemen Agama atau penerbit jadi penerjemah alquran tersebut. Karena kalau memang mampu, harusnya jauhkan semua media-media itu, langsung saja maknai teks-teks alquran itu sendiri, tanpa alat.

Lalu kalau menolak bermazhab dan menghukumi sesuatu denga hadis yang ada pada kita sahih al-Bukhari atau ulama hadis lainnya. Itu namanya bukan kembali ke alquran dan sunah, itu namanya mengikuti Imam al-Bukhari. Kalau memang mampu menggali hukum tanpa perantara mazhab, harus juga mempu menstatusi hadis sendiri tanpa rujukan manusia lain. Tidak al-Bukhari, tapi al-Albani, itu juga sama, mengikuti manusia namanya, bukan mengikuti alquran dan sunah.

[baca lanjutan: Ternyata ini Mazhab di Masa Para Sahabat]

Komentar

Embed Widget
x