Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 Juni 2018 | 23:20 WIB
 

Pemimpin Wajib Berantas Kezaliman

Oleh : - | Kamis, 1 Maret 2018 | 16:00 WIB
Pemimpin Wajib Berantas Kezaliman
(Foto: Ilustrasi)

SETIAP pemimpin berkewajiban untuk menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, dan menerapkan hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan hak dan kewajiban rakyat yang dipimpinnya. Inilah yang tergambar dari kisah di bawah ini.

Saat seorang raja yang dikenal arif dan bijak didatangi seorang lelaki tua yang mengaku harta miliknya telah dirampas oleh seseorang yang sangat kuat, dan ia tidak mampu untuk melawan. Lelaki tua tersebut ingin sang pemimpin membantunya.

Raja yang arif itu kemudian mengikuti langkah si lelaki tua dan menghampiri orang yang disebut lelaki tua sebagai orang yang merampas haknya. Orang muda yang memiliki badan besar itupun mengetahui kehadiran sang raja, ia pun mengakui perbuatan yang telah ia lakukan terhadap lelaki tua dan mengembalikan barang rampasannya.

Melihat keadaan itu, sang raja pun berlalu meninggalkan kedua rakyatnya itu dan berniat kembali berkeliling kota. Namun hal tersebut urung dilakukan. Karna saat sang raja baru beberapa langkah meninggalkan kedua lelaki itu, ternyata orang muda berbadan besar tidak terima karena si lelaki tua mengadu pada sang raja. Lantas orang muda itu pun marah dan menampar si lelaki tua. Suasana pun menjadi gaduh.

Sang raja yang masih beberapa langkah meninggalkan tempat itu pun kembali. Melihat si lelaki tua di tampar oleh pemuda itu, sang raja menyuruh lelaki tua untuk menampar balik si pemuda. Berdalih sudah memaafkan si pemuda, lelaki tua urung menampar balik. Padahal ia hanya takut jika ia menampar balik, si pemuda akan lebih bersikap kasar padanya sepeninggal raja.

Sebagai pemimpin, sang raja peka bahwa lelaki tua itu tidak ikhlas mengucapkan kata maaf dan dia merasa harus menegakkan keadilan. Dan tiba-tiba sang raja menampar orang muda itu sampai ia tersungkur. Pemuda itu menjadi sangat heran, bagaimana mungkin sang raja menamparnya sedang sang lelaki tua telah memaafkannya. Ia sama sekali tidak menduga mendapatkan tamparan dari sang raja yang dikenal arif dan bijaksana.

"Meskipun lelaki tua itu sudah memaafkanmu, tamparan ini harus tetap dilakukan sebagai tuntutan hukum. Ini adalah hak seorang pemimpin dalam menegakkan hukum dan keadilan," kata sang raja dengan tegas. [Chairunnisa Dhiee]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x