Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 01:50 WIB

Adakah Tuntunan Zikir Berjemaah?

Jumat, 16 Februari 2018 | 06:00 WIB

Berita Terkait

Adakah Tuntunan Zikir Berjemaah?
(Foto: ilustrasi)

SEBAGIAN umat Islam ada yang mempertanyakan dalil zikir berjemaah yang sering dijumpai di majelis-majelis pengajian.

Sebagian dari kita mungkin pernah melihat atau mengikuti majelis zikir berjemaah semacam ini. Zikir berjemaah ini dilakukan dengan dipimpin seorang imam atau ustadz, yang kemudian diikuti secara serempak dan bersama-sama oleh jemaah yang hadir. Tak jarang bacaan zikir ini dilantunkan seperti nyanyian dalam paduan suara. Dan yang tak kalah memprihatinkan adalah adanya ikhtilath atau campur baur antara laki-laki dan perempuan dalam satu majelis.

Beberapa waktu lalu, zikir berjemaah sempat menjadi tren di masyarakat kita. Banyak orang menyibukkan diri dengan mempersiapkan pakaian putih yang seragam dengan kelompoknya untuk dapat mengikuti acara zikir berjemaah yang digelar di sebuah masjid atau di suatu tempat tertentu. Bahkan hingga kini pun, beberapa stasiun televisi ada yang secara rutin menayangkan acara zikir berjemaah ini.

Menurut tim fikih wanita, amalan membaca zikir secara berjemaah dengan dikomando oleh seorang imam atau ustaz, tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Amalan seperti ini merupakan amalan yang menyelisihi sunah, karena Rasulullah tidak pernah mengajarkannya. Tidak ditemukan satupun hadis sahih tentang zikir setelah salat yang meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengomando jemaahnya untuk berzikir, apalagi dengan melantunkan zikir tersebut menyerupai nyanyian.

Yang disunahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah membaca zikir sendiri-sendiri dengan mengeraskan suara. Bukan dengan koor seperti yang sering kita jumpai selama ini di majelis-majelis zikir berjemaah.

Diriwayakan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata: "Mengeraskan suara ketika berzikir setelah salat fardhu merupakan perkara yang dilakukan pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam." (Muttafaqun alaihi).

Dalam riwayat ini, Ibnu Abbas menerangkan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya biasa mengeraskan suara pada saat berzikir setelah salat sampai-sampai orang-orang yang berada di sekitar masjid mengetahui bahwa mereka telah selesai salat (sudah salam).

Dalam hadits ini pula terkandung makna bahwa Rasulullah tidak mengajarkan untuk zikir secara berjemaah, akan tetapi duduk bersama untuk berzikir sendiri-sendiri dengan mengeraskan suara. Inilah sunnah, dan inilah makna majelis zikir yang sesungguhnya. [fikihwanita]

Komentar

Embed Widget
x