Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 27 Mei 2018 | 21:00 WIB
 

Awas! Nyanyian & Senandung Syair untuk Menyesatkan

Oleh : - | Rabu, 14 Februari 2018 | 15:00 WIB
Awas! Nyanyian & Senandung Syair untuk Menyesatkan
(Foto: Ilustrasi)

ALLAH Ta'ala berfirman: "Dan di antara manusia (ada) yang mempergunakan lahwul hadis untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan." (QS Luqman: 6)

Mengenai ayat ini Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu berkata bahwa Lahwa hadis dalam ayat ini berarti "Nyanyian". Ibnu Masud radhiallahu 'anhu menerangkan bahwa Lahwal hadis itu adalah al-Ghina (nyanyian).

Allah berfirman: "Maka apakah kamu merasa heran dengan pemberitaan ini dan kamu mentertawakan dan tidak menangis sedang kamu bernyanyi-nyanyi." (QS An-Najm: 59-60)

Kata Ikrimah radhiallahu 'anhu dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu bahwa kata "As-Sumud" dalam akhir ayat ini berarti Al-Ghina menurut dialek Himyar. Dia menambahkan bahwa jika mendengar Alquran dibacakan, mereka bernyanyi-nyanyi, maka turunlah ayat ini. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari sahabat Abi Amir dan Abi Malik Al Asyari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan muncul dari kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan farj (perzinahan), sutra, khamar dan alat-alat musik." (lihat Fatul Bari, 10/51).

Nyanyian dan musik merupakan dua pintu yang dilalui setan untuk merusak hati dan jiwa. Kaitannya dengan hal itu, Imam Al-Hafiz Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: "Di antara tipu daya setan musuh Allah dan di antara jerat yang dipasangnya untuk orang yang sedikit ilmu, akal dan agamanya, sehingga orang yang bersangkutan tersebut terjebak kedalamnya untuk mendengarkan kidung dan nyanyian yang diiringi musik yang diharamkan. Satu hal yang mengherankan adalah sebagian manusia yang mengaku memiliki konsentrasi untuk ibadah justru telah menjadikan nyanyian, tarian dan lagu-lagu lain sebagai wahana untuk beribadah sehingga mereka meninggalkan Alquran.

Ibnu Qayyim dalam kitabnya "Ighatsatul-Lahfan min Mashayidisy-Syaithan" menamai nyanyian seperti itu dengan sepuluh nama, yaitu: lahwun (main-main), laghwun (pekerjaan sia-sia), zuur (kebathilan), muka (siulan), tasydiah (tepuk tangan), ruqyatuz-zina (jimat dalam perzinahan), pedomannya setan, penumbuh nifak didalam hati, suara kedunguan, suara yang penuh dosa, suara setan atau seruling setan.

Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan yaitu: Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadis Aisyah: "Suatu ketika Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam masuk ke bilik Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: " dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi."), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: "Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini." (HR. Bukhari)

Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada saat pernikahan." (Hadis sahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita. Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat, terutama jika di dalamnya terdapat doa.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyenandungkan syair Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung: "Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin." Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain: "Kita telah membaiat Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad." Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersenandung dengan syair Ibnu Rawahah yang lain: "Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan salat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu (musuh). Orang-orang musyrik telah mendurhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah maka kami menolaknya." Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung "Kami menolaknya, kami menolaknya." (Muttafaq Alaih)

Komentar

 
Embed Widget

x