Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 13:47 WIB

Manakah Versi Teknik Salat yang Paling Benar?

Kamis, 1 Maret 2018 | 09:00 WIB

Berita Terkait

Manakah Versi Teknik Salat yang Paling Benar?
(Foto: Ilustrasi)

PERTANYAAN ini sangat menarik dan tentunya juga mewakili sekian banyak saudara kita yang punya pertanyaan yang sama. Dan memang masalah ini seringkali menggelitik rasa ingin tahu kita. Sebab agak jarang dijelaskan secara utuh. Karena itu mohon maaf kalau penjelasan ini dirasa agak bertele-tele dan membosankan. Namun kami maksudkan agar dapat menjawab rasa ingin tahu Anda.

Mana yang benar? Kita agak kesulitan untuk menjawab pertanyaan polos ini. Mengapa kesulitan? Karena seandainya kebenaran itu jelas dan tegas, tentu tidak akan muncul beberapa versi. Pasti akan muncul satu versi saja.

Quran dan Hadits: Belum Rinci dan Sistematis Membahas Salat

Munculnya beberapa versi teknik shalat yang ada di beberapa mazhab justru sebenarnya berangkat dari ketidak-jelasan dalil Quran dan Sunnah itu sendiri. Bukan berarti kami mengatakan bahwa keduanya tidak lengkap, tetapi masih membutuhkan pola tertentu untuk mengeluarkan hukumnya. Seandainya di dalam Alquran ada petunjuk detail, lengkap, padat, rinci, sempurna dan siap pakai tentang teknis gerakan dan bacaan shalat, tentu tidak akan ada banyak variasi gerakan shalat. Demikian juga, seandainya ada satu kitab hadits yang sudah dipastikan seluruhnya shahih, lalu di dalamnya dijelaskan semua detail teknis shalat tanpa adanya dua atau beberapa hadits yang saling bertentangan isinya, maka masalahnya pasti sudah selesai. Namun kenyataannya, semua itu tidak terjadi. Alquran bukanlah kitab petunjuk detail tentang shalat, begitu juga semua kitab hadits.

Beda Pendapat Untuk Mensahihkan

Bahkan hadits-hadits itu sebagian besarnya masih harus dikritisi tentang keshahihannya. Yang dishahihkan oleh Imam Al-Bukhari baru 4 ribuan hadits saja dari jutaan hadits. Sebanarnya jumlah hadits dalam kitab itu ada 7 ribuan, tapi sebagian besarnya terulang-ulang. Kalau diringkas tanpa diulang, ternyata hanya ada sekitar 4 ribuan saja. Hadits-hadits selebihnya tidak dishahihkan oleh beliau, namun dishahihkan oleh imam yang lain. Sehingga muncul perbedaan pendapat, karena terkadang sebuah hadits dishahihkan oleh seorang muhaddits, namun muhaddits lainnya menolak keshahihannya. Sayangnya lagi, justru yang kasusnya seperti ini sangat besar dan banyak jumlahnya. Jauh melebihih hadits yang sudah disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Sahih Tapi Satu Dengan Yang Lain Masih Mungkin Bertentangan

Dan yang sudah dishahihkan itu pun ternyata bukan semuanya tentang shalat. Kalau ada sebagiannya tentang shalat, ternyata isinya juga seringkali saling bertentangan. Maksud bertentangan adalah seperti yang anda katakan tadi. Misalnya ada hadits yang shahih menyebutkan bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat tangannya diletakkan di dada. Lalu ada lagi hadits shahih lainnya yang justru menyebutkan tangannya di perut, atau di bawah perut dan begitulah seterusnya. Semua kenyataan di atas telah memustahilkan keseragaman dalam aturan shalat. Semua dalil yang kita miliki telah membawa kita kepada perbedaan bentuk teknis shalat. Meski setiap kita telah bertekad untuk mengikuti tata cara shalat nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Tetapi hasilnya tidak pernah ada yang bisa dipastikan 100% kebenarannya. Dan sebaliknya, kita juga tidak bisa memvonis bahwa yang berbeda dengannya pasti 100% salah. Semua masuk dalam kerangka ihtimal.

Perbedaan Teknis Salat dalam 4 Mazhab: Sebuah Keniscayaan

Dengan demikian, bila kita dapati ada 4 mazhab yang berbeda tata cara shalatnya, kita bisa maklum. Bahkan di dalam satu mazhab pun sangat besar kemungkinan terjadinya perbedaan. Boleh dibilang bahwa perbedaan itu sudah merupakan kemestian yang tidak mungkin dihindarkan. Untuk itu pertanyaan semisal, "Mana yang benar atau mana yang salah?", menjadi kurang relevan. Mungkin yang lebih tepat adalah, "Mana yang paling rajih (lebih kuat) istidlalnya? Dan menurut siapa?"

Boleh jadi menurut kalangan mazhab A, tata cara shalat mereka adalah yang paling shahih dan paling sesuai dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Namun bisa saja menurut mazhab B, versi merekalah yang paling sesuai dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Yang menarik, meski saling berbeda, dahulu para imam mazhab sama sekali tidak pernah saling bermusuhan. Apalagi saling menjelekkan, saling tuding atau saling berghibah. Mereka adalah ulama yang sangat tidak mungkin berakhlaq serendah itu. Kedalaman ilmu mereka telah mencegah mereka terjebak ke dalam gaya arogan yang nista. Sifat mereka jauh berbeda dengan orang zaman sekarang yang sering mengklaim diri sebagai pengikut ulama, namun perilakunya justru bertentangan dengan sifat para ulama itu sendiri.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh. [Ahmad Sarwat, Lc]

Komentar

Embed Widget
x