Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 18 Desember 2018 | 00:27 WIB

Tipu Daya Iblis Ketika Membaca Alquran

Selasa, 24 April 2018 | 10:00 WIB

Berita Terkait

Tipu Daya Iblis Ketika Membaca Alquran
(Foto: Ilustrasi)

KETAHUILAH bahwa Iblis menggoda umat manusia dengan memanfaatkan banyak media dan menggunakan ragam cara.

Di antaranya adalah hal-hal yang nampak yang seseorang lebih menonjolkan sisi nafsunya, sehingga ia terjatuh pada seuatu bidang keilmuan yang bisa menyesatkannya. Juga hal-hal yang samar, yaitu bidang keilmuan yang tidak diketahui oleh kebanyakan ulama.

Tipu daya Iblis yang paling mencolok adalah keseriusan seseorang dalam mempelajari beberapa qira`ah syadzah (bacaan Alquran yang asing). Orang itu menghabiskan usianya untuk mengoleksinya, membuat buku dan memperdengarkannya, sampai-sampai keseriusan itu melalaikannya dari hal-hal yang fardhu dan wajib.

Mungkin saja suatu saat kita menyaksikan seorang imam masjid yang pandai membaca Alquran dengan pelbagai versi bacaannya, tetapi ia tidak mengetahui hal-hal yang membatalkan salat. Bahkan bisa juga orang seperti memang senang dikedepankan, sehingga tidak terlihat sebagai orang bodoh yang akibatnya ia enggan duduk bersama ulama dan belajar kepada mereka.

Andai mereka mau sedikit berpikir tentu mereka akan paham bahwa tujuan utama terhadap Alquran adalah menghafalkannya, memperbaiki bacaan-bacaannya saat membacanya, memahaminya, mengamalkannya, lalu mempelajari hal-hal yang bisa memperbaiki dirinya, menyucikan akhlaknya, kemudian berkonsentrasi terhadap hal-hal yang penting dalam bidang keilmuan syariat.

Merupakan suatu kerugian yang besar jika seseorang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang mana selainnya jauh lebih penting dan lebih bermanfaat baginya.

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Alquran diturunkan untuk diamalkan, tetapi umat manusia manjadikan bacaannya sebagai suatu amalan."

Di antara tipu daya Iblis adalah seseorang di antara para qari (ahli bacaan Alquran) itu membaca dengan bacaan-bacaan syadz di mihrabnya dan meninggalkan bacaan-bacaan yang mutawatir dan masyhur. Padahal menurut ulama, salat dengan menggunakan bacaan-bacaan Syadz itu tidak sah.

Namun tujuan imam itu adalah memperlihatkan bacaan-bacaan asing di telinga orang banyak agar mendapatkan pujian, menarik simpati mereka dan ia dianggap mumpuni dalam hal membaca Alquran.

Di antara mereka ada yang tukang mengoleksi varian-varian bacaan Alquran, sehingga ia membaca surat Al-Fatihah dengan perlbagai versinya dan lain-lain. Padahal ini tidak boleh, karena bacaan-bacaan ini mengeluarkan Alquran dari urutan-urutannya.

Di antara mereka ada yang membaca ayat-ayat sajdah, tahlil atau takbir, padahal hal seperti ini hukumnya makruh.

Mereka menyalakan banyak lampu untuk mengkhatam bacaan Alquran, sehingga di samping membuang-buang harta juga menyerupai orang-orang Majusi. Di sana terjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan pada malam hari untuk melakukan kerusakan. Namun Iblis mengelabui mereka bahwa acara seperti ini memuliakan Islam.

Sungguh perbuatan seperti ini merupakan tipu daya yang besar dari iblis, karena sesungguhnya cara memuliakan Islam hanya dengan mengamalkan hal-hal yang disyariatkan di dalamnya.

Termasuk di antara gangguan Iblis adalah sebagian dari para ahli bacaan Alquran itu ada seorang qari yang membolehkan seseorang mengaku-ngaku pernah mengaji kepadanya, mungkin dengan jalan ijazah darinya, sehingga orang tersebut menyatakan, "Ia telah mengabarkan kepada kami" dengan cara mengelabui.

Ia mengira bahwa hal seperti ini sangat ringan, karena ia hanya meriwayatkan varian-varian bacaan saja, bahkan ia mengira itu sebagai perbuatan yang baik, ia lupa bahwa perbuatan seperti ini adalah kedustaan yang pelakunya termasuk dalam jajaran para pembohong.

Termasuk di antaranya adalah seorang muqri (ahli Alquran) senior menyimak dua atau tiga orang yang menghafal kepadanya, sementara ia berbincang-bincang dengan orang sowan kepadanya. Hal ini tidak mungkin, karena hati tidak akan kuasa berkonsentrasi menanggapi semuanya. Kemudian ia menuliskan sebuah sertifikat yang menerangkan bahwa si fulan telah menghafal Alquran kepada fulan dengan versi bacaan imam tertentu.

Mengenai pola setoran hafalan Alquran sebagian ulama menyatakan, "Seyogianya hanya dua orang atau tiga orang yang mengelilingi seorang guru Alquran."

Termasuk di antaranya adalah sebagian ahli bacaan Alquran berlomba-lomba dalam membaca Alquran. Saya (Ibnul Jauzi) sendiri pernah menyaksikan guru-guru mereka yang mengundang orang banyak, lalu menyuruh seseorang untuk mengkhatamkan Alquran tiga kali dalam rentang waktu siang hari saja, jika ia tidak berhasil maka ia dicela. Namun jika berhasil maka ia dipuja dan orang-orang awam yang hadir tergeleng-geleng kekaguman.

Di sini Iblis memperlihatkan kepada mereka bahwa dalam memperbanyak bacaan terdapat pahala yang banyak. Inilah bentuk muslihat Iblis, karena semestinya membaca Alquran itu harus tulus ikhlas karena Allah, bukan untuk menuai pujian dan hendaknya dibaca dengan pelan-pelan. Allah Taala berfirman,

"Dan Alquran (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap." (QS. Al-Isr` [17]: 106).

Allah Taala berfirman, bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Muzzammil: 4)

Demikian, iblis dan para prajuritnya selalu berusaha menjerumuskan manusia dari jalan Allah. Semoga Allah Taala menjauhkan kita semua dari godaan setan yang terkutuk. []

Komentar

Embed Widget
x