Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 16 November 2018 | 18:47 WIB

Percaya Diri Berlebihan Hambat Produktivitas

Kamis, 8 Maret 2018 | 13:00 WIB

Berita Terkait

Percaya Diri Berlebihan Hambat Produktivitas
(Foto: Ilustrasi)

PERCAYA diri tentu baik. Namun, bagaimana jika perasaan tersebut berubah menjadi terlalu percaya diri?

Mungkin Anda pernah melihat seseorang yang terlalu percaya diri. Mari baca ilustrasi kisah Mawar berikut.

Mawar adalah seorang gadis cantik dan pintar, sehingga ia sering menerima sanjungan dari orang-orang di sekitarnya. Di akhir tahun sekolah, ia pun lulus dengan nilai memuaskan dan memperoleh kursi di perguruan tinggi favorit. Namun, perubahan terjadi. Lingkungan dan suasana di bangku kuliah membuat Mawar sulit beradaptasi karena sebelumnya ia terlalu puas dan yakin dengan kemampuannya. Mawar pun beberapa kali gagal dalam ujian.

Dalam psikologi ada istilah fixed mindset, secara sederhana yaitu pola pikir seseorang yang enggan berkembang, lebih senang dan nyaman dengan apa yang sudah ada, seperti situasi atau kemampuan yang dimiliki. Seseorang yang terlalu percaya diri dan cenderung mudah puas dengan apa yang ada biasanya memiliki pola pikir demikian. Tidak jarang mereka pun akhirnya tidak melakukan upaya lebih untuk meraih hal baru yang sebenarnya ingin dicapainya.

Sebenarnya ada apa dengan kondisi percaya diri yang berlebihan ini? Melansir dari laman productivemuslim.com, menyampaikan bahwa hal ini dapat menghambat pencapaian karena terlalu percaya diri dapat mengurangi produktivitas.

Percaya diri membuat seseorang menjadi terlalu cepat puas dengan sesuatu yang ada. Sering kali ia menjadi lupa bahwa kemampuan mereka adalah sesuatu yang harus tetap selalu diasah. Belajar bukanlah sesuatu yang bisa berhenti. Belajar haruslah selalu terus menerus dilakukan sepanjang usia.

Berikut ini beberapa yang bisa kita lakukan agar kita tidak lagi berlebihan dalam percaya diri:

1. Mengingat dari mana kemampuan kita berasal

Sebagai muslim, kita harus senantiasa mengingat bahwa kemampuan yang kita miliki sesungguhnya adalah pemberian dari Allah swt. Itu tidak hadir begitu saja dalam diri kita. Allah-lah yang telah melekatkan kemampuan itu buat kita untuk bisa kita gunakan sebaik-baiknya untuk menebar kebaikan dan memperoleh rida-Nya. Daripada kita berbangga dengan yang kita miliki, jauh lebih baik untuk kita mensyukurinya.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingakari (nikmat-Ku), maka azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim [14]: 7)

2. Bersungguh-sungguh

Seperti kata peribahasa, man jadda wa jadda, barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka akan memperoleh bagiannya.

Jika kita sedang menjalankan tugas, cobalah bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu, "Untuk apa saya melakukan ini?" Jika kita sudah memiliki alasan dan tujuan yang jelas, insya Allah kita pun menjadi lebih mudah dalam menjalankannya. Bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu tugas pun hendaknya untuk memperoleh rida Allah swt. Melakukannya dalam rangka ibadah, sehingga tugas tersebut tidak sia-sia. Selalu meluruskan niat dalam melakukan sesuatu, insya Allah dapat menghindarkan kita dari rasa percaya diri yang berlebihan.

3. Renungi beberapa pertanyaan berikut

Menanyakan kepada diri sendiri beberapa pertanyaan berikut insya Allah dapat menjadi bahan renungan yang bisa menghindarkan kita untuk percaya diri berlebihan meskipun kita memiliki kemampuan yang baik.

- Kesuksesan kita adalah untuk Allah swt., sehingga cara seperti apakah yang tidak akan membuat-Nya murka?

- Apakah aktivitas yang saya lakukan bermanfaat untuk orang lain?

- Apakah percaya diri yang saya rasakan memberikan pengaruh negatif?

4. Berusaha menjadi pekerja keras

Berkeinginan menjadi pekerja keras, bukannya menjadi pintar, dapat menumbuhkan semangat dalam mewujudkan sesuatu. Hal ini juga dapat melatih kita untuk menjadi bijak. Sehingga ketika gagal melakukan sesuatu, kita akan mempelajari kesalahan yang terjadi. Kita tetap belajar dan tidak merasa selalu benar. [An Nisaa Gettar]

Komentar

Embed Widget
x