Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 16 Oktober 2018 | 06:10 WIB

Tak Ada Istilah Pemerkosaan pada Istri Sendiri

Senin, 26 Februari 2018 | 07:00 WIB

Berita Terkait

Tak Ada Istilah Pemerkosaan pada Istri Sendiri
(Foto: Ilustrasi)

PERTANYAAN ini muncul dari seorang suami yang mengaku bahwa istrinya kerap kali menolak berhubungan intim dengannya. Bahkan sang istri sengaja memakai pakaian tebal dan celana berlapis-lapis menjelang mereka tidur. Hal ini tidak lepas dari pernikahan mereka yang merupakan hasil perjodohan. Lalu apakah ketika suami telah mencapai puncak hasratnya lalu memutuskan untuk memerkosa istrinya sendiri adalaha suatu dosa?

Menurut Ustaz Ahmad Sarwat Lc, hal ini secara sederhana bisa dijawab bahwa masih lebih jahat memerkosa istri orang lain dari pada istri sendiri. Sebab memerkosa istri orang hukumnya zina dan kejahatan sekaligus. Sedangkan memperkosa istri sendiri, meski zalim tetapi tidak ada kaitannya dengan dosa zina. Sebab istri itu halal disetubuhi. Bahkan salah satu dari tujuan pernikahan adalah untuk menyalurkan hasrat seksual manusiawi secara halal.

Maka istilah pemerkosaan kepada istri sendiri adalah sebuah kesalahan. Sebab tidak ada pemerkosaan pada istri sendiri, karena istri itu halal disetubuhi. Kalau pun ada yang tidak beres atau bersifat pemaksaan, maka istilahnya bukan pemerkosaan. Kita memang seringkali menemukan kasus seperti ini, yaitu seorang istri tidak suka pada suaminya, sampai tidak mau melayaninya secara lahir batin. Tentu kami tidak mungkin begitu saja menyalahkan istri secara sepihak, juga tidak mungkin menyalahkan suami secara sepihak. Sebab boleh jadi masing-masing pihak punya faktor kesalahan, namun merasa dirinya benar.

Jalan keluarnya tentu dialog antara keduanya. Tentu harus dicari suasananya yang romantis, santai, tidak emosional dan elegan. Urusan rumah tangga seperti ini memang aneh bin ajaib, karena melibatkan faktor rasa, emosi dan suasana hati. Jauh sekali dari logika dan akal. Terkadang kalau dialog macet dan menemukan jalan buntu, dibutuhkan pihak ketiga yang saleh dan bertakwa untuk melincinkan jalan diplomasi. Hal ini sangat dimungkinkan dan harus disegerakan, sebelum segala sesuatunya terlambat.

Sebab selama masa konflik seperti ini, kedua belah pihak akan memanen begitu banyak dosa dan maksiat. Mulai dari istri menolak ajakan suami yang akan kena laknat malaikat sejak malam hingga subuh, hingga dosa menyebarkan aib pasangan kepada orang lain. Seorang istri kalau sudah sampai kepada stigma tidak mau disetubuhi suaminya, maka azab besar sudah menjelang, baik di dunia apalagi akhirat. Mengapa demikian?

Karena akan terjadi efek domino. Misalnya, suami jadi tidak bisa menyalurkan hasrat seksualnya, lalu mungkin saja akan jatuh ke lembah perzinaan, atau kawin lagi diam-diam, atau membangun hubungan TTM (teman tapi mesra) dan seterusnya. Ini yang kami bilang mendatangkan azab lebih besar. Lebih jauh lagi, istri pun demikian, sangat mungkin dia akan curhat kepada orang lain, atau mencari pelampiasan kepada orang lain, ujung-ujungnya zina juga.

Maka yang paling murah, efisien, cerdas dan ringan adalah mengatur ulang stigma tersebut. Carilah akar-akar masalah mengapa seorang istri sampai punya stigma sejauh itu. Kesalahan mungkin bukan pada istri seorang, tetapi boleh jadi justru datang dari suami 100%. Artinya, faktor penyebab istri tidak mau melayani suami karena sikap suami yang kurang berkenan di hati istri. Kalau faktor penyebabnya sudah ditemukan, maka mulailah perbaikan-perbaikannya. Jangan gunakan emosi tapi akal sehat. Sebab emosi teman setan sedangkan akal sehat adalah anugerah Allah Ta'ala yang sangat besar nilainya.

Wallahu alam bishshawab, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. []

Komentar

Embed Widget
x