Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 25 Februari 2018 | 20:23 WIB
 

Apabila Neraka Melihat Mereka dari Tempat Jauh

Oleh : - | Senin, 12 Februari 2018 | 15:00 WIB
Apabila Neraka Melihat Mereka dari Tempat Jauh
(Foto: ilustrasi)

ABDURRAHMAN bin Ajlan bercerita: "Suatu malam aku menginap di rumah ar-Rabi. Ketika dia merasa yakin bahwa aku telah tertidur, beliau bangun lalu salat sambil membaca ayat: "Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalat, baik di masa hidupnya dan sesudah matinya? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu." (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Beliau menghabiskan sepanjang malamnya untuk shalat dan mengulang-ulang ayat tersebut hingga fajar, sementara air mata membahasi kedua pipinya. Berita tentang rasa takut Rabi bin Khutsaim kepada Allah begitu banyak, di antara contohnya adalah kisah yang diceritakan seorang kawannya:

"Suatu hari kami pergi menyertai Abdullah bin Masud ke suatu tempat bersama ar-Rabi bin Khutsaim. Tatkala perjalanan kami sampai di tepi sungai Eufrat, kami melewati suatu perapian besar tempat membakar batu bata. Apinya menyala berkobar-kobar, terbayang akan kengeriannya, semburan apinya menjilat dengan dahsyatnya, gemuruh suara percikan apinya dan gemertak batu bata yang sudah dimasukkan ke dalamnya.

Tatkala melihat pemandangan itu, arRabi terpaku di tempatnya, tubuhnya mengigil dengan hebatnya lalu beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Taala: "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan." (QS. Al-Furqan: 13)

Hingga akhirnya beliau pingsan. Kami merawatnya hingga sadar kembali lalu membawanya pulang ke rumahnya." Ar-Rabi mengisi seluruh hidupnya untuk menanti kematian dan mempersiapkan bekal untuk menjumpainya. Pada saat ajal mendekatinya, putrinya menangis, lalu beliau berkata, "Apa yang membuatmu menangis Wahai putriku, padahal kebaikan tengah menanti di hadapan ayahmu?" Sebentar kemudian ruhnya kembali keharibaan Rabb-nya.

[Sumber: Mereka adalah Para Tabiin, Dr. Abdurrahman Raat Basya, At-Tibyan]

Komentar

 
Embed Widget

x