Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 26 Mei 2018 | 19:06 WIB
 

Otete dan Ote-ote yang Dikenal Sepanjang Zaman

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 8 Februari 2018 | 00:04 WIB
Otete dan Ote-ote yang Dikenal Sepanjang Zaman
(Foto: Istimewa)

MASYARAKAT kelas bawah sangat akrab dengan jajanan gorengan bernama panggilan ote-ote. Saya, walau berada dalam diet carbo yang lumayan ketat, tak tahan uji jika bertemu dengan ote-ote hangat yang bersandingkan cabe dan petis khusus. Ya, itu adalah kue masyarakat awam.

Sementara itu, otete (OTT) adalah jajanan baru yang banyak dikonsumsi masyarakat kelas atas. OTT yang singkatan dari operasi tangkap tangan itu sangat populer kini. Sepertinya menjadi fenomena yang tak lagi mengejutkan publik karena sudah sering terjadi.

Publik banyak berkata: "kita tunggu saja siapa giliran berikutnya." Kalimat pendek ini menyiratkan makna yang cukup mengerikan, ada kesan bahwa yang belum tertangkap belum tentu tak melakukan hal yang sama dengan yang ditangkap.

Lalu mengapa negara yang bermoral dan beragama ini menjadi seperti ini? Ini salah satu pertanyaan jamaah pengajian siang tadi kepada saya. Jawaban singkat saya adalah karena moral dan agama tidak menjadi syarat menjadi pemimpin.

Di negeri ini ada beberapa TAS yang perlu dimiliki calon kepala atau calon pemimpin: intelektualiTAS, abiliTAS, kapabiliTAS dan dan profesionaliTAS. Namun TAS-TAS tersebut di atas tunduk serta ditentukan oleh TAS yang lain, yaitu ISI TAS. Yang terakhir inilah yang menjadi sumber bencana. Perburuan kekayaan materi kemudian menjadi olahraga politik yang paling ramai.

Sambil makan ote-ote, masyarakat hanya bisa geleng kepala sambil berkata lirih: "Di mana letak integritas dan akountabilitas?" Jawabannya: "Jelas bukan di dalam TAS." Salam, AIM. [*]

Komentar

 
Embed Widget

x