Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 Agustus 2018 | 19:13 WIB

Ketulusan Berdialog Menuju Kemajuan Bangsa

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 7 Mei 2018 | 00:04 WIB
Ketulusan Berdialog Menuju Kemajuan Bangsa
(Foto: ilustrasi)

MENURUT kisah yang diabadikan dalam lembaran sejarah, setiap kali Imam Asy-Syafii mau berdialog atau berdebat dengan seseorang, beliau selalu berdoa agar yang keluar dari mulut lawan debatnya adalah KEBENARAN. Mengapa?

Karena pendapat yang benar, datangnya dari siapapun juga, adalah mutiara berharga untuk kebahagiaan dan kemajuan bersama. Kalah debat tak sedih, menang debat tak sombong. Sungguh teladan luar biasa, bukan?

Mencermati dialog dan debat di media kini, kita akan menjumpai potret yang terbalik dari kisah di atas. Rata-rata bersemangat membantai dan mempermalukan lawan debatnya. Maka dicarilah data yang kira-kira mampu membungkam lawan dialog, diungkapkannya kepada publik walau tak ada hubungannya dengan materi debat. Tujuannya cuma satu: "hancurkan lawan debat, walaupun dia benar."

Ironi debat di bangsa kita tidak berhenti di sini. Perdebatan yang sudah selesai diperdebatkan kembali dengan semangat memviralkan untuk mencari juatifikasi. Mereka tunduk pada kaidah "kebohongan yang ditampilkan berulang-ulang akhirnya akan dianggap fakta."

Perdebatan tentang debat ternyata tak kalah seru. Materi substansi tak lagi menjadi penting. Hal-hal lampiran berupa aib diri lalu dipamerkan. Mungkinkah dialog dan debat seperti ini mampu mendongkrak nasib bangsa ini?

Benar bahwa setiap orang bisa memiliki pandangan sendiri-sendiri. Benar pula bahwa setiap orang berhak menyampaikan pendapat. Namun, menghargai pandangan orang lain dengan melihat sisi positif yang mungkin terkandung di dalamnya adalah sikap arif yang diwariskan para pendiri bangsa ini. Kemanakah sikap arif ini pergi saat ini?

Orang yang diuntungkan oleh sebuah sistem pasti senang dengan sistem itu. Orang diuntungkan oleh seorang pejabat pasti mendukung pejabat itu. Ini manusiawi. Namun tak adakah sedikit ruang di hati untuk memaklumi orang yang tersakiti oleh sistem dan pejabat itu? Begitu juga sebaliknya.

Indahnya sikap obyektif dan arif ada dalam kemampuan menghadirkan yang senyatanya dengan cara yang bijaksana. Mari kita berusaha obyektif dan arif demi Indonesia masa depan yang jaya dan wibawa. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget

x