Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 April 2018 | 00:38 WIB
 

Kalian tidak Sabar Memandang Allah

Oleh : - | Jumat, 16 Maret 2018 | 05:00 WIB
Kalian tidak Sabar Memandang Allah
(Foto: ilustrasi)

SYEIKH Ibnu Athaillah As-Sakandary berkata: Allah swt maha mengetahui, sesungguhnya dirimu tidak sabar untuk menyaksikan-Nya, maka Allah swt mempersaksikan padamu apa yang tampak dari-Nya.

Anda semua memang tidak sabar untuk segera memandang Allah Taala, dan Allah swt, maha tahu itu semua, lalu Dia menampakkan ciptaan-Nya padamu. Anda bisa memandang yang tersembunyi di balik ciptaan-Nya, maka di sanalah ada aktivitas Illahi, Asma dan Sifat-Nya, lalu anda bisa memandang-Nya dengan Mata Hati. Namun mata kepala terbatas pada ciptaan-Nya belaka. Itulah yang disebut dengan memandang di balik hijab. Suatu karomah kemuliaan bagimu sekaligus sebagai pertolongan-Nya padamu, dimana anda tidak terhijab dari-Nya di dunia ini.

Dalam hikmah-hikmah terdahulu Ibnu Athaillah As-Sakandary, bahkan mengurai panjang lebar mengenai tidak adanya alasan, seseorang untuk menegaskan bahwa Allah itu terhijab oleh segala sesuatu, karena Allah swt menyertai segala sesuatu, Ada sebelum segala sesuatu ada, bersama segala sesuatu, dan segala sesuatu menuju kepada-Nya, kembali kepada-Nya, hanya bagi-Nya. Dia adalah Satu-satunya, dan Dia adalah Yang Maha Dekat dibanding segalanya.

Karena itu beliau juga melanjutkan: "Ketika Allah swt, mengetahui adanya kebosanan darimu, maka Allah swt, memberikan ragam warna taat kepadamu. Dan Allah swt, Maha Tahu adanya ambisi dalam dirimu, maka Allah swt membatasinya bagimu dalam sebagian waktu, agar hasratmu adalah menegakkan salat, bukan wujudnya salat. Karena tidak setiap orang yang salat itu adalah penegak salat."

Manusia itu punya sifat pembosan, rasa berat, rasa sembrono, dan sekaligus punya ambisi. Namun semua itu merupakan tanda akan kelemahan manusia. Oleh sebab itu Allah swt, memberikan ragam dan macam ibadah, dengan waktu yang berbeda, bentuk ibadah yang berbeda pula, agar setiap perpindahan dari satu macam ibadah ke ragam lainnya, tetap bernilai ubudiyah kepada Allah swt.

Namun manusia punya ambisi berlebihan. Karena itu pula Allah memberikan batas-batas waktu agar nikmat Allah swt, terus berlangsung. Dua nikmat dalam peragaman ibadah dan pembatasan waktu ibadah, adalah wujud kasih sayang-Nya kepadamu.

Bosan dan ambisi adalah dua sifat yang berbahaya bagi hamba Allah Taala, karena jika dibiarkan akan memanjakan hawa nafsu dan semakin menjauhkan dari Allah swt.

Dengan demikian orientasi para hamba bukan pada wujud ibadahnya, wujud salatnya, tetapi pada penegakan salatnya. Tidak semua orang salat benar-benar menjadi "penegak salat". Muqimus-salat berarti menegakkan melalui pemeliharaan lahir batin, hanya Lillahi Taala. Tidak ada bayangan, gambaran, atau imajinasi, bahkan pikiran kemana-mana, selain hanya Allah Taala saja. Itulah sang penegak salat.[]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x