Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 13:47 WIB

Ulama Berbeda Soal Khusyuk Bukan Syarat Sah Salat

Senin, 5 Maret 2018 | 07:00 WIB

Berita Terkait

Ulama Berbeda Soal Khusyuk Bukan Syarat Sah Salat
(Foto: Ilustrasi)

SEMUA orang pasti pernah mengalami tidak khusyuk saat melaksanakan salat. Pikiran menerawang ke mana-mana atau mungkin bersikap tidak tenang. Apakah sah salat seperti ini?

Ada perbedaan antara thumaninah (tenangnya organ fisik dalam salat saat ruku, sujud dan berdiri serta duduk) dengan khusyuk. Thumaninah terkait dengan ketenangan fisik. Khusyuk berhubungan dengan ketenangan hati dan konsentrasi. Jika ulama sepakat bahwa thumaninah itu rukun dan wajib dalam salat, maka mereka berbeda pendapat soal khusyuk, apakah dia wajib atau hanya sunah dalam salat.

Meski begitu penting, jika menelaah buku-buku fiqih, akan ditemukan secara umum khusyuk bukan termasuk rukun atau syarat sahnya salat. Namun demikian, sebenarnya ditilik buku-buku fiqih secara mendalam akan ditemukan, masalah ini tetap ada perbedaan di kalangan ulama. Ada sebagian ulama menyatakan khusyuk bukan syarat sahnya salat dan sebagian lainnya menyatakan ia menjadi syarat sahnya salat.

Pendapat pertama, menurut jumhur ulama, khusyuk bukan syarat sah salat atau rukunnya. Ia hanya sunah dalam salat. Jika tidak ada khusyuk dalam salat, maka tidak ada kewajiban menggantinya (mengqadla) atau mengulangnya. Namun pahalanya berkurang. Jadi tidak khusyuk itu tidak membatalkan salat.

Menurut Imam Nawawi, ijma ulama menyatakan khusyuk tidak wajib, karena tidak ada ulama yang menyatakan wajibnya khusyuk. Ibnu Hajar menambahkan, khusyuk merupakan penyempurna salat dan sunah dalam salat.

Ada juga pendapat cabang dari pendapat jumhur yakni Ar-Razi yang menyatakan, khusyuk adalah syarat sah dan bukan syarat diterimanya.

Pendapat kedua, menurut Imam Al-Ghazali, Ibnu Hamid (pengikut Imam Ahmad), Ibnu Taimiyah, khusyuk hukumnya wajib dalam salat. Pendapat ini berdasarkan sejumlah dalil:

Firman Allah, "Maka apakah mereka tidak mentadabburkan (memperhatikan) Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya," (QS An-Nisa: 82).

Tadabbur hanya bisa dengan khusyuk. "Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku," (QS Thaha: 14).

Tujuan salat adalah untuk mengingat Allah dan itu hanya bisa dicapai dengan khusyuk.
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai," (QS Al-Araf: 205).

Dalam ayat ini Allah melarang Rasulullah agar tidak menjadi orang yang lalai, terutama dalam salat. Sementara lalai notabene bertentangan dengan khusyuk. Dalil lain adalah beberapa hadis Nabi. Di antaranya Rasulullah bersabda, "Sungguh seorang hamba salat dengan satu salat, tidak ditulis baginya (pahala) seperenam atau sepersepuluhnya. Namun salatnya ditulis apa yang dipahaminya," (Hilyatul auliya).

Dari Muadz bin Jabal, ia berkata, "Barangsiapa yang mengetahui orang di sebelah kanan atau kirinya dalam salat secara sengaja maka dia tidak salat."

Hasan Al-Bashri berkata, "Setiap salat yang tidak ada hati yang hadir di dalamnya, maka dia lebih cepat mendapatkan siksa."

Abdul Wahid bin Zaid, "Ulama sepakat bahwa seseorang tidak mendapatkan dari salatnya kecuali yang dia pahami."

Ibnu Taimiyah menegaskan, "Dan mintalah tolong dengan kesabaran dan salat karena sesungguhnya itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (QS Al-Baqarah: 45). Ayat ini menyatakan celaan bagi orang yang tidak khusyu, seperti halnya celaan dalam ayat lainnya tentang kiblat.

"Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah," (QS Al-Baqarah: 143). Celaan dalam ayat ini terjadi karena mereka meninggalkan hal yang wajib.

Ayat lain menegaskan, "Sungguh bahagia orang-orang beriman yang mereka dalam salatnya khusyuk," (QS Al-Mukminun: 1-2). Artinya, surga Firdaus hanya diwarisi oleh mereka yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan di antaranya khusyu dalam salat. Surga diperoleh dengan hal-hal yang wajib bukan yang mustahab (dianjurkan)."

Selain itu menurut pendapat ini, dalil khusyu itu ada dua: lahir dan batin. Karenanya, Umar pernah melihat seseorang yang mempermainkan sesuatu dalam salatnya, maka beliau mengatakan, "Jika hatinya khusyu maka organnya juga khusyu."

Dalil Khusyuk Hanya Sunah Bukan Wajib

Rasulullah memerintahkan orang yang lupa salat untuk sujud sahwi dan tidak memerintahkan untuk mengulang.

Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba selesai dari salatnya dan dia tidak mendapatkan dari salatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, atau setengahnya," (Musykilul atsar).

Selain itu, ijma ulama menyatakan bahwa khusyu bukan syarat salat.

Dalam hadis lain ditegaskan,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika azan salat dikumandangkan, setan mundur dengan terkentut-kentut sehingga dia tidak mendengar azan. Jika azan selesai, dia datang lagi. Jika diiqamati dia mundur lagi. Jika selesai iqamah, dia datang lagi sehingga mengganggu antara manusia dengan dirinya. Setan berkata, "Ingat ini ingat itu." Sampai dia (manusia) tidak ingat hingga berapa rakaat dia salat. Jika seseorang mendapatkan seperti itu, maka hendaklah dia sujud dua kali pada saat dia dalam keadaan duduk," (HR Bukhari, Muslim dll).

Karena itu, dalam Al-Minhaj dan sharahnya oleh Ibnu Hajar ditegaskan, disunahkan khusyu dalam salat dengan hatinya dimana tidak menghadirkan apapun selain salat.

Jadi salat tetap sah dan cukup, dan ini bukan masalah pahala dan diterimanya. Ar-Razi berkata, "Kehadiran hati menurut kami adalah syarat kecukupan sahnya (ijza) dan bukan syarat diterimanya. Yang dimaksud ijza adalah tidak wajib diqadla dan yang dimaksud syarat diterima adalah hukum pahalanya."

Al-Alusi berkata, "Berdasarkan pendapat ini maka khusyu adalah syarat sah namun hanya di sebagian salat. Jika tidak bisa sama sekali maka salatnya batal. Sebab ruh salat adalah khusyu. Jika salat tidak ada ruhnya, maka dia ditolak."

Perkataan Al-Alusi ini agaknya merupakan usaha kompromi dari kedua pendapat antara yang mewajibkan dan menyunahkan. Pernyataan itu juga berusaha menekan pentingnya khusyu dalam salat. wallahu alam. [salam-online]

Komentar

Embed Widget
x