Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 15 Desember 2018 | 14:41 WIB

Hukum Meluruskan Saf, Wajib atau Sunah?

Rabu, 21 Februari 2018 | 07:00 WIB

Berita Terkait

Hukum Meluruskan Saf, Wajib atau Sunah?
(Foto: Istimewa)

JUMHUR ulama (mayoritas) berpandangan bahwa hukum meluruskan shaf adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Hazm, Imam Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy-Syaukani menganggap meluruskan shaf itu wajib.

Dalil kalangan yang mewajibkan adalah berdasarkan riwayat An-Numan bin Basyir radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih." (HR. Bukhari, no. 717 dan Muslim, no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih." (Syarh Shahih Muslim, 4:157)

Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al-Lajnah Ad-Daimah) ditanya, "Apa hukum menaruh garis di atas alas atau sajadah di masjid. Dikarenakan kiblat sedikit melenceng dengan maksud untuk mengatur shaf?"

Jawaban para ulama Lajnah, "Hal itu tidaklah masalah. Kalau mereka shalat tanpa garis juga tidak mengapa. Karena sedikit miring tidaklah masalah." [Yang menandatangani fatwa: Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6:315]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, "Menempelkan mata kaki satu dan lainnya tak ragu lagi ada dalilnya dari para sahabat radhiyallahu anhum. Karena dahulu mereka meluruskan shaf dengan merapatkan mata kaki mereka dengan lainnya. Jadi lurusnya shaf didapati dengan menempelkan mata kaki satu dan lainnya. Ini dilakukan ketika membuat shaf dan orang-orang telah berdiri. Jadi menempelkan tadi dengan maksud untuk membuat shaf lurus saja. Bukanlah maknanya harus menempelkan dengan rapat yang terus dituntut dilakukan sepanjang shalat. Termasuk bentuk berlebihan yang dilakukan oleh sebagian orang adalah menempelkan mata kaki dengan mata kaki saja yang dicari sedangkan untuk pundak terdapat celah. Seperti ini malah menyelisihi ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Yang dimaksud merapatkan di sini adalah antara pundak dan mata kaki itu sama."

[Referensi Utama: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali/ Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

Embed Widget
x