Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 19 Oktober 2018 | 01:39 WIB

Dialog Pagi: Tak Mengapa dengan Umurmu

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 13 Maret 2018 | 03:31 WIB

Berita Terkait

Dialog Pagi: Tak Mengapa dengan Umurmu
(Foto: Ilustrasi)

ADA banyak anak muda yang ingin cepat menjadi tua agar pendapatnya diperhatikan oleh banyak orang. Rupanya mereka sakit hati saat mendengar: "Anak kecil jangan ikut-ikut. Ini urusan orang dewasa. "Ada banyak orang tua yang ingin kembali muda agar bisa bergaya up to date. Rupanya mereka tak enak rasa mendengar: "Ini gaya remaja, orang tua bau tanah tak elok ikut-ikut."

Usia atau umur sering kali menjadi materi dialog berkaitan penerimaan dan penolakan, pujian dan hinaan, serta keberuntungan dan kerugian. Tak selalu yang muda yang diterima dan dipuji, sebagaimana tak semua yang tua yang ditolak dan dihina. Masalahnya adalah terletak pada nilai atau isi yang ada dalam umur itu, sebanyak apakah prestasi kebaikan yang ada di dalamnya.

Suatu pagi, seorang isteri berbisik pada suaminya: "Usiaku sudah tua, sudah 55 tahun, usia yang tak muda lagi. Masih sayangkah engkau kepadaku?" Suaminya menjawab dengan halus: "Ku tak peduli walau umurmu 85 tahun. Bunga tetaplah bunga walau berusia 1.000 tahun." Isterinya tersenyum manis sekali semanis bunga mawar yang mekar pagi hari.

Isilah umur yang Allah anugerahkan dengan kebaikan-kebaikan. Tak perlu dikeluhkan jumlah angka yang mewakili usia kita. Orang yang sudah tua kini, dulunya adalah muda. Orang yang muda kini, nantinya juga akan tua. Umur tak berhenti, semua berjalan menuju kematian. Syukuri saja dan teruslah berbuat baik agar tetap menjadi bunga, bukan menjadi duri, dalam pohon kehidupan. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x