Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Juli 2018 | 11:51 WIB
 

Ketika Tujuan Tak Lagi Diutamakan

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 5 April 2018 | 00:06 WIB
Ketika Tujuan Tak Lagi Diutamakan
(Foto: Ilustrasi)

MEMAHAMI tujuan merupakan hal penting yang harus didahulukan dalam upaya melakukan banyak hal. Ada ketenangan batin yang akan hadir jika kita paham tujuan dari apa yang kita lakukan, baik yang berkaitan dengan ibadah ataupun yang berkaitan dengan pekerjaan duniawi kita.

Dalam konteks memahami agama, banyak ulama maqasidiyyun yang berkata bahwa memahami teks secara dzahir saja tanpa memahami makna esensi teks berupa tujuan, illat, rahasia dan hikmah yang terkandung di dalamnya bisa jadi berimplikasi negatif akan bentuk keberagamaan yang muncul.

Salah satu implikasi negatifnya adalah hilangnya karakter agama yang sejuk dan mendamaikan, luwes dan fleksibel, yang kemudian tergantikan dengan karakter keberagamaan yang panas dan penuh konflik, kaku dan penuh dengan kekerasan. Perubahan bentuk syari'at dari satu rasul ke rasul dalam sejarah para utusan dan tetapnya prinsip-prinsip agama dalam setiap risalah mereka sesungguhnya memberikan pelajaran bagi kita bahwa agama ini tegas dalam prinsip namun fleksibel dalam format, menyesuaikan dengan ruang dan waktu, tempat dan masa. Ada ats-tsabit (yang tetap, continue) dan ada yang al-mutaghayyir (yang berubah, chage).

Kalau begitu, beragama itu perlu terus belajar tentang bagaimana dan mengapa, bukan belajar berkata 'pokoknya kalau tidak maka.' Pemahaman yang bagus akan tujuan (maqasid) akan mengantarkan kita pada karakter terus rajin mengkaji dan mengaji dan tidak berpuas diri pada apa yang sudah diketahui demi menjadi manusia yang 'arif, bukan hanya 'alim. Menurut saya, orang dengan karaker seperti inilah yang akan sukses menjalani hidup bergama yang bersahaja, santun dan menenteramkan.

Melupakan tujuan sungguh mengantarkan pada kegagalan. Alkisah ada tiga orang gila di rumah sakit jiwa yang sudah mulai tak kerasan di rumah sakit itu. Mereka merasa bahwa para dokternya sudah gila semua. Mereka bermusyawarah untuk bersepakat untuk kabur pada tengah malam. Tujuan mereka adalah KELUAR RUMAH SAKIT. Mereka menyusun langkah-langkah, mulai mencongkel pintu yang terkunci sampai pada membunuh penjaga (satpam) yang ada di pagar depan. Berhasilkah tujuan mereka?

Mereka berhasil membuka kunci pintu, pintu kamar dan pintu rumah sakit. Mereka mengendap-ngendap mendekati pintu pagar gerbang depan. Ternyata pagar tak terkunci, satpampun tak ada, sedang nopi di warung sebelah. Tiga orang gila itu bersedih kembali ke kamar masing-masing setelah salah seorang diantara mereka berkata: "Waduh, langkah yang kita sepakati gagal. Ternyata satpam yang harus kita bunuh sebelum keluar pagar tak ada di tempat." Mereka lupa bahwa tujuannya adalah keluar, bukan membuhuh satpam. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget

x