Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 26 Mei 2018 | 19:02 WIB
 

Ternyata Rasul Aqiqahi Dirinya Sendiri saat Dewasa

Oleh : - | Kamis, 8 Februari 2018 | 12:00 WIB
Ternyata Rasul Aqiqahi Dirinya Sendiri saat Dewasa
(Foto: Ilustrasi)

BARANGKALI muncul kegelisahan, ketika mendapati diri atau anak kita sudah mencapai usia dewasa, belum juga diakikahi. Karena Nabi shallallahualaihiwa sallam menyebutkan, bahwa seorang anak yang terlahir statusnya tergadai, sampai dia diakikahi.

Dari sahabat Samurah bin Jundub radliallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama." (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani).

Perlu kita ketahui, bahwa hukum akikah sebenarnya adalah sunah muakkadah. Terkait waktu pelaksanaannya, para ulama sepakat, bahwa waktu akikah yang paling afdhol adalah hari ketujuh kelahiran. Berdasarkan hadis dari sahabat Samurah bin Jundub di atas. Cara menghitungnya, dimulai sejak hari kelahiran, kemudian ditambah enam hari berikutnya.

Namun, bila tidak mampu, akikah boleh dilakukan setelahnya sampai ada kemampuan, meskipun si anak sudah mencapai dewasa. Hal ini berdasar pada perbuatan Nabi shallallahuaalaihi wa sallam, dimana beliau mengakikahi diri beliau sendiri di saat beliau sudah mencapai usia dewasa. Imam Tabrani meriwayatkan hadis yang menjadi dasar kesimpulan ini, "Bahwa Nabi shallallahuaalahi wa sallam meng-akikahi diri beliau sendiri, setelah beliau diutus menjadi Nabi." (Dinilai shahih oleh Syaikh Albani, dalam Silsilah As-Shahihah).

Inilah pendapat yang kami nilai kuat diantara persilangan pendapat ulama yang ada dalam masalah ini. Riwayat di atas, juga menunjukkan bolehnya seorang mengakikahi dirinya sendiri, apabila orangtuanya belum mengakikahi dirinya ketika kecil atau karena orangtuanya tidak mampu menunaikan akikah untuknya.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, "Seandanya kambing akikah disembelih sebelum atau setelah hari ketujuh, maka hukumnya sah. Adapun bila disembelih sebelum kelahiran, para ulama sepakat akikah tidak sah. Status kambing yang disembelih adalah sembelihan biasa (tidak teranggap sebagai akikah)." (Al-Majmu 8/411).

Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, "Waktu pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh kelahiran. Inilah waktu yang paling utama, yaitu hari ketujuh. Namun bila kambing akikah disembelih setelah hari ketujuh, tidak mengapa. Bahkan sampai satu atau dua tahun setelahnyapun tidak mengapa. Jika ayahnya belum menunaikan akikah anaknya, sementara anak tersebut ingin mengakikahi dirinya, inipun baik (sah). Meski sebenarnya akikah adalah tanggungan ayah, akan tetapi bila seorang ingin mengakikahi dirinya, atau mengakikahi ibu atau saudaranya, maka tidak mengapa." (Fatwa beliau bisa disimak di sini : https://www.binbaz.org.sa/noor/2817)

Wallahualam bis showab. [Ustadz Ahmad Anshori, Lc]

Komentar

 
Embed Widget

x