Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 25 April 2018 | 17:47 WIB
 

Pahala Tergantung Alasan Tinggalkan Maksiat (2)

Oleh : - | Selasa, 17 April 2018 | 14:00 WIB
Pahala Tergantung Alasan Tinggalkan Maksiat (2)
(Foto: Istimewa)

KONDISI seseorang ketika meninggalkan maksiat sangat beragam, tergantung dari niatnya. Berikut beberapa keadaan ketika seseorang meninggalkan maksiat: Kondisi ketiga, meninggalkan maksiat karena menjaga wibawa dan kehormatan. Tidak ada dosa dalam kondisi ini, bahkan bisa jadi berpahala jika ada tujuan yang dicintai Allah seperti meninggalkan maksiat karena khawatir terhadap maslahat dakwah.

Ibnul Qoyim mengatakan, "Bebeda antara meninggalkan maksiat karena ingin dekat dengan manusia dan riya kepada mereka, dengan meninggalkan maksiat karena didasari rasa malu, dan khawatir wibawanya jatuh di mata manusia, yang ini tidak dihukum, bahkan bisa jadi diberi pahala, jika di sana ada tujuan baik yang dicintai Allah, seperti menjaga wibawa dakwah atau agar dakwah bisa diterima mereka atau semacamnya." (Syifa al-Alil, hlm. 170)

Kondisi keempat, meninggalkan maksiat karena tidak ada keinginan untuk melakukannya. Meninggalkan maksiat dengan kondisi semacam ini, tidak ada nilai dosa maupun pahala, karena tidak ada amal apapun di sana. Kita tidak berzina, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak minum khamr, karena kita tidak terpikir untuk melakukannya.

Syaikhul Islam mengatakan, "Orang yang berkeinginan untuk maksiat lalu meninggalkannya, ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi dia meninggalkannya karena takut kepada Allah atau karena sebab yang lainnya. Jika dia meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan mencatatnya sebagai satu amal yang sempurna. Sebagaimana ditegaskan dalam hadis, "Catatlah untuknya sebagai kebaikan, sebab dia meninggalkannya karena keagunganku." Namun jika dia meninggalkannya karena selain itu, tidak dicatat sebagai maksiat. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis, "Jika dia tidak mengerjakannya, jangan dicatat sebagai dosa untuknya." Sehingga semua makna hadis bisa saling mendukung." (Majmu al-Fatawa, 10/738).

Kondisi kelima, meninggalkan maksiat karena gagal atau tidak memiliki fasilitas untuk bermaksiat. Misalnya, orang ada orang yang membuka situs gambar kotor, namun tidak berhasil melakukannya karena data habis. Atau dia mengucapkannya, maka terhitung sebagai dosa.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bercerita tentang 4 jenis manusia, diantaranya, "Seseorang yang Allah beri harta, namun tidak Allah beri ilmu. Dia menghabiskan hartanya dan dia keluarkan hartanya pada tempat yang bukan haknya. Seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu. Maka dia berangan-angan, "Andai aku punya harta seperti dia (kelompok ketiga), niscaya aku akan berbuat seperti orang itu." Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberi catatan, "Mereka berdua mendapatkan dosa yang sama." (HR. Ahmad 18024, Ibn Majah 4228, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Demikian, Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Komentar

 
Embed Widget

x