Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 16 Oktober 2018 | 06:27 WIB

Lima Anugerah Berzikir "Allahu Akbar"

Senin, 19 Februari 2018 | 09:00 WIB

Berita Terkait

Lima Anugerah Berzikir
(Foto: Istimewa)

Ibnu Athaillah As Sakandary berkata tentang zikir Allahu Akbar. Allahu Akbar di dalamnya ada lima perspektif:

Pertama: Dalam Allahu Akbar ada penyebutan Allah Ta'ala pada diriNya, pentauhidan, pengagungan dan penghormatan atas keagunganNya, yang lebih agung dan lebih besar dibandingkan penyebutan makhlukNya yang lemah, sangat butuh, dan pentauhidan makhluk kepadaNya. Karena Allah swt-lah Yang Maha Mencukupi dan Maha Terpuji.

Kedua: Zikir dengan nama Allah Akbar tersebut lebih agung dibanding zikir dengan Asma'-asmaNya yang lain.

Ketiga: Bahwa zikirnya Allah Ta'ala pada hambaNya di zaman Azali sebelum hambaNya ada, adalah zikir teragung dan terbesar, yang menyebabkan zikirnya hamba saat ini. Zikirnya Allah Ta'ala tersebut lebih dahulu, lebih sempurna, lebih luhur, lebih tinggi, lebih mulia dan lebih terhormat. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Niscaya Zikirnya Allah itu lebih besar."

Keempat: Sebenarnya mengingat Allah swt, di dalam salat lebih utama dan lebih besar dibanding mengingatNya di luar salat. Menyaksikan (musyahadah) pada Allah Ta'ala (Yang Diingat) di dalam salat lebih agung dan lebih sempurna serta lebih besar ketimbang salatnya.

Kelima: Bahwa mengingat Allah atas berbagai nikmat yang agung dan anugerah mulia, serta doronganNya kepadamu melalui ajakanNya kepadamu agar taat kepadaNya, adalah nikmat paling besar dibanding dzikir anda kepadaNya, dengan mengingat nikmat-nikmat itu, karena anda semua tidak akan pernah mampu mensyukuri nikmatNya.

Karena itu Nabi Muhammad saw, bersabda: "Aku tidak mampu memuji padaMu, Engkau, sebagaimana Engkau memujiMu atas DiriMu." Artinya, "aku tidak mampu," padahal beliau adalah makhluk paling tahu, paling mulia, dan paling tinggi derajatnya dan paling utama. Justru Nabi saw, menampakkan kelemahannya, padahal beliau adalah paling tahu dan paling ma'rifat - semoga sholawat dan salam Allah melimpah padanya dan keluarganya -.

Setelah kita mentauhidkan Allah swt, yang dinilai lebih agung ketimbang salat, sehingga salat menjadi rukun Islam yang kedua. Dalam sabda Rasulullah saw: "Islam ditegakkan atas lima: Hendaknya menunggalkan Allah dan menegakkan salat dst". Takbiratul Ihram dijadikan sebagai pembukanya, Allahu Akbar.

Allah tidak menjadikan salah satu Asma-asma'Nya yang lain, untuk Takbirotul Ihrom, kecuali hanya Allahu Akbar. Karena Nabi saw, melarangnya, demikian juga untuk Lafadz Azan, tetap menggunakan takbir tersebut, begitu pun setiap takbir dalam gerakan salat. Jadi Nama agung tersebut lebih utama dibanding Nama-nama lainnya, lebih dekat bagi munajat-munajat, bukan hanya dalam salat atau lainnya.

Dalam hadis disebutkan: "Aku berada pada dugaan hambaKu apabila hamba berzikir padaKu. Maka apabila ia berzikir kepadaKu dalam jiwanya, Aku mengingatnya dalam JiwaKu. Dan jika ia berzikir padaKu dengan kesendirianNya, maka Aku pun mengingat dengan KemahasendirianKu. Dan jika ia berzikir di tengah padang (keramaian) maka Aku pun mengingatnya di keramaian lebih baik darinya."

Allah swt. Berfirman: "Zikirlah kepadaKu maka Aku berzikir kepadamu."

Hal yang menunjukkan keutamaan zikir dibanding salat dari esensi ayat tersebut, yaitu firman Allah swt: "Sesungguhnya salat itu mencegah keburukan dan kemungkaran."

Yang walau demikian merupakan zikir teragung, namun zikir "Allah" itu lebih besar daripada salat dan dibanding setiap ibadah Abu Darda' meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda:

"Ingatlah, maukah aku beri kabar kalian tentang amal terbaikmu dan lebih luhur dalam derajatmu, lebih bersih di hadapan Sang Rajamu, dan lebih baik bagimu ketimbang memberikan emas dan perak, dan lebih baik ketimbang kalian bertemu musuhmu lalu bertempur di mana kalian memukul leher mereka dan mereka pun membalas memukul lehermu?" Mereka menjawab, "Ya, kami mau.." Rasulullah saw, bersabda, "Zikrullah."

Juga dalam hadis yang diriwayatkan Mu'adz bin Jabal : "Tak ada amal manusia mana pun yang lebih menyelamatkan baginya dari azdab Allah, dibanding zikrullah."

Makna zikrullah bagi hambaNya adalah bahwa yang berzikir kepadaNya itu disertai Tauhid, maka Allah mengingatnya dengan surga dan pahala. Lalu Allah swt berfirman : "Maka Allah memberikan balasan kepada mereka atas apa yang mereka katakan, yaitu surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya."

Dengan zikir melalui Ismul Mufrad, yaitu Allah, dan berdoa dengan ikhlas kepadaNya, Allah swt berfirman : "Dan apabila hambaKu bertanya kepadaKu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat"

Siapa yang berzikir dengan rasa syukurnya, Allah memberikan tambahan ni'mat berlimpah : "Bila kalian bersyukur maka Aku bakal menambah (ni'matKu) kepadamu"

Tak satu pun hamba Allah yang berzikir melainkan Allah mengingat mereka sebagai imbalan padanya. Bila sang hamba adalah seorang 'arif (orang yang ma'rifat) berzikir dengan kema'rifatannya, maka Allah swt, mengingatnya melalui penyingkapan hijab untuk musyahadahnya sang 'arif.

Bila yang berzikir adalah mukmin dengan imannya, Allah swt, mengingatnya dengan rahmat dan ridloNya. Bila yang berzikir adalah orang yang taubat dengan pertaubatannya, Allah swt, mengingatnya dengan penerimaan dan ampunanNya. Bila yang berzikir adalah ahli maksiat yang mengakui kesalahannya, maka Allah swt, mengingatnya dengan tutup dan pengampunanNya.

Jika yang berzikir adalah sang penyimpang dengan penyimpangan dan kealpaannya, maka Allah swt mengingatnya dengan adzab dan laknatNya. Bila yang berzikir adalah si kafir dengan kekufurannya, maka Allah swt, mengingatnya dengan azab dan siksaNya.

Siapa yang bertahlil padaNya, Allah swt, menyegerakan diriNya padanya

Siapa yang bertasbih, Allah swt, membagusinya

Siapa yang memujiNya Allah swt, mengukuhkannya.

Siapa yang mohon ampun padaNya, Allah swt mengampuninya.

Siapa yang kembali kepadaNya, Allah swt, menerimanya.

Kondisi sang hamba itu berputar pada empat hal:

Pertama: Ketika dalam keadaan taat, maka Allah swt, mengingatkannya dengan menampakkan anugerah dalam taufiqNya di dalam taat itu.

Kedua: Ketika si hamba maksiat, Allah swt mengingatkannya melalui tutup dan taubat.

Ketiga: Ketika dalam keadaan meraih nikmat, Allah swt mengingatkannya melalui syukur kepadaNya.

Keempat: Ketika dalam cobaan, Allah mengingatkannya melalui sabar.

Karena itu dalam zikrullah ada lima anugerah :

1. Adanya Rida Allah swt.

2. Adanya kelembutan kalbu.

3. Bertambahnya kebaikan.

4. Terjaga datri godaan setan.

5. Terhalang dari tindak maksiat.

Siapa pun yang berzikir, Allah pasti mengingat mereka.

Tak ada kema'rifatan bagi kaum a'rifin, melainkan karena pengenalan Allah swt kepada mereka.Dan tak seorang pun dari kalangan Muwahhidun (hamba yang manunggal) melainkan karena ilmunya Allah kepada mereka.Tak seorang pun orang yang taat kepadaNya, kecuali karena taufiqNya kepada mereka. Tak ada rasa cinta sang pecinta kepadaNya, kecuali karena anugerah khusus CintaNya kepada mereka.

Tak seorang pun yang kontra kepada Allah swt, kecuali karena kehinaan yang ditimpakan Allah swt, kepada mereka.Setiap nikmat dariNya adalah pemberian. Dan setiap cobaan dariNya adalah ketentuan. Sedangkan setiap rahasia tersembunyi yang mendahului, akan muncul secara nyata di kemudian hari.

Perlu diketahui bahwa kalimat tauhid merupakan sesuatu antara penafiaan dan penetapan. Awalnya adalah "Laa Ilaaha", yang merupakan penafian, pembebasan, pengingkaran, penentangan, dan akhinya adalah "Illallah", sebagai kebangkitan, pengukuhan, iman, tahid, ma'rifat, Islam, syahadat dan cahaya-cahaya.

"Laa" adalah menafikan semua sifat Uluhiyah dari segala hal yang tak berhak menyandangnya dan tidak wajib padanya. Sedangkan "Illallah" merupakan pengukuhan Sifat Uluhiyah bagi yang berhak dan wajib secara hakikat.

Secara maknawi terpadu dalam firman Allah swt : "Siapa yang kufur pada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka benar-bvenar telah memegang teguh tali yang kuat."

"Laa Ilaaha Illallah", untuk umum berarti demi penyucian terhapad pemahaman mereka,.dari kejumbuhan khayalan imajiner mereka, untuk suatu penetapan atas Kemaha-Esaan, sekalgus menafikan dualitsme.

Sedangkan bagi kalangan khusus sebagai penguat agama mereka, menambah cahaya harapan melalui penetapan zat dan sifat, menyucikan dari perubahan sifat-sifat baru dan membuang ancaman bahayanya.Untuk kalangan lebih khusus, justru sebagai sikap tanzih (penyucian) terhadap perasaan mampu berzikir, mampu memandang anugerah serta fadhal dan mampu bersyukur, atas upaya syukurnya. []

Komentar

Embed Widget
x