Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 26 Februari 2018 | 00:24 WIB
 

Karya adalah Umur ke Dua bagi Muslimin

Oleh : - | Jumat, 9 Februari 2018 | 12:00 WIB
Karya adalah Umur ke Dua bagi Muslimin
(Foto: ilustrasi)

HARIMAU mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading manusia mati meninggalkan meninggalkan karya. Ada beberapa karya para ulama yang banyak diterima di masyarakat. Allah mengabadikan karya mereka sekalipun jasad mereka sudah terkubur ratusan tahun silam.

Kitab Bulughul Maram, ditulis al-Hafidz Ibnu Hajar. Karya beliau bertahan hingga sekarang, sekalipun beliau telah meninggal tahun 852 H. Usia beliau 79 tahun, sementara karya beliau sudah menginjak usia 590an tahun. Kitab Riyadhus sholihin, ditulis oleh an-Nawawi. Karya beliau dimanfaatkan banyak masyarakat, meskipun beliau telah wafat tahun 676 H. Usia fisik beliau hanya 45 tahun, namun karya beliau hingga saat ini menginjak usia 765an tahun.

Subhanallah. Karya mereka jauh lebih panjang dibandingkan usia mereka. Itulah umur yang kedua, mereka hidup dengan karyanya, meskipun jasadnya telah terkubur di tanah. Karena itulah, para ulama memahami, bahwa ketika mereka membaca karya para pendahulunya, seolah dia sedang duduk bersama mereka.

Abdullah bin Mubarak pernah mengatakan, "Saya sedang duduk bersama para sahabat dan tabiin, dengan melihat dan membaca karya mereka dan kitab mereka." (Washaya wa Nashaih li Thalib al-Ilm, 55).

Mulailah berfikir untuk merencanakan umur yang kedua. Membangun karya yang bisa bermanfaat bagi umat, di saat kita sudah tiada. Kita bisa kembangkan sesuai potensi masing-masing. Tidak harus memaksakan diri jadi ustad atau dai. Jadi pioner kebaikan, atau wakaf yang bisa diabadikan atau sumber kebaikan apapun yang usianya panjang. Karya kita tetap hidup, meskipun jasad sudah tiada.

Demikian, Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Komentar

 
Embed Widget

x