Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 23:32 WIB

Buah Jatuh tidak Jauh dari Pohonnya

Selasa, 8 Mei 2018 | 05:00 WIB

Berita Terkait

Buah Jatuh tidak Jauh dari Pohonnya
(Foto: Istimewa)

SELAMA ini kita percaya bahwa bentuk fisik dan beberapa sifat akan diturunkan kepada anak dan cucu. Karena ada pepatah, buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Sehingga manusia selektif memilih pasangannya agar menghasilkan keturunan anak-cucu yang berkualitas baik fisik dan sifatnya. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa kesalehan juga bisa diturunkan. Artinya karena kesalehan bapak-ibu atau kakek-nenek, Allah menjaga anak keturunan mereka dan menjadikan anak dan cucu mereka kelak juga menjadi orang yang saleh.

Bisa kita lihat gambaran contohnya dalam Alquran. Allah Taala berfirman,

"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya" (QS. Al Kahfi: 82)

Al-Qurthubi rahimahullahu menafsirkan,

"Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Taala menjaga kesalehan seseorang dan menjaga kesalehan anak keturunannya meskipun jauh darinya [beberapa generasi setelahnya pent]. Diriwayatkan [dalam kisah pada ayat] bahwa Allah menjaga keshalihan pada generasi ketujuh dari keturunannya."1

Bahkan ada beberapa ulama yang menjelaskan bahwa tidak mesti kesalehan orangtua atau kakek-nenek. Akan tetapi kesalehan kakek buyutnya beberapa generasi sebelumnya. Sebagaimana firman Allah Taala,

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya" [Ath Thuur: 21]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadiy menafsirkan,

"Keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orangtua/kakek-buyut mereka. Maka keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Maka lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak-keturunan itu sendiri. Mereka yang disebut ini, maka Allah akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orangtua/kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya [kedudukan anak lebih rendah dari orang tua pent], sebagai balasan bagi orangtua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. Akan tetapi dengan hal ini, Allah tidak mengurangi pahala orangtua mereka sedikitpun."2

Karenanya perhatikan dan pilihlah pasangan yang saleh, ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. []

1. Al-Jami liahkamil Quran 39/11, Darul Kutubil Mishriyah, Koiro, cet. Ke-2, 1384 H, Syamilah
2. Taisir Karimir rahmah hal 780, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet.I, 1424 H

Komentar

Embed Widget
x