Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 27 Mei 2018 | 21:01 WIB
 

Pahala Tergantung Alasan Tinggalkan Maksiat (1)

Oleh : - | Selasa, 17 April 2018 | 13:00 WIB
Pahala Tergantung Alasan Tinggalkan Maksiat (1)
(Foto: Ilustrasi)

ADA banyak latar belakang ketika orang meninggalkan maksiat. Dan seperti yang kita pahami, nilai yang didapatkan seseorang dari amalnya, tergantung pada niatnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Amal itu tergantung pada niat, dan apa yang diperoleh seseorang sesuai dengan niatnya." (HR. Bukhari 1 & Muslim 5036)

Kondisi seseorang ketika meninggalkan maksiat sangat beragam, tergantung dari niatnya. Berikut beberapa keadaan ketika seseorang meninggalkan maksiat: Kondisi pertama, Meninggalkan maksiat karena takut kepada Allah. Amal ini berpahala, bahkan termasuk amal yang nilainya besar.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Allah berfirman (kepada malaikat), apabila hamba-Ku ingin berbuat dosa, jangan kalian mencatatnya sampai dia mengerjakannya. Jika dia mengerjakannya, maka catat senilai amalnya. Namun jika dia meninggalkannya karena (takut kepada)-Ku, catat sebagai amal kebaikan." (HR. Bukhari 7501).

Dan dalil bahwa upaya ini terhitung sebagai amal soleh yang berpahala besar adalah hadis tentang naungan di mahsyar. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan, ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah di padang mahsyar, salah satunya, Lelaki yang diajak berzina wanita cantik yang punya kedudukan, namun dia menolak dan mengatakan, "Saya takut kepada Allah." (HR. Bukhari 1423 & Muslim 2427).

Kondisi kedua, Meninggalkan maksiat karena ingin mencari perhatian dari manusia. Mereka meninggalkan maksiat dengan harapan dipuji masyarakat. Tindakan semacam ini tidak termasuk amal soleh yang berpahala, bahkan bisa jadi dia berdosa. Karena meninggalkan maksiat termasuk ibadah, dan dia riya dalam ibadahnya.

Ibnu Rajab mengatakan, "Jika orang berkeinginan untuk maksiat, lalu dia tinggalkan karena takut kepada makhluk atau riya di hadapan makhluk, menurut sebagian ulama, Dia dihukum disebabkan meninggalkan maksiat dengan niat semacam ini. karena lebih mendahulukan takut kepada makhluk dibandingkan takut kepada Allah, hukumnya haram. Demikian pula keinginan dia untuk riya di depan makhluk, juga haram. Jika meninggalkan maksiat diiringi dengan niat semacam ini maka dia dihukum untuk perbuatan meninggalkan maksiat ini." (Jami al-Ulum wal Hikam, 2/321).

Keterangan yang lain disampaikan Ibnul Qoyim, "Contoh yang kedua, seperti orang yang meninggalkan maksiat karena selain Allah, bukan karena Allah, maka orang ini dihukum karena meninggalkan maksiat untuk selain Allah sebagaimana manusia dihukum karena melakukan ketaatan untuk selain Allah karena meninggalkan maksiat termasuk amal hati. Dan orang yang beribadah karena motivasi selain Allah maka dia berhak mendapat hukuman. (Syifa al-Alil, hlm. 170).

[baca lanjutan: Pahala Tergantung Alasan Tinggalkan Maksiat (2)]

Komentar

 
Embed Widget

x