Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 21 Oktober 2018 | 14:45 WIB

Rasulullah, Manusia Biasa yang Diibaratkan Cahaya

Selasa, 20 Maret 2018 | 16:00 WIB

Berita Terkait

Rasulullah, Manusia Biasa yang Diibaratkan Cahaya
(Foto: ilustrasi)

DI dalam Alquran Al-Kariem, sering kali disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam itu cahaya (nur). Misalnya pada ayat-ayat berikut ini. "Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan." (QS. Al-Maidah:15)

Para mufassir sepakat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan cahaya dari Allah adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Jadi pernyataan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah cahaya, memang berasal dari firman Allah Ta'ala. Namun ayat ini tidak menyebutkan bahwa beliau terbuat dari cahaya. Yang disebutkan justru beliau itu sendiri adalah cahaya. Demikian juga dengan ayat lainnya, secara tegas Allah Ta'ala menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diutus sebagai cahaya yang menerangi. Namun tidak dijelaskan bahwa fisik beliau terbuat dari cahaya.

"Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi." (QS. Al-Ahzab: 45-46)

Kalau diperhatikan, ternyata bukan hanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja yang di dalam Alquran disebut sebagai cahaya. Bahkan Allah Ta'ala pun menyebutkan dirinya sebagai cahaya, sebagaimana yang kita baca dalam surat An-Nur berikut ini. "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS At-Taghabun:8)

Para mufasir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan cahaya di ayat ini adalah Alquran. Jadi bisa disimpulkan bahwa dalam beberapa kesempatan yang berbeda, Alquran menyebut Allah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Alquran Al-Kariem sebagai cahaya. Tentunya, yang dimaksudkan adalah sebuah makna dan pengibaratan, bukan cahaya dari bentuk fisiknya. Dan yang terpenting, tidak ada penjelasan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terbuat dari cahaya. Bahkan secara fisik, diri beliau pun bukan cahaya. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam hanya manusia biasa, butuh makan, minum, menikah dan bahkan berjalan di pasar.

Dan mereka berkata, "Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?. (QS. Al-Furqan:7)

Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri yang menyatakan bahwa dirinya hanya manusia biasa. Bedanya hanya karena beliau menerima wahyu dari Allah Ta'ala saja. Selebihnya, manusia biasa yang lahir dari rahim ibunya. "Maha suci Tuhanku, aku ini tidak lain hanyalah manusia yang diutus." (QS. Al-Isra':93)

"Katakanlah, aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian." (QS. Al-Kahfi: 110). Maka penjelasan yang paling kuat dalam masalah cahaya Muhammad ini adalah bahwa secara fisik beliau shallallahu 'alaihi wasasallam adalah manusia biasa, sama dengan manusia lainnya. Namun secara risalah dan hidayah, beliau memang ibarat cahaya dari Allah untuk semua umat manusia. Dan sifat fisik beliau shallallahu 'alaihi wasallam itu, sama sekali tidak mengurangi derajat beliau yang tinggi. Juga tidak membuat kita menjadi kurang menghormati beliau. Hormat dan kecintaan kita kepada beliau bukan karena beliau terbuat dari cahaya secara fisik, melainkan karena Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk menghormati dan mencintai beliau. Sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran:31)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc.]

Komentar

Embed Widget
x