Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 23 September 2018 | 14:06 WIB

Kirim Pahala untuk Orangtua atau Diri Sendiri?

Selasa, 6 Maret 2018 | 12:00 WIB

Berita Terkait

Kirim Pahala untuk Orangtua atau Diri Sendiri?
(Foto: Ilustrasi)

AHMAD bin Abdul Halim Al Haroni dalam Majmu Fatawanya pernah ditanyakan, "Bagaimana dengan orang yang membaca Al Quran Al Azhim atau sebagian Al Quran, apakah lebih utama dia menghadiahkan pahala bacaan kepada kedua orang tuanya dan kaum muslimin yang sudah mati, ataukah lebih baik pahala tersebut untuk dirinya sendiri? " .

Beliau rahimahullah menjawab: Sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang mencocoki petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah menyampaikan dalam khutbahnya, "Sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam-. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap bidah adalah sesat."

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, "Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka." Ibnu Masud mengatakan, "Siapa saja di antara kalian yang ingin mengikuti petunjuk, maka ambillah petunjuk dari orang-orang yang sudah mati. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah. Mereka yang harus diikuti adalah para sahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam-."

Jika kita sudah mengenal beberapa landasan di atas, maka perkara yang telah maruf di tengah-tengah kaum muslimin generasi utama umat ini (yaitu di masa para sahabat dan tabiin, pen) bahwasanya mereka beribadah kepada Allah hanya dengan ibadah yang disyariatkan, baik dalam ibadah yang wajib maupun sunnah; baik amalan shalat, puasa, atau membaca Al Quran, berdzikir dan amalan lainnya. Mereka pun selalu mendoakan mukminin dan mukminat yang masih hidup atau yang telah mati dalam shalat jenazah, ziarah kubur dan yang lainnya sebagaimana hal ini diperintahkan oleh Allah. Telah diriwayatkan pula dari sekelompok ulama salaf mengenai setiap penutup sesuatu ada doa yang mustajab. Apabila seseorang di setiap ujung penutup mendoakan dirinya, kedua orang tuanya, guru-gurunya, dan kaum mukminin-mukminat yang lainnya, ini adalah ajaran yang disyariatkan. Begitu pula doa mereka ketika shalat malam dan tempat-tempat mustajab lainnya.

Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan sedekah pada mayit dan memerintahkan pula untuk menunaikan utang puasa si mayit. Jadi, sedekah untuk mayit merupakan amal sholeh. Begitu pula terdapat ajaran dalam agama ini untuk menunaikan utang puasa si mayit.

Oleh karena itu, sebagian ulama membolehkan mengirimkan pahala ibadah maliyah (yang terdapat pengorbanan harta, semacam sedekah) dan ibadah badaniyah kepada kaum muslimin yang sudah mati. Sebagaimana hal ini adalah pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, sebagian ulama Malikiyah dan Syafiiyah. Jika mereka menghadiahkan pahala puasa, shalat atau pahala bacaan Quran maka ini diperbolehkan menurut mereka. Namun, mayoritas ulama Malikiyah dan Syafiiyah mengatakan bahwa yang disyariatkan dalam masalah ini hanyalah untuk ibadah maliyah saja.

Oleh karena itu, tidak kita temui pada kebiasaan para ulama salaf, jika mereka melakukan shalat, puasa, haji, atau membaca Al Quran; mereka menghadiahkan pahala amalan mereka kepada kaum muslimin yang sudah mati atau kepada orang-orang yang istimewa dari kaum muslimin. Bahkan kebiasaan dari salaf adalah melakukan amalan yang disyariatkan yang telah disebutkan di atas. Oleh karena itu, setiap orang tidak boleh melampaui jalan hidup para salaf karena mereka tentu lebih utama dan lebih sempurna dalam beramal. Wallahu alam.

NB: Yang dimaksudkan kirim pahala dari amalan badaniyah ataupun maliyah sebagaimana yang dibolehkan oleh sebagian ulama bukanlah dengan mengumpulkan orang-orang lalu membacakan surat tertentu secara berjamaah dan ditentukan pula pada hari tertentu (semisal hari ke-7, 40, 100, dst). Jadi tidaklah demikian yang dimaksudkan oleh para ulama tersebut. Apalagi kalau acara tersebut diadakan di kediaman si mayit, ini jelas suatu yang terlarang karena ini termasuk acara matam (kumpul-kumpul) yang dilarang. Seharusnya keluarga mayit dihibur dengan diberi makan dan segala keperluan karena mereka saat itu dalam keadaan susah, bukan malah keluarga mayit yang repot-repot menyediakan makanan untuk acara semacam ini. Wallahu alam.

Semoga dengan semakin bertambah ilmu, kaum muslimin dapat semakin merubah sikap dan pendiriannya yang keliru selama ini. Semoga Allah selalu memberi kita hidayah demi hidayah. Amin. [Disadur dari Majmu Al Fatawa, 24/321-323, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni/ Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

Embed Widget
x