Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 22:44 WIB

Anakku Menjadi Korban Keegoisanku

Oleh : - | Jumat, 23 Maret 2018 | 05:00 WIB
Anakku Menjadi Korban Keegoisanku
(Foto: ilustrasi)

"Praaaaaaang, duaaaaaarrrr"

SUARA gaduh benda-benda berjatuhan membangunkanku, dan terakhir suara gelas yang pecah berhasil membangkitkan tubuhku dari tempat tidur dan keluar menuju sumber suara itu. Masih jam 04.00 subuh, azan subuh pun belum berkumandang, tapi suasana rumahku seperti acara lomba masak sekelurahan.

"Ah Bayu, apa lagi kejutan yang kamu buat subuh-subuh begini nak?" gumamku dalam hati sambil melangkahkan kaki menuju dapur. Bayu adalah putra semata wayangku, buah hati terkasihku. Dia anak yang istimewa di mataku dari anak-anak yang lainnya. Dan aku tahu pasti suara gaduh tadi Bayu yang menciptakan. Setiap hari di awal pagiku, memang selalu terbangun oleh semua hal yang dibuat Bayu. Sepertinya aku mulai terbiasa.

Keyakinanku benar adanya, saat kulihat Bayu berada di tengah-tengah mangkok, piring, dan tentunya pecahan gelas yang tadi telah pecah. Tubuh Bayu putih bertaburan tepung, dan tidak ketinggalan lumuran mentega di tangannya dan juga di lantai. Benar seperti ada perlombaan masak dari para pemula, sangat berantakan.

"Bayu, sedang apa nak?"

Pertanyaanku tak mendapat jawaban dari mulut mungil lelaki kecilku yang saat ini genap berusia enam tahun. Bayu tetap asyik mencampurkan tepung dan mentega di piring, bukan mangkok. Sesekali dia berdiri mengambil air di wastafel, dan kembali ke tempat semula dan menuangkan air tersebut di piring yang berisi tepung tadi. Tapi lebih banyak air yang tumpah ke lantai dibanding yang jatuh tepat ke dalam piring. Bayu tetap tidak menghiraukan kehadiranku, pertanyaanku. Dia tetap sibuk dengan kesibukannya, dan aku dengan cepat membersihkan pecahan beling di lantai. Jangan sampai Bayu terluka, pikirku.

Sebelumnya, akan kuperkenalkan lebih jauh tentang anak istimewaku, Bayu. Bayu Pratama Putra, begitulah nama yang ku berikan untuk putraku itu. Lahir dengan keadaan normal, tanpa satu kekurangan pun secara fisik, Alhamdulillah.

Bayu tumbuh layaknya anak-anak kebanyakan, tak ada yang berbeda. Dia merangkak, berguling, belajar berjalan, bermain, tertawa, dan menangis. Tak ada perbedaan, dia tumbuh bersama seperti anak yang lainnya. Dia sangat aktif, bahkan lebih aktif dari anak-anak seumuran atau bahkan yang lebih besar dari Bayu. Dan dari keaktifannya inilah kurasakan perbedaan itu.

Awalnya, aku merasa tumbuh kembang Bayu sama seperti anak-anak seusianya yang lain. Mungkin secara fisik ya, sama. Namun, aktivitas motorik Bayu berbeda dengan teman-temannya. Lama sekali aku menyadari perbedaan ini, aku menganggap hal yang wajar jika anak usia satu tahun bersikap sangat aktif. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, pikirku. Mungkin juga karena aku tidak 24 jam bersamanya, mengontrol atau bahkan melihat tumbuh kembangnya secara langsung.

Pekerjaan dan karierku di sebuah perusahaan BUMN milik pemerintah memang sedang berada di puncak kejayaan saat selesai melahirkan Bayu. Usia Bayu masih tiga bulan, saat aku sudah kembali bekerja dari masa cuti melahirkan. Suamiku sendiri sebenarnya telah melarangku untuk kembali bekerja. Ia memintaku untuk fokus mengurus Bayu, dan sesekali membantunya mengurus beberapa usaha kami. Tapi, keegoisan mengalahkan rasa sayangku ke Bayu.

Buatku, selain keluarga, karier juga penting. Apalagi saat itu aku sedang berada di puncak karierku sebagai seorang direktur perusahaan pemerintah. Bukan perkara keuangan keluarga, karena usaha-usaha yang aku dan suamiku bangun, sudah cukup untuk kehidupan kami. Tapi dari masa gadisku, aku memang pribadi yang tak bisa berdiam diri di rumah, aku ingin melakukan banyak hal di luar rumah, dan dengan bekerja aku merasa bisa menyalurkan semua kreativitas yang memenuhi otakku. Jadilah, aku kembali bekerja, menitipkan bayi Bayu dengan seorang perawat. Ini yang membuat aku tak mengetahui pasti perkembangan, bahkan perbedaan sikap Bayu dari anak-anak lainnya.

Bayu tumbuh sangat aktif, tidak bisa diam, dan jangan berharap Bayu bisa duduk dengan tenang. Dia akan meninggalkan tempat duduk, berjalan dengan cepat, memanjat apapun yang ia rasa bisa dipanjat. Tak jarang emosinya bisa meletup-letup secara tiba-tiba, semua hal yang ia lakukan akan berantakan. Bayu sulit untuk fokus pada satu hal, konsentrasinya gampang terpancing dengan hal lain yang ia lihat, ketidakfokusan Bayu membuatnya sulit diajak ngobrol karena ia tak akan mendengarkan omongan kita. Semua aktivitas yang ia lakukan semuanya selalu berlebihan.

Babysitter Bayu sering melaporkan perkembangan Bayu yang terlalu aktif. Tapi, aku masih menganggap itu wajar, yang namanya anak kecil rasa ingin tahunya selalu lebih besar. Hingga pada akhirnya aku benar-benar lelah dengan semua laporan mbak mengenai perkembangan Bayu, aku lelah setiap kali menghabiskan waktu weekend bersama Bayu, ada saja kelakuan Bayu yang membuatku sendiri tercengang. Tak jarang Bayu, membongkar lemari pakaianku, mengambil baju, celana, rok apapun itu yang terpegang olehnya kemudian ia bawa keluar rumah dan memberinya ke tetangga.

Mungkin untuk sebagian orangtua itu hal yang lucu dari anak yang berusia lima tahun, tapi aku benar-benar lelah dengan semua hal yang Bayu kerjakan. Akhirnya dipenuhi rasa penasaran, kubawa Bayu ke psikolog anak, mungkinkah ini hiperaktif yang wajar? Tapi anak-anak yang lain tidak terlalu seperti Bayu aktifnya. Puluhan pertanyaan kupersiapkan dalam perjalanan menuju psikolog.

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), inilah jawaban psikolog, hasil pemeriksaannya terhadap Bayu, yang membingungkanku tentang penyakit itu sendiri. ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktivitas berlebihan, dan suka membuat keributan.

Bayu mengidap penyakit itu, hiperaktif yang tidak wajar. Selain obat-obatan, Bayu juga harus mengikuti terapi untuk mengontrol sikap aktifnya itu.

Sampai saat itu, aku belum juga berpikir untuk mengakhiri karierku dan fokus dalam perawatan Bayu. Aku menyerahkan tugas itu pada si Mbak, dan si Mbak lah yang membawa Bayu terapi, memberinya obat-obatan, aku hanya ingin tahu tentang laporan perkembangan Bayu saja.

Suamiku pun mulai mengomentariku, tak jarang kemarahan suamiku, kubalas dengan kemarahan ku juga karena aku tak ingin merelakan pekerjaan dan karier yang telah susah payah ku bangun sebelum aku menikah. Setiap pertikaianku dengan suami, selalu menemui jalan buntu, aku masih tetap dengan pendirianku, tak akan berhenti dari pekerjaanku.

Tepatnya, setahun lalu saat Bayu masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga lantai dua rumah terapinya. Kata Mbak, saat itu sedang berlatih yoga untuk mengontrol ketenangan, tiba-tiba Bayu berdiri dari tempat duduknya dan keluar ruangan terapi, berjalan cepat kemudian berlari menaiki tangga, entah apa yang mau ia lakukan. Tubuh Bayu tak seimbang saat kakinya menginjak urutan tangga terakhir, sedikit lagi sampai ke lantai dua, namun tubuh Bayu jatuh berguling bebas kembali ke lantai dasar. Dan aku bertemu dengannya saat Bayu telah di rumah sakit dan dipenuhi perban di tangan dan kakinya.

Tubuh lemah Bayu yang terbaring di ruang kamar rumah sakit, menyadarkan betapa egoisnya aku sebagai seorang ibu. Mungkin tak pantas lagi aku dipanggil ibu, aku adalah wanita yang masih betah dengan sikap egois yang telah ada sejak aku gadis. Dan anakku menjadi korban keegoisanku.

Saat Bayu memerlukan perhatian dari seorang ibu, tapi Bayu malah mendapatkan perhatian itu dari si Mbak, saat ibu adalah sekolah pertama untuk anaknya, Bayu malah merasakan rumah terapi sebagai sekolahnya. Saat ibu adalah tempat pertama dan terakhir anak mendapatkan semua hal baru tentang dunia, Bayu malah tak mendapatkan apapun hal baru ataupun pelajaran hidup dariku. Aku sibuk dengan kesibukkan yang bisa kutinggalkan jika aku mau.

Ya Allah, betapa egoisnya hamba selama ini Rabb, sedikit pun tak ada keseriusan hamba mengurus titipan-Mu ini. Maafkan hamba Ya Allah...maafkan mama nak.

Kupeluk tubuh yang masih terpasang selang infus itu, kupeluk erat, tak ingin ada sedetik pun waktu berlalu tanpa kebersamaanku dengan jagoan istimewaku itu. Genap setahun dari kecelakaan itu, aku mengurus Bayu, mengganti semua rutinitas kantorku dengan rutinitas ternikmat, yaitu mengurus buah hatiku dengan segala kelebihannya. Dan aku mulai terbiasa dan menikmati semua hal yang Bayu lakukan.

Mungkin hal ini juga yang Bayu inginkan dariku, karena perhatian dan kasih sayang seorang ibu dan seorang perawat pasti berbeda. Dalam mengurus Bayu, aku selalu berusaha sabar menghadapi situasi-situasi yang bisa memancing emosi dengan reaksi biasa saja. Aku tak ingin membuat Bayu sedih dan menganggap aku tak menyayanginya. Aku selalu berusaha memberinya teguran dan nasihat dengan kata-kata yang bijak, saat Bayu melakukan hal yang kurang tepat.

Dan bukankah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan contoh bahwa dengan kelembutan, dakwah akan lebih mudah diterima. Dan harapanku, semoga dengan kelembutanku mengurus Bayu, ia akan tumbuh menjadi anak yang saleh, yang bermanfaat dengan kelebihan dan keistimewaan yang telah Allah berikan.

Kubersihkan tubuh Bayu yang sudah dipenuhi tepung, mentega dan air. Aku harus mempersiapkannya untuk ke sekolah. Aku selalu mengatakan terapi itu sebagai sekolah pada Bayu. Aku tak ingin ia merasa berbeda dengan anak-anak lainnya. Setidaknya, saat ini Bayu sudah menunjukkan perubahan kecil, ia sudah bisa merespon obrolan dari orang lain. Bayu mulai bisa memfokuskan pikirannya, walau hanya sesekali. Tapi aku tetap mensyukuri semua perubahan kecil itu.

"Kamu seperti kue nak, boleh mama makan ?" bisikku di telinganya.

"Ayo sekolah, aku mau belajar buat kue, mau makan kue." Jawabnya menarik tanganku untuk segera memandikannya. Ah, jagoan kecilku yang istimewa.

Rasulullah sallallahualaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya ilmu itu dengan belajar, sesungguhnya sifat hilm (lemah lembut) dengan belajar berlemah lembut, barangsiapa yang mencari kebaikan, maka akan diberikan. Dan barangsiapa menjaga kejelekan, maka dia akan dilindungi. " (HR. Thabrani di Al-Ausath, 2663 dan dihasankan oleh Al-Albany). [Chairunnisa Dhiee]

Tags

Komentar

Embed Widget

x